<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-32231529</id><updated>2012-02-19T06:31:40.642-08:00</updated><title type='text'>Cerpen Islami</title><subtitle type='html'>Kumpulan Arsip Cerpen Islami, Kisah-Kisah Islami. Bacaan ringan peneduh hati. Terima kasih bagi yang merasa tulisannya terlisting di sini. Koleksi dari Annida cerpen islami, juga akan anda temui di sini. Untuk berkontribusi, silakan kirim ke &lt;a href="mailto:cisituasik@yahoo.com"&gt;cisituastik@yahoo.com&lt;/a&gt;.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://cerpenislami.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenislami.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>gdz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>19</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32231529.post-115915040835518275</id><published>2006-09-24T19:13:00.000-07:00</published><updated>2006-11-24T06:49:37.366-08:00</updated><title type='text'>[Kisah Islami] Kasih Sepanjang Jalan</title><content type='html'>&lt;p style="margin-right: 36pt; margin-left: 36pt;"&gt;Di stasiun kereta api bawah tanah Tokyo, aku merapatkan mantel wol tebalku erat-erat. Pukul 5 pagi. Musim dingin yang hebat. Udara terasa beku mengigit. Januari ini memang terasa lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya. Di luar salju masih turun dengan lebat sejak kemarin. Tokyo tahun ini terselimuti salju tebal, memutihkan segenap pemandangan. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-right: 36pt; margin-left: 36pt;"&gt;Stasiun yang selalu ramai ini agak sepi karena hari masih pagi. Ada seorang kakek tua di ujung kursi, melenggut menahan kantuk. Aku melangkah perlahan ke arah mesin minuman. Sesaat setelah sekeping uang logam aku masukkan, sekaleng &lt;i&gt;capucino&lt;/i&gt; hangat berpindah ke tanganku. Kopi itu sejenak menghangatkan tubuhku, tapi tak lama karena ketika tanganku menyentuh kartu pos di saku mantel, kembali aku berdebar. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-right: 36pt; margin-left: 36pt;"&gt;Tiga hari yang lalu kartu pos ini tiba di apartemenku. Tidak banyak beritanya, hanya sebuah pesan singkat yang dikirim adikku, "Ibu sakit keras dan ingin sekali bertemu kakak. Kalau kakak tidak ingin menyesal, pulanglah meski sebentar, kakc". Aku mengeluh perlahan membuang sesal yang bertumpuk di dada. Kartu pos ini dikirim Asih setelah beberapa kali ia menelponku tapi aku tak begitu menggubris ceritanya. Mungkin ia bosan, hingga akhirnya hanya kartu ini yang dikirimnya. Ah, waktu seperti bergerak lamban, aku ingin segera tiba di rumah, tiba-tiba rinduku pada ibu tak tertahan. Tuhan, beri aku waktu, aku tak ingin menyesalc &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-right: 36pt; margin-left: 36pt;"&gt;Sebenarnya aku sendiri masih tak punya waktu untuk pulang. Kesibukanku bekerja di sebuah perusahaan swasta di kawasan Yokohama, ditambah lagi mengurus dua puteri remajaku, membuat aku seperti tenggelam dalam kesibukan di negeri sakura ini. Inipun aku pulang setelah kemarin menyelesaikan sedikit urusan pekerjaan di Tokyo. Lagi-lagi urusan pekerjaan. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-right: 36pt; margin-left: 36pt;"&gt;Sudah hampir dua puluh tahun aku menetap di Jepang. Tepatnya sejak aku menikah dengan Emura, pria Jepang yang aku kenal di Yogyakarta, kota kelahiranku. Pada saat itu Emura sendiri memang sedang di Yogya dalam rangka urusan kerjanya. Setahun setelah perkenalan itu, kami menikah. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-right: 36pt; margin-left: 36pt;"&gt;Masih tergambar jelas dalam ingatanku wajah ibu yang menjadi murung ketika aku mengungkapkan rencana pernikahan itu. Ibu meragukan kebahagiaanku kelak menikah dengan pria asing ini. Karena tentu saja begitu banyak perbedaan budaya yang ada diantara kami, dan tentu saja ibu sedih karena aku harus berpisah dengan keluarga untuk mengikuti Emura. Saat itu aku berkeras dan tak terlalu menggubris kekhawatiran ibu. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-right: 36pt; margin-left: 36pt;"&gt;Pada akhirnya memang benar kata ibu, tidak mudah menjadi istri orang asing. Di awal pernikahan begitu banyak pengorbanan yang harus aku keluarkan dalam rangka adaptasi, demi keutuhan rumah tangga. Hampir saja biduk rumah tangga tak bisa kami pertahankan. Ketika semua hampir karam, Ibu banyak membantu kami dengan nasehat-nasehatnya. Akhirnya kami memang bisa sejalan. Emura juga pada dasarnya baik dan penyayang, tidak banyak tuntutan. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-right: 36pt; margin-left: 36pt;"&gt;Namun ada satu kecemasan ibu yang tak terelakkan, perpisahan. Sejak menikah aku mengikuti Emura ke negaranya. Aku sendiri memang sangat kesepian diawal masa jauh dari keluarga, terutama ibu, tapi kesibukan mengurus rumah tangga mengalihkan perasaanku. Ketika anak-anak beranjak remaja, aku juga mulai bekerja untuk membunuh waktu. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-right: 36pt; margin-left: 36pt;"&gt;Aku tersentak ketika mendengar pemberitahuan kereta &lt;i&gt;Narita Expres&lt;/i&gt; yang aku tunggu akan segera tiba. Waktu seperti terus memburu, sementara dingin semakin membuatku menggigil. Sesaat setelah melompat ke dalam kereta aku bernafas lega. Udara hangat dalam kereta mencairkan sedikit kedinginanku. Tidak semua kursi terisi di kereta ini dan hampir semua penumpang terlihat tidur. Setelah menemukan nomor kursi dan melonggarkan ikatan syal tebal yang melilit di leher, aku merebahkan tubuh yang penat dan berharap bisa tidur sejenak seperti mereka. Tapi ternyata tidak, kenangan masa lalu yang terputus tadi mendadak kembali berputar dalam ingatanku. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-right: 36pt; margin-left: 36pt;"&gt;Ibu..ya betapa kusadari kini sudah hampir empat tahun aku tak bertemu dengannya. Di tengah kesibukan, waktu terasa cepat sekali berputar. Terakhir ketika aku pulang menemani puteriku, Rikako dan Yuka, liburan musim panas. Hanya dua minggu di sana, itupun aku masih disibukkan dengan urusan kantor yang cabangnya ada di Jakarta. Selama ini aku pikir ibu cukup bahagia dengan uang kiriman ku yang teratur setiap bulan. Selama ini aku pikir materi cukup untuk menggantikan semuanya. Mendadak mataku terasa panas, ada perih yang menyesakkan dadaku. "Aku pulang bu, maafkan keteledoranku selama inic" bisikku perlahan. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-right: 36pt; margin-left: 36pt;"&gt;Cahaya matahari pagi meremang. Kereta api yang melesat cepat seperti peluru ini masih terasa lamban untukku. Betapa masih jauh jarak yang terentang. Aku menatap ke luar. Salju yang masih saja turun menghalangi pandanganku. Tumpukan salju memutihkan segenap penjuru. Tiba-tiba aku teringat Yuka puteri sulungku yang duduk di bangku SMA kelas dua. Bisa dikatakan ia tak berbeda dengan remaja lainnya di Jepang ini. Meski tak terjerumus sepenuhnya pada kehidupan bebas remaja kota besar, tapi Yuka sangat ekspresif dan semaunya. Tak jarang kami berbeda pendapat tentang banyak hal, tentang norma-norma pergaulan atau bagaimana sopan santun terhadap orang tua. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-right: 36pt; margin-left: 36pt;"&gt;Aku sering protes kalau Yuka pergi lama dengan teman-temannya tanpa idzin padaku atau papanya. Karena aku dibuat menderita dan gelisah tak karuan dibuatnya. Terus terang kehidupan remaja Jepang yang kian bebas membuatku khawatir sekali. Tapi menurut Yuka hal itu biasa, pamit atau selalu lapor padaku dimana dia berada, menurutnya membuat ia stres saja. Ia ingin aku mempercayainya dan memberikan kebebasan padanya. Menurutnya ia akan menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Untuk menghindari pertengkaran semakin hebat, aku mengalah meski akhirnya sering memendam gelisah. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-right: 36pt; margin-left: 36pt;"&gt;Riko juga begitu, sering ia tak menggubris nasehatku, asyik dengan urusan sekolah dan teman-temannya. Papanya tak banyak komentar. Dia sempat bilang mungkin itu karena kesalahanku juga yang kurang menyediakan waktu buat mereka karena kesibukan bekerja. Mereka jadi seperti tidak membutuhkan mamanya. Tapi aku berdalih justru aku bekerja karena sepi di rumah akibat anak-anak yang berangkat dewasa dan jarang di rumah. Dulupun aku bekerja ketika si bungsu Riko telah menamatkan SD nya. Namun memang dalam hati ku akui, aku kurang bisa membagi waktu antara kerja dan keluarga. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-right: 36pt; margin-left: 36pt;"&gt;Melihat anak-anak yang cenderung semaunya, aku frustasi juga, tapi akhirnya aku alihkan dengan semakin menenggelamkan diri dalam kesibukan kerja. Aku jadi teringat masa remajaku. Betapa ku ingat kini, diantara ke lima anak ibu, hanya aku yang paling sering tidak mengikuti anjurannya. Aku menyesal. Sekarang aku bisa merasakan bagaimana perasaan ibu ketika aku mengabaikan kata-katanya, tentu sama dengan sedih yang aku rasakan ketika Yuka jatau Riko juga sering mengabaikanku. Sekarang aku menyadari dan menyesali semuanya. Tentu sikap kedua puteri ku adalah peringatan yang Allah berikan atas keteledoranku dimasa lalu. Aku ingin mencium tangan ibu.... &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-right: 36pt; margin-left: 36pt;"&gt;Di luar salju semakin tebal, semakin aku tak bisa melihat pemandangan, semua menjadi kabur tersaput butiran salju yang putih. Juga semakin kabur oleh rinai air mataku. Tergambar lagi dalam benakku, saat setiap sore ibu mengingatkan kami kalau tidak pergi mengaji ke surau. Ibu sendiri sangat taat beribadah. Melihat ibu khusu' tahajud di tengah malam atau berkali-kali mengkhatamkan alqur'an adalah pemandangan biasa buatku. Ah..teringat ibu semakin tak tahan aku menanggung rindu. Entah sudah berapa kali kutengok arloji dipergelangan tangan. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-right: 36pt; margin-left: 36pt;"&gt;Akhirnya setelah menyelesaikan semua urusan &lt;i&gt;boarding-pass&lt;/i&gt; di bandara Narita, aku harus bersabar lagi di pesawat. Tujuh jam perjalanan bukan waktu yang sebentar buat yang sedang memburu waktu seperti aku. Senyum ibu seperti terus mengikutiku.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Syukurlah,&lt;i&gt; Window-seat, no smoking area&lt;/i&gt;, membuat aku sedikit bernafas lega, paling tidak untuk menutupi kegelisahanku pada penumpang lain dan untuk berdzikir menghapus sesak yang memenuhi dada. Melayang-layang di atas samudera fasifik sambil berdzikir memohon ampunan-Nya membuat aku sedikit tenang. Gumpalan awan putih di luar seperti gumpalan-gumpalan rindu pada ibu. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-right: 36pt; margin-left: 36pt;"&gt;Yogya belum banyak berubah. Semuanya masih seperti dulu ketika terakhir aku meninggalkannya. Kembali ke Yogya seperti kembali ke masa lalu. Kota ini memendam semua kenanganku. Melewati jalan-jalan yang dulu selalu aku lalui, seperti menarikku ke masa-masa silam itu. Kota ini telah membesarkanku, maka tak terbilang banyaknya kenangan didalamnya. Terutama kenangan-kenangan manis bersama ibu yang selalu mewarnai semua hari-hariku. Teringat itu, semakin tak sabar aku untuk bertemu ibu. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-right: 36pt; margin-left: 36pt;"&gt;Rumah berhalaman besar itu seperti tidak lapuk dimakan waktu, rasanya masih seperti ketika aku kecil dan berlari-lari diantara tanaman-tanaman itu, tentu karena selama ini ibu rajin merawatnya. Namun ada satu yang berubah, ibu... &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-right: 36pt; margin-left: 36pt;"&gt;Wajah ibu masih teduh dan bijak seperti dulu, meski usia telah senja tapi ibu tidak terlihat tua, hanya saja ibu terbaring lemah tidak berdaya, tidak sesegar biasanya. Aku berlutut disisi pembaringannya, "Ibu...Rini datang, bu..", gemetar bibirku memanggilnya. Ku raih tangan ibu perlahan dan mendekapnya didadaku. Ketika kucium tangannya, butiran air mataku membasahinya. Perlahan mata ibu terbuka dan senyum ibu, senyum yang aku rindu itu, mengukir di wajahnya. Setelah itu entah berapa lama kami berpelukan melepas rindu. Ibu mengusap rambutku, pipinya basah oleh air mata. Dari matanya aku tahu ibu juga menyimpan derita yang sama, rindu pada anaknya yang telah sekian lama tidak berjumpa. "Maafkan Rini, Bu.." ucapku berkali-kali, betapa kini aku menyadari semua kekeliruanku selama ini. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-right: 36pt; margin-left: 36pt;"&gt;***&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32231529-115915040835518275?l=cerpenislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenislami.blogspot.com/feeds/115915040835518275/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32231529&amp;postID=115915040835518275' title='23 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115915040835518275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115915040835518275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenislami.blogspot.com/2006/09/kisah-islami-kasih-sepanjang-jalan.html' title='[Kisah Islami] Kasih Sepanjang Jalan'/><author><name>gdz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>23</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32231529.post-115899460615751948</id><published>2006-09-22T23:56:00.000-07:00</published><updated>2006-09-22T23:56:54.426-07:00</updated><title type='text'>[Kisah Islami] Ketika Anakku Bertanya "Bu, Siapa sih Marlyn Monroe ?"</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Aisyah, anakku yang berusia 7 tahun mengalihkan pandangannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;pada jadwal pertandingan sepakbola di sebuah Koran. Tapi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;tiba-tiba saja ia bertanya,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;"Bu, siapa sih Marilyn Monroe itu?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;"Oooh... itu bintang film Amerika yang terkenal," jawabku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;sekenanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Aku mengira jawaban itu sudah cukup untuk pertanyaan Aisyah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Tapi ternyata tidak. Ia melanjutkan jawabanku itu dengan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;pertanyaan lain yang membuatku cukup repot menjawabnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;"Kalau bom seks itu maksudnya apa?" begitu tanya Aisyah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Terus terang aku terkejut dengan pertanyaan itu. Aku diam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;sejenak, lalu mengatakan,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;"Itu wanita yang memamerkan kecantikannya. Mereka mengira&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;dengan begitu akan bisa terkenal, disanjung, dan mendapatkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;uang dengan cepat," kataku hati-hati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;"Wahh... pasti para ratu kecantikan itu cantik sekali&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;wajahnya ya Bu" katanya polos.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;"Ya... katanya sih memang begitu," kataku apa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;adanya.Lagi-lagi kukira dialog kami akan selesai di sini,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;tapi ternyata tidak. Aisyah, putriku yang baru duduk di kelas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;2 SD itu memang kritis. Ia pun melontarkan pertanyaan lagi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;yang menjadikanku lebih serius menanggapi pertanyaannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;"Kok ibu bilangnya pakai "katanya', memangnya Marilyn Monroe&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;sekarang sudah tua atau sudah tidak cantik lagi?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;"Bukan begitu, dia sekarang sudah meninggal... bunuh diri..."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;begitu jawabku. Kupikir aku memang harus bisa menjelaskan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;masalah ini dengan baik kepada putriku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Setelah perkataanku itu, Aisyah meletakkan koran yang ada di&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;tangannya dan mendekatiku sambil mengatakan, "Kenapa bu? Kan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;tadi ibu bilang ia orangnya cantik, kaya, terkenal. Kenapa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;dia bunuh diri?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Aku mencoba menenangkan diri dan menjawab pertanyaannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;perlahan. "Yah, ia memang cantik, terkenal dan kaya. Tapi itu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;semua sama sekali tidak membuatnya bahagia," kataku sambil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;menarik nafas. Kali ini aku sudah menduga kalau jawabanku itu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;akan memancing pertanyaannya lagi. Justru sekarang aku yang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;ingin agar dia kritis terhadap jawabanku tadi. Aku pun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;bersiap mendengarkan pertanyaan berikutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;"Bagaimana mungkin bu, orang cantik, terkenal, kaya, tapi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;tidak bahagia?" katanya. Pertanyaan itu yang memang kutunggu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Aku menjawab, "Ya, karena hatinya kelaparan dan mentalnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;kering."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;"Apa bu, hatinya kelaparan? Maksudnya bagaimana sih?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;tanyanya makin penasaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Aku terdiam sejenak, berfikir untuk bisa menjelaskan masalah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;ini dengan tepat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;"Puteriku, manusia itu seperti yang diajarkan oleh agama kita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;terdiri dari tubuh, pikiran dan hati. Agar seseorang bisa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;hidup seimbang, bahagia, dan sehat, maka semuanya itu harus&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;diberi makanan. Makanan tubuh kita itu adalah nasi, buah atau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;minuman. Pikiran kita makanannya adalah ilmu pengetahuan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;seperti yang engkau pelajari di sekolah. Sedangkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;hati,makanannya adalah iman kepada Allah. Iman kepada adanya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Allah, iman dengan takdir-Nya, kasih sayang-Nya,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;kekuasaan-Nya dan iman kepada hari akhirat. Sepanjang apapun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;seseorang hidup, pasti akhirnya akan kembali kepada Allah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;swt. Kita akan berhadapan dengan Allah dan mempertanggung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;jawabkan segala perbuatan kita di hadapan Allah... Saat itu,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;balasan yang kita terima hanya satu dari dua, surga atau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;neraka. Dan Allah tak mungkin tidak adil terhadap hamba-Nya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;..."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Anakku tampak serius sekali memperhatikan uraian tadi. Ia pun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;terdiam, sepertinya berpikir. "Apakah Marilyn Monroe tidak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;mengetahui hal itu sehingga ia bunuh diri?" katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;"Tidak tahu juga ya. Tapi umumnya orang yang bunuh diri itu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;adalah karena putus asa dan kekecewaan yang sangat berat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Putus asa seperti itu tidak dialami oleh seorang yang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;beriman. Dalam surat Yusuf Allah swt berfirman, "Tidaklah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;orang yang putus asa kepada rahmat Allah itu kecuali&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;orang-orang yang kafir..." Meskipun ia mengalami kesulitan,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;penderitaan dan berbagai kesusahan, tapi orang beriman tetap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;percaya pada kasih sayang Allah swt. Ia bisa melakukan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;sholat, berdo'a, berdzikir, membaca al-Qur`an yang menjadikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;hatinya terang dan jiwanya segar kembali. Karena itulah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;orang-orang beriman saja yang bisa hidup bahagia ...." (na)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32231529-115899460615751948?l=cerpenislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenislami.blogspot.com/feeds/115899460615751948/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32231529&amp;postID=115899460615751948' title='25 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115899460615751948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115899460615751948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenislami.blogspot.com/2006/09/kisah-islami-ketika-anakku-bertanya-bu.html' title='[Kisah Islami] Ketika Anakku Bertanya &quot;Bu, Siapa sih Marlyn Monroe ?&quot;'/><author><name>gdz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>25</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32231529.post-115899421017732729</id><published>2006-09-22T23:46:00.000-07:00</published><updated>2006-09-22T23:50:10.303-07:00</updated><title type='text'>Kisah Islami [ Ketika Ramadhan Tiba ]</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Tidak terasa bulan Ramadhan sudah bergulir sepuluh hari.&lt;br /&gt;"Gimana Bi ....... dapat ijin dari pak Hendra? " tanya Fitri, isteriku penuh harap.&lt;br /&gt;"Nggak boleh Mi... nggak dapat ijin" jawabku.&lt;br /&gt;Kulihat Fitri terdiam, tapi terlihat semburat kekecewaan nampak pada rona wajahnya. Yah betapa tidak cuti lebaran tahun ini tak kuperoleh dari atasanku. Berarti ini sudah tahun ketujuh kami sekeluarga tidak dapat berlebaran di kampung bersama sanak keluarga. Sejak menikah, sampai kami mempunyai 3 anak, aku dan Fitri memang tidak pernah merasakan berlebaran bersama keluarga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Pada mulanya aku begitu yakin pak Hendra atasanku akan memberiku cuti 3 pekan, karena aku pikir sudah 2 tahun aku tidak mengambil cuti, dan lagi sudah tujuh kali berturut aku tidak dapat kebagian cuti lebaran. Tapi nyatanya dengan permintaan maaf, pak Hendra menolak ajuan cutiku. Posisiku sebagai chief manager di perusahaan ini mengharuskan aku menangani kontrak kerja yang diadakan sepekan setelah lebaran. Buyar sudah impian mudik lebaran bersama keluarga.Terbayang bagaimana Fitri sudah menyiapkan berbagai macam oleh-oleh untuk keluarga kami. Kebetulan keluargaku dankeluarga Fitri tinggal di kampung yang sama hanya dibatasi oleh sungai yang membelah. Dan bagaimana senangnya anak-anak kami dapat bertemu dengan mamak dan datuk nya. Oh tidak, aku tidak boleh mengecewakan mereka.&lt;br /&gt;" Mi...bagimana kalau ummi saja yang pulang bersama anak-anak?', tanyaku.&lt;br /&gt;"lalu abi bagaimana?" tanya Fitri.&lt;br /&gt;'Yaaa.. habis bagaimana lagi, abi tetap tinggal di Jakarta, ummi dan anak-anak saja yang pulang ke Padang. Azzam, Ahmad dan Afif pasti rindu dengan mamak dan datuk", timpalku, "sudah tiga tahun mereka tidak pernah jumpa. Sekalian ummi refreshing kan, bisa ada yang bantuin momong anak-anak", godaku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Selama ini kulihat Fitri memang begitu pontang-panting mengurus tiga anak kami yang masih kecil-kecil. Azzam 5 tahun, Ahmad 3 tahun dan Afif 1,5 tahun. Semua pekerjan rumah diurusnya sendiri mulai dari mengurus anak-anak, mengurus keperluanku, membereskan rumah, masak, mencuci dan lain lain. Ditambah lagi kegiatan isteriku untuk mengisi taklim dan pengajian kesana kemari. Harus kuakui bahwa isteriku ini memang wanita aktif yang tidak bisa diam. Aktifitasnya yang begitu padat tidak membuat dirinya merasa lelah. Kalau sering berdiam diri tanpa ada kesibukan, setan selalu mengusik kita, begitu alasannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Bukannya abi yang justru mau istirahat", kata Fitri, " enak kan bi, nggak dengerin kecerewetan umi, atau tangisan anak-anak" . Hemm....aku tersenyum kecut mendengarkan perkataan Fitri. Tetapi dalam hatiku membenarkan apa yang baru Fitri ucapkan. Ya.. waktu istirahat, pikirku nakal. Tidak mendengar suara teguran isteriku, ketika aku masuk rumah tanpa membuka sepatu. Atau ketika makan tanpa membersihkan tangan dengan sabun dan air yang bersih. Atau ketika pergi kantor tanpa menyisir rambut dengan rapi, menggosok sepatu. Atau...beribu teguran yang selalu terdengar di telinga. Memang kuakui Fitri mempunyai sifat resik dan disiplin dalam segala hal. Dengan kesibukannya, kulihat rumah kami selalu rapi dan bersih. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Kebersihan adalah sebagian dari Iman katanya sambil menyitir salah satu hadits Rasulullah. Anak-anak tidak boleh tidur lewat dari pukul 9 malam dan pukul 4.30 harus sudah bangun. Setelah membaca koran dan buku harus diletakkan kembali ketempatnya. Pakaian harus tergantung rapi. Azzam dan Ahmad tampaknya sudah bisa mengikuti pola yang diterapkan umminya. Mereka menjadi anak yang rajin dan disiplin.Aku yang selalu memakai pakaian asal comot sekarang harus mematuhi 'peraturan'  Fitri. Pakaian kantor, pakaian rumah, pakaian tidur, pakaian kondangan dipilah-pilahnya, suatu hal yang tak terpikirkan sebelum aku nikah. Pantas saja teman-temanku sering menggoda, menurut mereka penampilanku setelah nikah berubah 180 derajat, lebih rapi dan terurus katanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Aku yang sebelum menikah tampil asal-asalan, hingga kamar kostku pun terlihat amburadul, kadang agak jengah juga mendengar 'omelan' Fitri. Sifat kami yang satu ini memang sangat jauh berbeda, seperti langit dan bumi. Ketika aku mengatakan pada Fitri agar ia dapat mengurangi sedikit kedisiplinannya dan keresikannya, ia mengelak dan mengatakan bahwa keluarga muslim harus bersih. Bagaimana kita bisa mendakwahi orang lain agar terbiasa hidup teratur dan bersih sementara diri kita tidak berbuat demikian tangkisnya. Atau katanya kami harus malu kepada tetangga sebelah yang beragama Nasrani apabila rumah kotor, penampilan awut-awutan dan hidup tidak teratur. Sebenarnya betul juga apa yang dikatakannya. Tetapi sekarang aku mau istirahat di rumahku sendiri, aku ingin merasakan sebentar kehidupan seperti dulu sewaktu kost dan sebelum menikah. Bebas...... &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;**** &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Pulang dari mengantar Fitri dan anak-anak ke Cengkareng, 10 hari sebelum Idul Fitri, rumah tampak begitu lengang sekali. Aku bisa beristirahat dan tenang beriktikaf pikirku. Adzan maghrib terdengar, bismillah... kuhirup air putih dari kulkas. Tidak ada teh hangat dan kolak kesukaanku yang biasanya menemani berbuka puasa. Setelah sholat maghrib kuambil nasi dari rice cooker dan rendang buatan Fitri yang tersimpan di lemari es. Aku malas sekali untuk menghangatkannya. Biarlah... nasi putih plus rendang dingin menjadi santapanku kali ini.&lt;br /&gt;Oh ya, aku harus segera pergi ke Masjid Baiturrohman sekarang. Ada janji sholat tarawih dan pengajian Ramadhan. Piring-piring dan gelas bekas makan kubiarkan saja tergeletak di meja. Kuambil baju sekenaku dan tancap gas menuju masjid karena tak ada waktu lagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;**** &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Tidak terasa Ramadhan sudah hampir berlalu. Ini adalah malam Idul Fitri, terdengar suara takbir menggema di masjid-masjid. Ramai sekali. Suara takbir nan merdu. Tiba-tiba aku tersadar dan merasa hampa. " Ya..Alloh, aku begitu rindu kepada isteri dan anak-anakku......aku rindu dengan celoteh dari mulut-mulut kecil mereka, tangis mereka, atau senandung do'a yang sering mereka suarakan, dan juga rindu dengan senyum Fitri, serta teguran-tegurannya". Butir-butir kristal berjatuhan tak terasa di atas sajadah panjangku. Tangiskupun tak dapat ku bendung lagi. Ramadhan, bulan yang penuh berkah akan meninggalkanku dan kerinduanku akan keluargaku membuat aku tak bisa menahan tangis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Disuasana ramai seperti sekarang ini hanya kesunyian yang aku rasakan. Aku merasa Alloh mencabut sementara nikmat yang telah diberikanNya. Yaitu nikmat berkumpul dengan keluarga. Terasa sekarang ini betapa nikmat itu ternyata merupakan karunia besaar sekali, yang tidak pernah kusadari selama ini. Nikmat kesenangan berkumpul dengan keluarga kurasakan setelah nikmat itu tidak ada untuk sementara.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku ingat bagaimana wajah Fitri yang mendadak cemberut ketika aku pulang kantor tanpa melepas sepatu walaupun kulihat dia sedang mengepel lantai. Atau bagaimana kesalnya ia ketika aku memporak-porandakan lagi lemari buku yang baru saja dibereskannya hanya karena ingin mencari sebuah buku saja. Kuingat pula kurang lebih 4 bulan yang lalu ia mengatakan dengan sangat hati-hati kepadaku bahwa mengurus Azzam, Ahmad dan Afif lebih mudah ketimbang mengurusku. Aku yang mendengarnya hanya tersenyum geli, dan dengan santai kujawab bahwa aku terlalu sibuk dengan pekerjaan di luar rumah. Perasaan bersalah menumpuk di dada, aku yang seharusnya membantu meringankan beban Fitri malah membuat pekerjaanya bertambah. Maafkan aku Fitri, karena telah membuatmu bertambah repot selama ini..... Ramadhan kali ini telah memberiku banyak pelajaran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Pagi-pagi aku bersiap untuk menunaikan shalat Idul Fitri, kucari baju yang cocok. Tetapi tak ada baju yang sesuai di lemari pakaian. Kulihat di ujung kamar ada seonggok pakaian kotor yang belum sempat kucuci apalagi kuseterika. Terpaksa aku mengambil baju baru yang masih terbungkus plastik. Andaikan Fitri ada pasti dengan sigap ia menyiapkan segala keperluanku. Kutolehkan pandangan ke sekitar rumah.....ooou, rumah tampak kotor sekali. Piring-piring dan gelas kotor menumpuk di dapur, lantai tampak kusam, jendela berdebu, buku dan koran berserakan di mana-mana. Di halaman bunga bunga kesayangan Fitri tampak layu dan daun-daun kering berguguran dimana-mana. Tak sejuk dipandang mata. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Aku bergegas melangkah menuju lapangan untuk menunaikan Shalat Idul Fitri. Di jalan terlihat banyak anak-anak kecil bergandengan riang dengan kedua orang tua mereka....senang sekali .Tiba-tiba aku merasa cemburu sekali, itu sebabnya pulang dari shalat Idul Fitri segera kutelepon mereka dan kukatakan agar sesegera mungkin mereka kembali ke Jakarta. Rinduku tak tertahan lagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;**** &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Hari ini aku bahagia sekali isteri dan anak-anakku telah tiba kembali di Jakarta. Di perjalanan pulang dari Bandara Soekarno-Hatta, banyak sekali cerita-cerita lucu yang kudengar. Bagaimana Azzam berceloteh tentang keheranannya melihat kerbau yang dilepas begitu saja di sawah. Ahmad yang gemar mengejar bebek di halaman. Tak ketinggalan pula Fitri begitu semangat menceritakan bagaimana mamak senang sekali pada Afif yang menurutnya amat mirip dengannya. Subhanalloh ...mereka adalah Qurrata 'ayun bagiku. Diam-diam kubaca do'a "Robbana hablanaa min azwazina wa dzuriyatinaa quratta'ayun waja'alna lilmutaqina imamah". Terima kasih ya Alloh ..... Engkau telah memberiku anak-anak yang sholeh, sehat dan pintar. Engkau telah memberiku isteri yang sholehah, baik, dan rajin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Namun begitu tiba di rumah raut muka Fitri yang cerah terlihat berubah seketika...... Ia terdiam dan kemudian terpekik......."Masya Allah abi,..... ini rumah apa kapal pecah?" Dalam hati aku sudah menduga. " Maafkan aku Fitri, insya Allah ini yang terakhir kali......" bisikku seraya membantunya membereskan semuanya. (wi)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32231529-115899421017732729?l=cerpenislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenislami.blogspot.com/feeds/115899421017732729/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32231529&amp;postID=115899421017732729' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115899421017732729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115899421017732729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenislami.blogspot.com/2006/09/kisah-islami-ketika-ramadhan-tiba.html' title='Kisah Islami [ Ketika Ramadhan Tiba ]'/><author><name>gdz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32231529.post-115899359688009717</id><published>2006-09-22T23:37:00.000-07:00</published><updated>2006-09-22T23:40:16.940-07:00</updated><title type='text'>Kisah Sebuah Pernikahan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Hari pernikahanku. Hari yang paling bersejarah dalam hidup. Seharusnya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;saat itu aku menjadi makhluk yang paling berbahagia. Tapi yang aku rasakan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;justru rasa haru biru. Betapa tidak. Di hari bersejarah ini tak ada&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;satupun sanak saudara yang menemaniku ke tempat mempelai wanita. Apalagi ibu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Beliau yang paling keras menentang perkawinanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Masih kuingat betul perkataan ibu tempo hari, "Jadi juga kau nikah sama&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;'buntelan karung hitam' itu ....?!?"&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Duh......, hatiku sempat kebat-kebit mendengar ucapan itu. Masa calon&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;istriku disebut 'buntelan karung hitam'.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;"Kamu sudah kena pelet barangkali Yanto. Masa suka sih sama gadis hitam,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;gendut dengan wajah yang sama sekali tak menarik dan cacat kakinya. Lebih&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;tua beberapa tahun lagi dibanding kamu !!" sambung ibu lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;"Cukup Bu! Cukup! Tak usah ibu menghina sekasar itu. Dia kan ciptaan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Allah. Bagaimana jika pencipta-Nya marah sama ibu...?" Kali ini aku terpaksa&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;menimpali ucapan ibu dengan sedikit emosi. Rupanya ibu amat tersinggung&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;mendengar ucapanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;"Oh.... rupanya kau lebih memillih perempuan itu ketimbang keluargamu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;baiklah Yanto. Silahkan kau menikah tapi jangan harap kau akan dapatkan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;seorang dari kami ada di tempatmu saat itu. Dan jangan kau bawa perempuan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;itu ke rumah ini !!"&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;DEGG !!!!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;"Yanto.... jangan bengong terus. Sebentar lagi penghulu tiba," teguran&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ismail membuyarkan lamunanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Segera kuucapkan istighfar dalam hati.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;"Alhamdulillah penghulu sudah tiba. Bersiaplah ...akhi," sekali lagi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ismail memberi semangat padaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;"Aku terima nikahnya, kawinnya Shalihah binti Mahmud almarhum dengan mas&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;kawin seperangkat alat sholat tunai !" Alhamdulillah lancar juga aku&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;mengucapkan aqad nikah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;"Ya Allah hari ini telah Engkau izinkan aku untuk meraih setengah dien.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mudahkanlah aku untuk meraih sebagian yang lain."&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dikamar yang amat sederhana. Di atas dipan kayu ini aku tertegun lama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Memandangi istriku yang tengah tertunduk larut dalam dan diam. Setelah&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;sekian lama kami saling diam, akhirnya dengan membaca basmalah dalam hati&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;kuberanikan diri untuk menyapanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;"Assalamu'alaikum .... permintaan hafalan Qur'annya mau di cek kapan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;De'...?" tanyaku sambil memandangi wajahnya yang sejak tadi disembunyikan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;dalam tunduknya. Sebelum menikah, istriku memang pernah meminta malam&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;pertama hingga ke sepuluh agar aku membacakan hafalan Qur'an&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;tiap malam satu juz. Dan permintaan itu telah aku setujui. "Nanti saja&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;dalam qiyamullail," jawab istriku, masih dalam tunduknya. Wajahnya yang&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;berbalut kerudung putih, ia sembunyikan dalam-dalam. Saat kuangkat&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;dagunya, ia seperti ingin menolak. Namun ketika aku beri isyarat bahwa aku&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;suaminya dan berhak untuk melakukan itu , ia menyerah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kini aku tertegun lama. Benar kata ibu ..bahwa wajah istriku 'tidak&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;menarik'. Sekelebat pikiran itu muncul ....dan segera aku mengusirnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Matanya berkaca-kaca menatap lekat pada bola mataku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;"Bang, sudah saya katakan sejak awal ta'aruf, bahwa fisik saya seperti&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;ini. Kalau Abang kecewa, saya siap dan ikhlas. Namun bila Abang tidak menyesal&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;beristrikan saya, mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan yang banyak&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;untuk Abang. Seperti keberkahan yang Allah limpahkan kepada Ayahnya Imam&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;malik yang ikhlas menerima sesuatu yang tidak ia sukai pada istrinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saya ingin mengingatkan Abang akan firman Allah yang dibacakan ibunya Imam&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Malik pada suaminya pada malam pertama pernikahan mereka," ...&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dan bergaullah dengan mereka (istrimu) dengat patut (ahsan). Kemudian&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;menyukai sesuatu, padahal Allah menjanjikan padanya kebaikan yang&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;banyak."&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;(QS An-Nisa:19)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mendengar tutur istriku, kupandangi wajahnya yang penuh dengan air mata&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;itu lekat-lekat. Aku teringat kisah suami yang rela menikahi seorang wanita&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;yang memiliki cacat itu. Dari rahim wanita itulah lahir Imam Malik, ulama&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;besar ummat Islam yang namanya abadi dalam sejarah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;"Ya Rabbi aku menikahinya karena Mu. Maka turunkanlah rasa cinta dan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;kasih sayang milikMu pada hatiku untuknya. Agar aku dapat mencintai dan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;menyayanginya dengan segenap hati yang ikhlas."&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pelan kudekati istriku. Lalu dengan bergetar, kurengkuh tubuhya dalam&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;dekapku. Sementara, istriku menangis tergugu dalam wajah yang masih&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;menyisakan segumpal ragu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;"Jangan memaksakan diri untuk ikhlas menerima saya, Bang. Sungguh... saya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;siap menerima keputusan apapun yang terburuk," ucapnya lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;"Tidak...De'.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sungguh sejak awal niat Abang menikahimu karena Allah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sudah teramat bulat niat itu. Hingga Abang tidak menghiraukan ketika&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;seluruh keluarga memboikot untuk tak datang tadi pagi," paparku sambil&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;menggenggam erat tangannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Malam telah naik ke puncaknya pelan-pelan. Dalam lengangnya bait-bait&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;do'a kubentangkan pada Nya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;"Robbi, tak dapat kupungkiri bahwa kecantikan wanita dapat mendatangkan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;cinta buat laki-laki. Namun telah kutepis memilih istri karena rupa yang&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;cantik karena aku ingin mendapatkan cinta-Mu. Robbi saksikanlah malam ini&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;akan kubuktikan bahwa cinta sejatiku hanya akan kupasrahkan pada-Mu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Karera itu, pertemukanlah aku dengan-Mu dalam Jannah-Mu !"&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku beringsut menuju pembaringan yang amat sederhana itu. Lalu kutatap&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;raut wajah istriku denan segenap hati yang ikhlas. Ah, .. sekarang aku&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;benar-benar mencintainya. Kenapa tidak? Bukankah ia wanita sholihah&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;sejati.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ia senantiasa menegakkan malam-malamnya dengan munajat panjang pada-Nya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ia senantiasa menjaga hafalan KitabNya. Dan senantiasa melaksanakan shoum&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;sunnah Rasul Nya. "...dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;pada Allah ..." (QS. al-Baqarah:165)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;=========================================&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ya Allah sesungguhnya aku ini lemah , maka kuatkanlah aku dan aku ini&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;hina maka muliakanlah aku&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;dan aku fakir maka kayakanlah aku wahai Dzat yang maha Pengasih&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32231529-115899359688009717?l=cerpenislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenislami.blogspot.com/feeds/115899359688009717/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32231529&amp;postID=115899359688009717' title='38 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115899359688009717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115899359688009717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenislami.blogspot.com/2006/09/kisah-sebuah-pernikahan.html' title='Kisah Sebuah Pernikahan'/><author><name>gdz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>38</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32231529.post-115683536654258673</id><published>2006-08-29T00:08:00.000-07:00</published><updated>2006-08-29T00:09:27.160-07:00</updated><title type='text'>[Kisah Islami] Langgam Dari Tanaku</title><content type='html'>&lt;h1 style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Langgam satu: Curahan Hati&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Dalam ingatan ombak laut ganas &lt;i style=""&gt;masalembo&lt;/i&gt; dan kecintaan pada tanah leluhur, aku mencoba masuk dalam bingkai alam pikiranmu. Kurenungi titik-titik keresahan dan berharap sebelumnya niatku tak lebur. Awalnya kukira ini hanya usikan dari perjumpaan kita yang singkat. Suara hatimu ternyata terekam dan mengisi misel-misel terkecil di otakku. Memberiku suatu pengalaman batin yang mungkin luput dari jangkauan ilmu pengetahuan positif.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Saudaraku, maaf jika curahan hati ini mengusik pahit di hatimu. Aku hanya berpikir kita sedarah. Sekembalinya kau ke tanah Jawa, kurenungi semua kata-katamu, tentang &lt;i style=""&gt;Rambu Sollo&lt;/i&gt; atau &lt;i style=""&gt;Aluk Tedolo&lt;/i&gt; yang selama ini kubanggakan bahkan kujual pada turis-turis yang terpana kagum. Namun, semua itu sirna. Dan entah darimana aku berharap takkan lagi kutemukan ratapan kematian yang dibuat-buat, namun seperti yang kau ceritakan kematian adalah perjumpaan terindah untuk menuju perjumpaan menemui sang Khalik. Engkau masih ingat ayat-ayat sucimu yang kau perdengarkan padaku kala teriakan kegembiraan mengantar sang mati ke gua?&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;“&lt;i style=""&gt;Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun&lt;/i&gt;”. Ayat-ayat itu mengisi gendang telingaku. Ayouuu...aihik, teriakan &lt;i style=""&gt;meoli&lt;/i&gt; yang dikumandangkan penduduk itu kini ibarat sepi walaupun mereka pasukan seribu orang pun. “&lt;i style=""&gt;Maka, mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, ...&lt;/i&gt;”&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Itulah awal aku mengingat makna. Ternyata hidup adalah awal dari suatu perjalanan panjang. Dan kala bayangmu hilang, ingatan itu menjadi pemberat rasa. Kini sejalan waktu, aku mengumpulkan semua ingatanku untuk memnuhi tujuan akhir pembicaraan kita. Aku mencoba bicara lewat langgam ini, dan itu ternyata tidak sulit.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Saudaraku, ingatkah saat kau melantunkan kecintaanmu di antara kesibukan kerabat bergembira di atas kematian nenek kita? “&lt;i style=""&gt;Kemudian sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat...&lt;/i&gt;”. Aku terbahak mendengarnya, namun hatiku tertegun. Apakah ini syair? Daya khayalku tak mampu menembusnya. Kutinggalkan engkau yang masih mengisi pijakan kaki-kaki penduduk desa pengusung mayat. Peluh apa ini? Dan untuk siapa? Bisakah kegembiraan mereka mengantarkan jenazah ke haribaan pemiliknya? Itulah yang berulang kali kau gumamkan. Aku muak sekali. Kau telah berani hujat adat tanamu sendiri.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Sejak awal aku menyadari perbedaanmu dengan saudara kita yang lain. Bukan saja karena kau jauh dibesarkan di tanah jawa, tapi kurasakan pemikiran dan kata-katamu senantiasa penuh makna. Dan kemudian aku takut kebenaran kata-katamu. “&lt;i style=""&gt;Nenek kita sudah mati, tapi kita dipaksa menganggapnya masih hidup. Apakah ada orang hidup disuntik formalin sebanyak dua botol kecap? Itu pembedahan pertama yang diajarkan turun-temurun&lt;/i&gt;”, ujarmu menguraikan analisa. Aku diam saja dan menganggap kau hanya mengigau. Engaku pun menyingkir dan duduk di pematang sawah. Kepergianmu semakin membuatku penasaran mengetahui kata-katamu lebih lanjut. Tapi tindakanku malah berlawanan. Aku menyiapkan penganan kesukaan nenek. Pembodohan kedua yang diajarkan. Siapa yang sesungguhnya mati? Siapa yang berakal? Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengejarku.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Sejak engkau datang, hari-hariku tersiksa. Ini akibat dari dosa melanggar aturan &lt;i style=""&gt;Aluk Tedalo&lt;/i&gt;, ujar hatiku berkali-kali meyakinkan. Aku pun minum tuak sepuasnya, mengumpulkan kekuatan menyingkirkanmu. Genaplah sudah nafsu panjang kesombonganku. Aku bertolak pinggang, tetapi lagi-lagi hanya kedalaman suaramu dan luas mata hati yang kian membayangi pikiran.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;“Aku kasihan pada tana ini. Rumput-rumput disini tumbuh bersama peradaban tanpa dzikir. Dan aku lebih menyayangkan karena aku tak dapat menerjemahkan ketundukan alam dan tasbih-tasbih penghuninya, agar mereka bisa belajar memahami hakikat dirinya”, gumam engkau berkali-kali. Miris. Teruslah, teruskan pembicaraanmu. Aku rindu sudut-sudut hatimu yang membasah, teriakku memohon. Engkau hanya menggeleng berkali-kali. Katamu, diriku tak bisa mengerti tasbih ini jik adalam keadaan tak sadar. Persetan! Teriakku putus asa. Aku pun menyesal menemuimu, dan kutinggalkan waktu agar pikiranku kembali jernih. Melupakan setiap ucapanmu, mengisi kidung hatiku yang gundah.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Keesokan hari, matahari menyembul menghias hariku. Aku bersiap dengan pesta kematian. Teriakan kegaduhan, dan kerbau-kerbau yang siap berlaga menghentikan hati untuk berpindah. Inilah kegembiraan seluruh kampung, menyambut pesta kematian yang mengorbankan seluruh kekayaan. Kain hitam yang kupakai tanda berkabung melilit badan. Pikiranku terpusat melantunkan &lt;i style=""&gt;mabadong&lt;/i&gt; di depan jenazah nenek yang disimpan di &lt;i style=""&gt;Tongkonan&lt;/i&gt; kecil. Kulirik &lt;i style=""&gt;tau-tau&lt;/i&gt; disebelahku. Tiba-tiba badanku menggigil. Patung itu melotot mengerikan. Nafasku sesak.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;“&lt;i style=""&gt;Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan&lt;/i&gt;”, suaramu terdengar lagi. Di tanganku, di hati, di telinga penuh. Aku menggeliat resah. Mataku mencari sosok roh nenek moyang yang selama ini kuyakini selalu berada dekat dan melindungi keturunannya, malahan kutemui pendeta. Katanya aku kerasukan roh nenekku yang mati. Agama apa yang tidak punya pendirian. Mereka mengajarkan puji-pujian dan juga membenarkan ketidakteraturan &lt;i style=""&gt;Aluk Telodo&lt;/i&gt;. Dimanakah ajaran syurga itu? Di gereja atau di makam-makam batu tempat bersemayam segala roh leluhur?&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;“&lt;i style=""&gt;Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertsbih kepada Allah. Dan tidak ada satupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka&lt;/i&gt;”. Hatiku mulai bersatu. Kurasakan kebenaranmu. Aku rasakan alunan keindahan dzikir makhluk-Nya Batu cadas gunung yang melingkupi tana ini, pohon-pohon yang meneduhkannya, air sungai maiting,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ikan yang berenang, sampai hembusan angin melantunkan langgam yang kurindui. Berkah bagi hidupku.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Saudaraku, dzikir mereka sewangi kebenaran yang dibawa. Akhirnya kutemukan syair hatimu. Di sana panggilan yang tak mampu kutolak. Aku semakin haus mencari kebenaran kata-katamu. Terima kasih, tak mungkin kulupa seminggu yang bersejarah dalam hidupku.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Langgam dua: Menjalin Lautan Cinta&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;“&lt;i style=""&gt;Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segenap ufuk pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu&lt;/i&gt;”.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saudaraku, aku telah menemukan jalanku, agama tauhid sejati. Kutemukan kembali kemerdekaan nurani yang selama ini tak kusadari terpenjara dalam adat kebodohan. Aku bangga dengan darah biru yang mengalir pada aortaku, namun aku lupa siapa yang menciptakannya? Ah, begitu naif. Otakku dan penghuni tana ini telah tercuci oleh sistem yang menguasainya. Sistem ajaran gembala yang harus diterima sejak pendidikan dasar (missi-nissi berhasil mengkristenkan Tana Toraja ini melalui pendidikan), walaupun mereka tak pernah bisa meredam tanya yang diwariskan Rabb.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saudaraku, kebenaran itu ternyata harus diperjuangkan. Tak ada kata mati untuk beramal shaleh agar kelak aku bisa merengkuh cinta Kekasihku. Kumulai dari alif. Akupun menghindari tuak. Dan setelah beralih ke ba’, babi-babi kita telah kuganti dengan jadi ayam dan kerbau. Sabung ayam, kebiasaanku sehari-hari, judi, dan banyak lain yang harus kuhilangkan dari catatan kehidupanku kini, agar kelak doaku sampa ke langit. Aku terus menapak, seperti yang kau ceritakan kerikil-kerikil dan duri lainnya menambah jelas kisah pencarianku mencari cinta. Aku masih sulit merangkai alif, ba, dan huruf lainnya dalam tadarusku, seperti aku membedakan halal dan haram, membedakan nasi jagung dan nasi babi.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tatkala syair-syair palsu bertiup di telinga, aku kembali merenungi ayat-ayat Tuhan, merenungi gunung dan lembah yang selama ini menyelimuti. Kupandangi kampung dengan sungainya yang mengalir panjang membasahi setiap jengkal tanah yang membuat negeri ini hidup. Ataupun aku ke &lt;i style=""&gt;Nenggala&lt;/i&gt; menyaksikan kelelawar pergi ke arah barat ketika matahari tenggelam di ujung batas horison langit. Subhanallah, aku kembali menemukan jejak Khalik.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“&lt;i style=""&gt;Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang yang tuli dan buta”. “...dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram&lt;/i&gt;”.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Wahai saudaraku, ajari terus aku mengenal Tuhanku, agama dan Rasul, hari kiamat, takdir-Nya, surga dan neraka-Nya. Allah, jangan Engkau kembalikan aku ke dalam kesesatan setelah Engkau beri hidayah. Terimalah amalku yang setitik di antara lautan Rahman-Rahim-Mu. Tiada keinginan hamba selain bersatu dalam cinta-Mu, bersujud, ruku, menangis hanya atas nama-Mu.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Langgan tiga: Menebar Rahmat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Setiap kutebangun, terpancang azamku agar hari ini lebih baik dari hari kemarin. Jika telah kunikmati iman ini, kurindukan fajar yang mengawali sekaligus membuka kesempatan padaku untuk beribadah. Tundukku hanya pada Yang Satu: “&lt;i style=""&gt;(yaitu) Rabb yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang memimpinku. Dan Rabbku yang Dia memberi makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku. Dan yang mematikanku, kemudian akan menghidupkanku kembali&lt;/i&gt;”.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saudaraku, aku mulai membagi kenikmatan yang kurasakan. Pada &lt;i style=""&gt;tongkonan&lt;/i&gt; dan penghuninya. Bukankah aku pernah memetik hikmah kata-katamu di tana ini. Aku ingin berbagi seperti engkau, menumbuhkan aku-aku lagi. Penunggu zaman, penghias langit agar mencurahkan berkahnya. Tekadku, tana ini harus subur dengan dzikir. Tiada &lt;i style=""&gt;mafasa&lt;/i&gt; kerbau yang berakhir di ujung pedang, namun ujung hayat mereka hanyalah ketundukan pada Rabb-Nya.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku terus mencoba. Di sini tempatku mengisi hayat. Menanti masing-masing jarak tumbuhnya generasi. Tidak hanya satu tetapi beribu-ribu “aku”. Mulut mereka wangi kesturi, senantiasa mengumandangkan dzikir dan ketaatan pada yang Esa. Nanti, Tana Toraja ini akan melatih cinta. Mereka besar di sini, di tana toraja, tana panduan keperkasaan alam dalam darah turun temurun. Dan lembah-lembah di sini, memantulkan setiap dzikir yang mereka kumandangkan. Tana ini dihiasi cahaya Allah, Al-Islam. Langit membagi teduhnya, dan bintang-bintang turut melantunkan Al-Qur’an. Doakan setiap langkahku diridhoi-Nya. Semoga dakwah kita sampai.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;*****&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kertas kuning itu masih kupegang. Isinya barangkali tak sekedar langgam seseorang, namun kurasakan air mata harapan seorang hamba yang mengalir dari nurani dan hasrat mengubah tanah leluhurku menjadi lebih Islami. Tak terasa aku terhanyut di dalamnya. Seolah-olah aku sendirilah yang menulisnya. Selama ini, aku hanya menikmati keindahan Tana Toraja. Aku tidak pernah memikirkan penciptanya. Kunikmati pesta &lt;i style=""&gt;Rambu Sollo&lt;/i&gt; seperti hiburan lainnya. Kegembiraanku menikmati pesta kematian ini, padahal aku seorang muslim. Sesekali kunikmati tuak sebelum berangkat melakukan &lt;i style=""&gt;ma’pallau&lt;/i&gt;, mengarak mayat melewati tebing-tebing yang hampir tegak lurus. Aku benar-benar terlarut di dalmnya. &lt;i style=""&gt;Astaghfirullah&lt;/i&gt;.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kupandangi &lt;i style=""&gt;erong&lt;/i&gt; yang diturunkan ke gua. Bagaimana rasanya mayat di dalamnya? Kasihan, mayat itu telah hampir satu tahun terbujur menunggu sanak keluarganya mengumpulkan harta hingga pesta ini berlangsung bak pesta pernikahan keluarga raja. Peluhku mengalir menganak sungai. Aku pun merasakan kesunyian di dalam keramaian. Menhir-menhir, darah &lt;i style=""&gt;tedong&lt;/i&gt; yang dikorbankan, tebing batu, &lt;i style=""&gt;tau-tau&lt;/i&gt; menjadi saksi bisu pesta mubazir ini.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Zul, kemari, coba kameramu dari sudut sebelah sini”, teriak Rante. Aku hanya membalasnya lesu. Hilang sudah semangat berburuku mengabadikan pesta ini. Burung elang melintas di langit.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Kenapa kau?” Rante mendekat. Kusodorkan kertas kuning yang tercecer di antara &lt;i style=""&gt;tau-tau&lt;/i&gt; di gua bawah. Mata Rante sejenak tercengang, namun akhirnya kertas itu dibacanya.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Dimana kau temukan?” Tanganku menunjuk gua terbawah. Helaan nafas Rante terdengar kemudian.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Sudah, lupakanlah. Ini hanya tulisan biasa. Ayo, kita mendekat. Nampaknya peti sudah tiba di gua.” Aku mengikuti langkahnya, tapi pikiranku tidak bisa dialihkan. Tiba-tiba otakku menyuruhku meninggalkan semuanya. Teriakan Rante tertiup angin. Kakiku terus melangkah. Tak ada gunanya meneruskan perburuan. Tuhan, maafkan segala khilafku. Biarlah langkahku terlambat daripada tak kutumbuhkan “aku-aku” yang mencari kematian atas nama Rabb-nya.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Tau-tau: patung yang dibuat mirip almarhum&lt;br /&gt;Rambu Sollo: pesta kematian di Tana Toraja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Aluk Tedollo: sistem adat istiadat di Tana Toraja&lt;br /&gt;Tongkonan: rumah adat Toraja&lt;br /&gt;Tedong: kerbau&lt;br /&gt;Meoli: teriakan khas&lt;br /&gt;Mabadong: nyanyi pujian yang lirih&lt;br /&gt;Ma’palla: mengarak mayat&lt;br /&gt;Erong: peti mayat&lt;br /&gt;Ma’pasang tedong: upacara adu kerbau&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32231529-115683536654258673?l=cerpenislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenislami.blogspot.com/feeds/115683536654258673/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32231529&amp;postID=115683536654258673' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115683536654258673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115683536654258673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenislami.blogspot.com/2006/08/kisah-islami-langgam-dari-tanaku.html' title='[Kisah Islami] Langgam Dari Tanaku'/><author><name>gdz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32231529.post-115649374872033554</id><published>2006-08-25T01:15:00.000-07:00</published><updated>2006-08-25T01:15:48.846-07:00</updated><title type='text'>Perempuan dari Andara</title><content type='html'>&lt;b&gt;Menuju Puncak, Bogor&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Andri menawarkan diri, ingin sekalian ikut, melihat-lihat tempat kerjaku, cottage. Terletak menjelang kawasan Puncak, Cipayung, Jawa Barat. Usai shalat Magrib berjamaah di musholla stasiun, kami bergegas meluncur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Rua�payu�rua payu!� pekik kenek naik turun. Berebutan.&lt;br /&gt;Rua payu? Adakah nama daerah itu di kawasan Puncak? Setelah ku renungkan, rupanya yang dimaksudkan oleh para kenek itu, Cisarua dan Cipayung! Ah�ada-ada saja ulah mereka itu!&lt;br /&gt;Di atas angkot, sederet cerita Andri mengalir. Bagaimana seharusnya menjadi sosok pribadi muslim, keprihatinnya terhadap dunia internasional yang selalu menskreditkan ummat islam, sampai masalah Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan lebat menyambut kedatangan kami di Cipayung. Untung, tepat di pertigaan jalan hendak menuju ke cottage, hujan mereda seketika. Alhamdulillah. Usai makan malam, shalat isya berjamaah, kemudian murojaah, istilah Andri yang segera kuakrabi, kami banyak tafakur. Arak awan mulai disapu bayu. Andri kulihat pulas melawan lelah dan dinginnya hawa kawasan Puncak.&lt;br /&gt;Sepertiga malam, Andri membangunkan tidurku. Berjamaah, qiyamul lail kami dirikan. Aku paksakan diri untuk menyempurnakan, sebelas rakaat, meski kantuk menyerang tak tanggung-tanggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ba�dha Subuh. Di tengah gumpalan kabut Cipayung. Andri pamit. Ada mata kuliah jam delapan. Aku antarkan ke jalan raya Bogor-Puncak.&lt;br /&gt;Aku bekerja full time! Libur hanya satu hari dalam sepekan. Hari Sabtu. Sudah tradisi, aku biasanya pasti pulang kembali ke kos-an.&lt;br /&gt;Menjelang keberangkatanku kembali ke Depok. Aku sibuk membolak-balik adress book. Mencari nomor telepon dan nomor HP yang pernah dituliskan Andri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KRL Jabotabek, Bogor-Depok.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan balik ke Depok. Mentari setengah meninggi. Anganku berpacu tentang kondisi pekerjaanku yang sudah setengah-setengah hati aku jalani. Aku mau keluar! Aku mau pindah! Bagaimana karir kepenulisanku? Bila harus dan terus memaksakan diri dengan sesuatu yang tak lagi aku nikmati, rasanya sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Stasiun Pondok Cina.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kutelusuri gang sempit jelang ke kos-an. Letih menyergap di ruas-ruas sendi. Sesampai di sana lengang tak berorang. Kemana teman-teman lainnya? Ah, selalu begitu. Yang namanya mahasiswa, selain jadwal kuliah yang mau tak mau harus dipatuhi, tak ada lagi. Begitu tak ada perkuliahan, bebas suka-suka kemana saja.&lt;br /&gt;Aku membolak-balik adress book ulang. Hhm... ada nomor telepon rumahnya juga dituliskan Andri. Akan kucoba. Itung-itung silaturrahmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat mentari tegak lurus menghujamkan sinarnya di ubun-ubun kepalaku, belum juga kutemukan rumah perempuan itu, yang berarti kediaman Andri. Tak dapat kubayangkan seperti apa gerangan sosok perempuan itu. Pertanyaan satu persatu serta merta berpacu dibenakku tentang bayangannya. Sifat seperti apa gerangan yang dimiliki perempuan itu, hingga mampu menyepuh anaknya berbudi emas seperti itu. Setidaknya itu kesanku sejak pertama kali bertemu sampai saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andri, anak muda dua puluh tahun itu memberiku sesuatu! Dan�itu takkan bisa kugantikan dengan apapun. Walau ia sendiri tak menyadari. Tapi buatku, justru menimbulkan keinginan untuk mengetahuinya lebih dekat. Ya, keluarganya. Adik-adiknya yang dua orang itu serta ibu-bapaknya.&lt;br /&gt;�Bisa timbul fitnah!� sela teman sepengajianku saat aku menceritakan niatku hendak mengunjungi perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Fitnah? Ah�yang benar aja! Yang akan  aku kunjungi itu sudah Ibu-ibu, kok!?� keningku mengkerut.&lt;br /&gt;�Justru karena itu,� angguk salah seorang dari temanku itu pertanda mendukung setuju.&lt;br /&gt;�Umur ibunya berapa?�&lt;br /&gt;�Yah..aku belum tahulah! Aku saja baru berencana mau kesana!�&lt;br /&gt;�Kalau anaknya yang paling besar sama usianya dengan kita, berarti empat puluhan sudah ada kali ya!?�&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Kok�jadinya mempermasalahkan umurnya sih? Niat dan tujuanku hanya satu, ingin menambah kenalan. Apalagi aku sudah berkenalan, cerita panjang lebar dengan anaknya. Kesanku, Andri senang berteman denganku. Buktinya, Andri berulang kali memintaku datang, walaupun ia sedang tak berada di rumah. Ya, itung-itung silaturahmi sekalian! Bolehkan?�&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal nomor telepon rumahnya yang diberikan Andri. Aku beranikan diri menelpon.&lt;br /&gt;Aku meluncur dari Pasar Minggu. Kemudian, naik angkot 61 warna biru. Turunnya di jalan Andara. Ku abaikan dengan sedikit senyuman tawaran para tukang ojek yang mangkal di bagian depan jalan.&lt;br /&gt;Bukan karena aku belum tahu persis alamat yang hendak kutuju. Tapi, karena uang di dompetku yang memang pas-pasan, kalau tak patut disebut lagi cekak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, berjalan kaki adalah pilihanku nomor satu. Kata pakar kesehatan, jalan kaki itu salah bentuk olah raga paling murah, meriah pula. Tentunya dapat menyehatkan badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jepang, para lansia banyak yang berumur panjang, konon dari yang kubaca, rata-rata dari mereka, banyak yang suka memilih berjalan kaki kemana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dibawakan ke Jakarta, agaknya kurang tepat. Bayangkan saja, nyaris disetiap sisi jalan trotoar Jakarta, ramainya oleh para pedagang kaki lima! Bagaimana bisa menikmati jalan kaki seperti di negeri Sakura itu?&lt;br /&gt;Masuk ke tikungan kedua. Tanda-tanda rumah yang mendekati nomor itu belum juga ada. Mau menelpon lagi, wartelpun tak nampak dari sekitar sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Maaf, Bu! Mau nanya, dimana rumah Andri, ya?�&lt;br /&gt;�Andri yang mana, ya!?�&lt;br /&gt;�Anaknya putih, tingginya sedang.�&lt;br /&gt;�Anaknya siapa toh?� celetuk seorang dari mereka.&lt;br /&gt;�RT-nya... RT berapa, Dek!?� imbuh yang lainnya penasaran.&lt;br /&gt;�001, No 04!�&lt;br /&gt;�Ooo�Andri anaknya Bu Yayuk itu loh, Mbak!� mereka saling pandang, saling menebak.&lt;br /&gt;�Andri anaknya Bu Yayuk bukan!?�&lt;br /&gt;�Wah, saya nggak tahu, Bu!�&lt;br /&gt;�Adek lurus ke jalan ini, ketemu rumah di depannya, ada seperti pendopo, belok kanan. Rumahnya cat hijau! Nanya disitu ya!?� wakil dariiIbu-ibu itu seperti menaruh iba padaku.&lt;br /&gt;�Terima kasih, Bu!�&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jalan Andara&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sederhana sekali bangunannya. Lima batang tanaman penghias dalam pot yang dipajang rapi di depannya menambah kesan asri. Teras depan berpadu elok dengan semua dinding. Menyejukkan setiap mata yang memandang. Walau ukuran bangunannya hanya seperti rumah petak biasa.&lt;br /&gt;�Assalamualaikum!� sapaku hati-hati.&lt;br /&gt;Takut salah alamat. Begitu mataku tertumbuk ke sebuah papan alamat yang dipajang di dekat pintu masuk, persis sama dengan yang dituliskan Andri, takutku sirna tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Walaikumsalam! Sebentar!� ramah sekali kedengarannya.&lt;br /&gt;�Saya Ari, temannya Andri!�&lt;br /&gt;�Ooo�Mas... yang dibilang Andri, penulis itu ya?�&lt;br /&gt;�Bukan penulis, Bu! Saya masih belajar kok di dunia tulis-menulis!� ujarku santun.&lt;br /&gt;Perempuan itu berlalu ke ruang dapur. Jilbab putih polos ukuran jumbo itu sedikit mengibas ujungnya ulah kipas angin yang dipasang di tengah rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Silahkan di minum, Mas! Sekalian di makan kuenya!�&lt;br /&gt;Segelas syrup rasa orange. Beberapa buah jeruk.  Dalam sungkan aku berusaha menikmatinya.&lt;br /&gt;�Maaf, beginilah rumah Andri!�&lt;br /&gt;�Ooo nggak apa-apa, Bu! Di sini sangat sejuk dan asri sekali!�&lt;br /&gt;�Susah nggak mencari alamatnya? Naik apa tadi ke sini?� sapanya ramah.&lt;br /&gt;�Nggak, Bu! Gampang kok! Tadi, jalan kaki saja, biar sehat!� tangkisku ringan memupuk kepercayaan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lebih tiga jam aku bertamu. Aku pamitan.&lt;br /&gt;�Nggak nunggu Andri dulu, Mas? Tadi Andri nelpon ke rumah. Pulangnya agak sore, katanya!�&lt;br /&gt;�Nggak apa-apa, Bu. Lain kali,  insya Allah saya datang kemari lagi!�&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lewati kembali rute yang sama. Usai menunaikan shalat dzuhur di sebuah mushalla dekat situ, aku renungi kata-kata Ibu tadi.&lt;br /&gt;Andri banyak berubah setelah masuk Rohis. Ibu itu sendiri memutuskan hijrah, selalu berkerudung ukuran jumbo, menjadikan rumahnya sebagai tempat mengaji bagi Ibu-ibu di sekitar tempat itu. Ia sengaja memutuskan pensiun dini dari sebuah perusahaan telekomunikasi terbesar, semata-mata ingin mencari apa-apa yang sesungguhnya di ridhoi Allah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua penuturannya itu bisa ku maklumi. Mungkin malah alasan yang sudah basi. Hal semacam itu banyak pula dialami oleh perempuan-perempuan yang lainnya! Jadi apa istimewanya dengan perempuan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik dan membuat kepalaku menggeleng-geleng adalah keputusannya  berpisah dari suaminya. Bapak bagi tiga anaknya.&lt;br /&gt;�Bapak suka bermain-main dalam masalah aqidah!�&lt;br /&gt;�Maaf maksud ibu!?�&lt;br /&gt;�Bapak berani sekali menebak-nebak masalah nasib orang!�&lt;br /&gt;Ingin aku tanyakan, apakah Bapak seorang paranormal? Tetapi tak enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanyakan sesuatu yang sensitif buat seseorang adalah tak baik! Sebisa-bisa mungkin carilah pertanyaan yang pengganti! Yang membuat orang merasa diperhatikan! Mengiang di telingaku nasehat teman-teman sepengajianku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Begini, Mas! Bapak mengaku pernah didatangi anggota Walisongo. Rumah ini di lindungi oleh Pangeran Jayakarta, anak-anak akan diwariskan oleh bapak semacam ilmu kebatinan, biar bisa terlindungi. Bahkan, bapak secara tak langsung menjadikan rumah ini sebagai praktek kerjanya. Dijadikan tempat buat orang-orang di sekitar sini untuk berkonsultasi. Berbagai macam-macam persoalan. Orang-orang menanyakan bagaimana nasibnya, kalau ia terus bekerja di bidang itu? Bidang ini? Bagaimana cara supaya jualan di warungnya makin laris? Apa benda keramat yang harus dipasang? Bagi para isteri-isteri di sekitar sini, ingin tahu cara apa rahasianya agar tetap disayang suami? Bahkan ada yang minta diberitahukan resep, bagaimana suami tak berpaling ke wanita lain? Sedang yang berprofesi sebagai pekerja kantoran, menanyakan bagaimana triknya agar jabatan aman! Tak diganggu oleh pekerja yang lain? Kalau bisa naik jabatan tiap bulan! Bagi para manula menanyakan, bagaimana resepnya agar selalu tampak awet muda.�&lt;br /&gt;Mulutku membulat. Kepalaku mengangguk-angguk dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Apakah dengan berpisah itu cara terbaik, Bu?�&lt;br /&gt;�Sebenarnya itu memang bukan pilihan terbaik, di antara yang terburuk. Ibu paham, bercerai adalah salah satu perbuatan yang dibenci oleh Allah. Tapi setelah ibu pikir-pikir, renungi, inikan masalah tauhid, ibu khawatir anak-anakkan bertambah besar, kalau satu persatu nanti tergelincir dalam masalah tauhid ini, ibu rasa itu sangat berbahaya. Baik di dunia apalagi di akhirat nantinya! Wallahu�alam!�&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafas ku hela dalam. Mencoba mengerti hati perempuan ini. Di saat ia sedang berupaya mengkaji lebih dalam agama Allah, lewat bimbingan seorang ustadzah, di saat ia putuskan benar-benar kaffah menjalankan syari�at, suaminya malah memberikan contoh yang sangat rentan menggelincirkan keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Mungkin sikap ibu ini tidak syar�i sama sekali! Tapi di satu sisi, demi perkembangan jiwa anak-anak ke depan, ibu memilih berpisah saja! Andri, anak yang sulung, ibu tekankan untuk selalu menyambungkan tali silaturrahmi, selalu membentengi diri dengan shaum Senin-Kamis, tilawah Al-Quran 1 juz I hari, membaca Al-ma�tsurat tiap pagi dan petang hari, tebarkan salam, dan yang tak boleh lupa, menyisihkan sedikit dari rejeki tiap hari, buat infaq, sedeqah serta derma!�&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Prestasi ibadah Andri lainnya, Bu? Maaf, bukan hendak menimbulkan ujub di hati ibu, tapi sebagai contoh buat anak-anak muda seperti kami.�&lt;br /&gt;�Sudah delapan tahun ini, Andri ikut dalam satu kelompok mengaji. Qiyammul lail, sunat fajar, dhuha, istikharah, ibu tekankan benar jangan sampai ditinggalkan! Usai kuliahnya nanti, harapan ibu, Andri bisa menjadi pemuda mandiri. Kalau dimungkinkan, ibu mengharapkan, ia menjadi enterpreneur sejati, wiraswasta, pedagang sukses yang islami. Terserah! Asal bergelut di bidangnya, ekonomi, tapi ekonomi syari�ah! Ibu tak ingin Andri punya mental kantoran! Andri harus punya skill mandiri!�&lt;br /&gt;�Kenapa ibu tak ingin Andri menjadi pekerja kantoran? Ya, karyawan begitu!?�&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Medan dakwah butuh dana yang tidak bisa dibilang kecil. Kalau dana yang di infakkan bersumber bukan dari usaha sendiri, di khawatirkan nantinya akan rentan dan tergantung dari maju mundur kinerjanya kita di perusahaan tersebut. Bukan tak mungkin, harus melaporkan dulu kepada atasan! Sedang rata-rata pengusaha besar di negeri ini....Mas sudah tahu sendirilah! Bila dari sekarang ditekadkan merintis usaha, wiraswasta sendiri, takkan ada waktu tenggang untuk mengucurkan bantuan dalam bentuk apapun! Kapanpun!�&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekagumanku pada jalan pikiran ibu itu, yang merentas waktu  jauh ke masa depan, sungguh di luar dugaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku menyisir kitab-kitab dan buku-buku, serta majalah-majalah islami yang tesusun cantik pada rak buku di salah satu ruang kamar rumah itu. Perpustakaan pribadikah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Wisma Putih, Kawasan Kapuk&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di kost, aku membayangkan, bila saja aku disepuh oleh seorang ibu semacam itu. Entah jadi apa diriku nanti! Juru dakwah, itulah di antara niat di hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, aku semakin sering berinteraksi dengan Andri. Ibaratnya, bila orang berteman dengan penjual minyak wangi, maka ia akan terkena cipratan wanginya. Begitu pula pertemananku dengan Andri pada akhirnya.&lt;br /&gt;Semua bermula hanya dari tebarkan salamnya seorang Andri. Dilanjutkan sampai berkenalan lebih jauh untuk kesekian kalinya. Bahkan aku sampai diajak Andri ke Yogyakarta. Berkenalan dengan semua anggota sanak familinya yang tinggal di kota Budaya, yang juga kota Pendidikan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari semakin saling tukar cerita, saling sehat menasehati, perlahan aku mulai benar-benar punya kebiasaan seperti Andri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa ritual ibadah yang tak pernah aku tinggalkan sampai kini. Qiyamul lail, shalat sunat fajar, dhuha, membaca Al-Quran 1 juz I hari, adalah ulah sentuhan tausyah Andri. Entah apalagi. Aku berharap bisa berbudi emas pula!&lt;br /&gt;Dan menjelang masa kerjaku habis di cottage itu, Aku diminta Andri untuk datang ke rumahnya, di daerah Andara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Mas Ari, kata Ummi, sekarang Mas bukan siapa-siapa lagi, tetapi sudah dianggap keluarga sendiri. Anak angkat Ummi!� ujar Andri dengan senyum penuh arti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummi? Siapakah yang disebut-sebut Andri dengan sebutan ummi? Lama aku menyangsikan apa yang dikatakan Andri itu. Aku berpikir keras apa maksudnya berkata begitu? Benarkah aku aku akan menjadi anak angkat Ummi? Yang berarti anak angkat ibu itu! Anak angkat dari sebuah keluarga yang selalu sibuk dengan urusan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang diceritakan oleh Andri tentang diriku kepada ibunya, hingga memutuskan tiada ragu sedikitpun jua, menganggapku anak angkatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummi dan Andri, sama-sama terjun pula ke sebuah organisasi pergerakan da�wah. Keduanya kini menjadi aktivis. Dan juga, saat ini keduanya sedang menyiapkan diri menjadi murobbi yang sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku berlinang-linang di sela-sela bacaan murottal yang dilantunkan Andri. Sementara aku bergiat mempertebal keyakinan diri. Aku tak perlu terlalu asing lagi hidup di rantau orang. Aku tak perlu merasa sendiri lagi. Tak perlu menitikkan air mata lagi, bila semua masalah tak bisa ku pecahkan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling menambah semangat baru dalam hidupku, Andri bersedia menjadi saksi, saat pernikahanku nanti!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merangkai hari lebih berwarna lagi. Sebab, yang semula biasa ku menyapanya ibu, kini harus ku biasakan memanggilnya Ummi. Di mataku ia memang bukan perempuan biasa. Perempuan itu...ummi...juga guru mengaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru kini aku menyadari, ternyata kedatanganku pertama kali, seharusnya menanyakan dimana rumah guru mengaji tanpa digaji itu? Jawabnya tentu saja perempuan dari Andara. (AaG/FJH)&lt;br /&gt;========&lt;br /&gt;Annida 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32231529-115649374872033554?l=cerpenislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenislami.blogspot.com/feeds/115649374872033554/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32231529&amp;postID=115649374872033554' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115649374872033554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115649374872033554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenislami.blogspot.com/2006/08/perempuan-dari-andara.html' title='Perempuan dari Andara'/><author><name>gdz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32231529.post-115649307404556864</id><published>2006-08-25T01:04:00.000-07:00</published><updated>2006-08-25T01:07:05.226-07:00</updated><title type='text'>[Kisah Islami]  Serial Cita Cinta</title><content type='html'>Episode1. Siang Menyapa Margonda&lt;br /&gt;Kawasan Margonda, Depok, Jawa Barat&lt;br /&gt;Kakiku menyisir trotoar dengan wajah bersepuh peluh. Demam ruko-ruko lebih cepat dari jamur yang sedang ditimpa hujan. Lalu lalang pengguna jalan berpacu tak kenal ampun. Macet? Tentu saja. Apalagi di tepi jalan ini, berdiri dua kampus perguruan tinggi ternama. Para mahasiswanya sungguh meruah sampai ke Margonda, terutama saat jam-jam datang dan pulang kuliah.&lt;br /&gt;Rental &amp; Warnet Bismi-Net&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rutinitasku pagi ini tak jauh berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya. Menjelang mentari sepenggalan naik, aku bergegas mengirimkan naskah-naskah karya via internet di sebuah warnet. Namanya Bisminet. Selain aku bisa berhemat dengan cara seperti ini, penjaga warnetnya juga sungguh ramah. Buatku keramahan salah satu bentuk ikatan-ikatan yang mampu mengatakan, bahwa kita manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serasa dunia tak selebar daun kelor! Itu minimal rasa hatiku bila berlama di dunia maya itu. Namun, justru semakin kurenungkan, yang hadir serta merta adalah bagaimana caranya agar aku bisa keluar secepatnya dari pekerjaan yang sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila sejak pukul sembilan pagi sampai pukul sembilan malam, aku harus bermanis ria di depan sekaligus ruang tunggu, ditemani sebuah kursi rotan. Kalau sofa masih mendingan, plus sebuah meja tulis. Bagian resepsionis cottage yang baru soft launching! Letaknya nyaris di atas puncak bukit. Entah berapa tingginya dari permukaan laut. Kawasan Puncak, Jawa Barat. Lengang memagut di antara gumpalan kabut gunung Pangrango. Itulah hari-hariku. Mana tahan?&lt;br /&gt;Bursa Nurul Fikri, Margonda, Depok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, aku langsung menyambangi majalah-majalah terbaru. ANNIDA, UMMI, SAKSI serta media islam lainnya. Siapa tahu, edisi kali ini di antara media-media itu, salah satunya akan memuat tulisanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau aku tahu ini bukan perpustakaan umum, namun aku tetap memaksakan diri membaca di sini. Bahkan seakan terjadwal. Untunglah sang pemilik, Bursa NF, seperti mahfum adanya dengan hobiku yang satu itu. Gila baca. Padahal nggak beli juga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Assalamualaikum warahmatullah!� sebuah suara menyapa renyah,  disertai sesosok remaja mendekat ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Walaikum salam!� balasku sekenanya. Mungkin terkesan cuek bebek malahan. Buktinya, aku tak sedikitkan memalingkan muka ke arah datangnya suara itu. Dan, aku dengar, sebagai muslim yang baik, jawabanku seharusnya jauh lebih sempurna, lebih lengkap lagi dari orang yang mengucapkan pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, aku terkadang memang kurang cermat memanfaatkan ladang-ladang amal.&lt;br /&gt;�Andri! R. Andri Mahendra!� tangannya diulurkan.&lt;br /&gt;�Pria Takari Utama! Hhmm�anda karyawan sini?� balasku agak beruntun, namun kering.&lt;br /&gt;�Bukan!� gelengnya sambil melepaskan satu senyuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Subhanallah! Lagi nyari buku apa, akhi?� kali ini pertanyaan dari ia yang beruntun. Cukup santun dan friendly kesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Nggak! Cuman baca-baca saja!� imbuhku mulai berpaling lagi. Bahkan acuh tak acuh.&lt;br /&gt;�Kuliah apa sudah bekerja, akhi?� cecarnya malah lebih mendekat dari semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Dua-duanya. Kuliah sambil kerja!� jawabku datar. Lebih acuh. Lebih cuek.&lt;br /&gt;Ada ke-PeDe-an, overacting menjalari jiwaku.&lt;br /&gt;Aku penulis, teman, kalau kamu tau itu! Bisik hatiku. Ada terselip rasa ujub disitu. Astaghfirullah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa aku jadi cepat berbangga pada diri sendiri begini? Padahal baru satu, dua, karyaku dimuat oleh beberapa media. Ya, Allah! Aku istighfar lagi berulang kali di dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada bersebab, tekadku untuk tidak obral siapa aku, juga memudar seketika itu. Seharusnya aku tak perlu mengungkapkan kemampuanku dalam dunia tulis-menulis begini. Kecuali, bila ia bertanya. Sayang, aku sudah kelepasan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sepertinya hal itu seakan-akan menjadi kebiasaan. Aku yang tak pernah mampu dan tak punya kekuatan untuk sekedar menyembunyikan identitas. Sedangkan di negeri ini, bukankah negeri yang dipenuhi oleh para penulis?&lt;br /&gt;�Kamu sendiri?� tantangku hambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Apanya, ya?� balasnya lebih sopan. Lebih santun pula.&lt;br /&gt;�Aktivitasnya!?�&lt;br /&gt;�Masih kuliah, di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam!� jawabnya hati-hati memasang wajah berseri.&lt;br /&gt;Jangan sok alim choy! Lagi-lagi satu bisik hatiku kelepasan. Dibungkus dalam su�udzan pula! Ini orang berlagak lemah-lembut, sok akrab, sok tenang, sok tawadhu! Liarlah pikiranku mengambil kesimpulan yang miring terhadap sikapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Allah, kenapa aku cepat menilai buruk begini? Kenapa sinis memvonis orang?&lt;br /&gt;�Dimana tuh kampusnya?� elakku mengusir perasaan minder diri, karena ia tepat berdiri di sampingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Daerah Dermaga, Bogor. Disitu kampus untuk tempat matrikulasi. Sedang kampus perkuliahan sehari-hari, di kawasan Cibubur, Jakarta Timur!�&lt;br /&gt;�Ooo�!� anggukku berpura tertarik. Di hati setengah mencibir.&lt;br /&gt;�Mungkin antum punya adik atau saudara!?� Andri menatapku lamat-lamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Punya, kenapa memangnya?�&lt;br /&gt;Kemudian, Andri mengeluarkan beberapa lembaran brosur, memberikannya kepadaku. Isi brosur itu memuat profil kampusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin aku katakan, TIDAK PERLU. Namun, sebagai teman baru, aku harus menghargai pemberiannya itu. Setengah mencengir dibumbui seulas senyum nan masam, aku masukkan lembaran-lembaran brosur itu ke dalam tas ransel yang menempel di punggungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya kamu tak perlu memberikan yang tak aku butuhkan, teman! Kembali hadir satu bisikan tak bersahabat dalam hatiku. Kenapa akhir-akhir ini aku menjadi sering berprasangka yang bukan-bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Sekarang mau kemana, akhi?� Andri masih santai tak jauh sedikitpun dari posisiku berdiri. Aku amati ada kesungguhan  disitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Bogor!� Aku mulai ketus.&lt;br /&gt;�Kebetulan ane juga mau ke Bogor! Mungkin kita bisa bareng sekalian!?�&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Boleh! Tapi, aku mau mampir ke kos-an dulu. Nggak jauh kok dari sini. Daerah Kapuk, jalan Margonda. Ada barang yang ketinggalan. Abis itu, mampir dulu ke rumah orangtua angkatku di RTM. Ya, sekadar pamitan,� uraiku menawarkan.&lt;br /&gt;�Bisa!� jawabnya tangkas serta bersemangat.&lt;br /&gt;�Baik, sekarang kita bisa berangkat. Kalau kesorean, kereta dari Jakarta penuh!�&lt;br /&gt;Andri langsung menuju kasir. Kelihatannya ia membayar sebuah buku bacaan Islam yang ia gamit dari tadi. Sedang aku bergegas merampungkan bacaan. Memang nggak niat beli!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Sudah bayar?�&lt;br /&gt;�Alhamdulillah!�&lt;br /&gt;�Yuk!�&lt;br /&gt;Di atas angkotan kota, M-19.&lt;br /&gt;Selama dalam perjalanan, pikiranku kembali menari-nari. Walau sudah saling tegur sapa, saling kenal beberapa menit berlalu, tetap saja, sosok Andri aku sapu rata dengan sosok-sosok yang selalu bergelut di alam pikiranku selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastilah ia sosok laki-laki yang akrab disapa dengan panggilan ikhwan itu, tentunya lengkap dengan atribut keikhwanannya pula. Pilih salah satu dari tanda ikhwan itu. Jenggotan, tas model ransel, ujung celana digulung sampai nyaris setengah di atas betis, doyan pakai gamis, muka yang selalu terkesan basah, abis dicuci, karena wudhu melulu, megang tasbih atau Al-Quran mini, bicaranya pelan plus hati-hati sekali. Plus tunduk-menundukkan pandangan kalau diajak ngomong. Di setiap pembicaraan takkan pernah absen, dan di selang-selingi pakai istilah-istilah bahasa Arab, yang membuat keningku mengerut untuk kesekian kali karena tak mengerti. Aktivitasnya pastilah tak jauh-jauh dari Rohis dan Primus alias Pria Musholla, MABIT (Malam Bina Iman dan Takwa), Aksi damai, yang merupakan bentuk lain cara berdemonstrasi ala para ikhwan. Kalau bukan ini sebagian dari tanda-tanda seseorang disebut ikhwan, lalu apalagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sosok asing seperti Andri hadir sebagai teman baruku, dalam hitungan waktu perkenalan itu mencair, dan berlanjut terus. Hal-hal yang terkesan pribadi, sampai yang sepatutnya saja diceritakan. Berapa orang jumlah saudara, jumlah anggota keluarga, kemudian bertukar pandangan tentang masyarakat, negara. Adu opini tentang perkembangan dunia internasional. Apalagi kalau dunia islam, duh, Andri memang paling getol.&lt;br /&gt;Aku sampai pegel-pegel dan terbatuk-batuk walau hanya sekedar meng-amin-kan saja. Kayak tentara siap siaga mau perang ke Palestina saja! Sedikit-sedikit Andri meneriakkan kata, Allahu Akbar!&lt;br /&gt;Wisma Putih, Kawasan Kapuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Ini kamarku!� ujarku sedikit lebih PeDe, karena ada hal yang hendak kulihatkan padanya. Yaitu, karya-karyaku yang pernah dimuat oleh beberapa media cetak nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Hhmmm�subhanallah ya!� ujarnya mengganggukkan kepala. Kagumkah ia? Atau malah sebaliknya, sebenarnya Andri merespon biasa-biasa saja, tetapi karena ia ingin sekedar menghormatiku, maka ia pilih cara itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Oh iya, ini nomor telepon kampus ane di Dermaga, Bogor. Siapa tau nanti antum ada waktu mau ke sana, ane tunggu. Nomor handphone ane perlu juga nggak?� Andri seperti tak begitu tertarik dengan berbagai bacaan dan buku-buku cerpen serta novel yang aku tawarkan. Kagetkah ia? Atau malah ia khawatir, kedatangannya justru mengganggu rencanaku semula?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Boleh!�&lt;br /&gt;�Masya Allah, ya, tulisan-tulisan antum!� Andri seakan-akan serius. Tapi bagi diriku, sesungguhnya tak perlu disanjung seperti itu. Buat apa meminta komentar pada orang yang memang bukan bidangnya? Hal itu aku lakukan hanya untuk memecah kekakuan bahan pembicaraan.&lt;br /&gt;�Yah�masih penulis pemula sih!�&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andri terus mengamati halaman per halamannya. Apakah ia kagum, atau ia malah entah menyindir? Aku tak mau tahu. Sebab, apa yang kugapai selama ini bukanlah dengan cara yang mudah. Jadi, biar dan terserah ia menanggapinya bagaimana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lebih dari lima belas menit di kos-anku, Wisma putih itu, aku melanjutkan perjalanan ke rumah Abi dan Ummi, yang serasa telah menjadi orangtua angkatku sendiri beberapa bulan belakangan ini. Rumahnya terletak di daerah RTM, Kelapa Dua, Cimanggis, Depok, Jawa Barat.&lt;br /&gt;Griya Tugu Asri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Kamu tunggu di sini sebentar!�&lt;br /&gt;Andri, aku tinggalkan di  pekarangan depan.&lt;br /&gt;�Assalamualaikum!� Aku sudah berdiri di depan pintu.&lt;br /&gt;�Walaikumsalam! Abi dan Ummi pergi!� terdengar samar suara pembantu. Gadis Jawa tujuh belas tahun itu menyambutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Kemana?�&lt;br /&gt;�Nggak bilang mau kemana!�&lt;br /&gt;�Andri, sini!� sahutku berseri. Memberi isyarat mengajaknya masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Ini teman saya, namanya Andri! Masuk, Ndri!� ajakku tanpa diminta atau dipersilahkan oleh pembantu itu terlebih dahulu.&lt;br /&gt;�Makan, Mas Ari!�&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sip! Ini namanya langkah kanan. Mujur. Datang-datang, nggak ada tuan rumah, ditawari makan, siapa yang nggak senang? Bisa ngajak teman makan bersama sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Jangan malu-malu! Anggap saja rumah sendiri!� hiburku. Kata-kata itu kulayangkan ringan tanpa beban pada Andri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kata-kata itu layaknya ku tujukan kepada diri sendiri. Memupuk kepercayaan diri untuk kesekian kali. Karena jarang-jarang aku bertemu dengan peristiwa langka begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, setiap kali aku datang ke sini, selalu ada Abi dan Ummi. Akibatnya, meski sudah ditawarkan aneka makanan dan minuman berulang kali, tetap saja ada rasa malu terselubung, rasa sungkan menyelungkup di hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, aneka makanan dan minuman itu cuman dipelototin doang! Apakah hal semacam ini hanya terjadi pada diriku? Ataukah ada orang lain juga mengalami hal yang serupa? Kenapa malu makan di rumah majikan bila ada tuan rumahnya? Sedangkan perut berdendang menanggung lapar yang malah sampai keroncongan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Silahkan� nambah!� tawarku terkesan sok akrab.&lt;br /&gt;�O,  iya!� Andri tenang sekali.&lt;br /&gt;Duh..rupanya ini orang memang asli kelaparan. Sepotong ayam goreng entah sengaja disisihkan buat tuan rumah, atau entah buat siapa sebenarnya, telah dipindahkan Andri semua ke dalam piringnya tanpa ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�He�eh ambil saja!� imbuhku mengusir kekalutan.&lt;br /&gt;�Syukron!� Andri memasang muka puas berbinar.&lt;br /&gt;�Bagaimana? Sekarang kita langsung ke stasiun UI, naik KRL!?� ujarku terburu, ketika semua yang ada di meja makan, tak ada lagi yang tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cemas campur khawatir, bila orang tua angkatku itu benar-benar datang, lalu membuka pintu. Duh�malunya bisa bertingkat-tingkat. Kemana muka akan aku taruh?&lt;br /&gt;Tanpa banyak kata-kata lagi. Aku buru-buru pamit kepada pembantu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Sampaikan saja salam saya kepada Abi sama Ummi!� suaraku sambil berlalu menutup pintu.&lt;br /&gt;�Subhanallah ya, akhi!� Mahendra mengelus perutnya, sambil memendarkan pandangan ke sekeliling komplek Griya Tugu Asri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawasan RTM&lt;br /&gt;�Sudah�sudah aku bayar!�&lt;br /&gt;Entah kenapa aku berubah baik seketika itu. Reflek membayarkan ongkos angkot untuk Andri, teman baruku. Biasanya aku sangat perhitungan sekali untuk hal-hal keuangan begini. Sampai-sampai ada yang bilang aku pelit!&lt;br /&gt;�Syukron ya, akhi!�&lt;br /&gt;�Sama-sama!�&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sampai lima belas menit dari RTM menuju stasiun.&lt;br /&gt;Pelataran stasiun UI&lt;br /&gt;�Bogor dua, Pak!� Aku merogoh saku lagi.&lt;br /&gt;�Eh�BS, Bayar Sendiri saja ya, Ndri!� celotehku cuek.&lt;br /&gt;�Iya, akhi!�&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cukup lima belas menit menunggu. KRL dari Jakarta menuju Bogor datang.&lt;br /&gt;Hup! Aku sigap melompat, saat tubuhku langsung terjepit oleh tubuh-tubuh yang berpeluh, menyisakan aroma masam! Dan�Andri kelihatannya jauh lebih sigap. Ia mendapat tempat agak ke pojok, padahal sebelumnya ia menggelantung di pintu kereta. Nampaknya ia jauh lebih terbiasa naik kereta di bandingkan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas KRL&lt;br /&gt;Antara aku dan Andri kembali ingin benar untuk saling bertukar cerita. Sayang, himpitan manusia berbaur tak menentu menghalanginya.&lt;br /&gt;Setelah melewati stasiun Bojong Gede, penumpang mulai berkurang. Ada bangku-bangku penumpang yang kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Biasanya Mas Ari dapat ide untuk menulis cerita darimana?� Andri memulai percakapan ketika KRL makin melaju kencang menuju stasiun Bogor.&lt;br /&gt;�Ide? Darimana saja. Pokoknya macam-macam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang dari melihat tampang orang saja, aku bisa menuliskan untuk dijadikan bahan cerita!�&lt;br /&gt;�Hhmmm�bisa begitu ya!?� Andri manggut-manggut. Kadang menggeleng. Menyisakan kerutan di keningnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Cerita yang paling berkesan!?� Andri seakan antusias.&lt;br /&gt;�Semua cerita yang aku buat, berkesan! Apalagi berbau jihad. Biasanya aku harus pontang-panting memburu bahan untuk cerita itu. Soalnya ceritanya agak unik dan perlu data-data akurat. Sebab, tak selamanya fiksi islami itu hanya berdasar imajinasi belaka sang penulis. Tak kalah penting adalah data-data ilmiah, narasumbernya bila memang dibutuhkan untuk mendukung kekuatan cerita!�&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Subhanallah, ya!� kali ini Andri ku lihat berdecak, terkesan memancarkan kekaguman. Entah kagum, apa menyindir, aku tak mau tau. Aku tak mau cepat-cepat lagi bersenang hati, bila ada orang memuji. Yang kadang malah pujian itu bisa berubah sindiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stasiun Bogor.&lt;br /&gt;Senja menyapa di langit kota Hujan itu, saat kereta sampai di stasiun. Aku dan Andri bergegas turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai shalat Magrib kami dirikan dengan berjamaah di musholla stasiun. Aku harus rela terpaksa menunggu Andri satu jam lebih. Katanya, ia sebenarnya sudah ada janji dengan salah seorang temannya. Tapi, nggak apa-apa, nanti bisa diatur. Kilahnya pula. Salah satunya bisa di cancel! Tutupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuju Puncak&lt;br /&gt;�Rua�payu�rua payu!� pekik knek naik turun. Berebutan.&lt;br /&gt;Rua payu? Memang ada nama daerah itu di kawasan Puncak? Setelah ku renungkan, rupanya yang dimaksudkan oleh para knek itu, Cisarua dan Cipayung! Ah�ada-ada saja ulah mereka itu!&lt;br /&gt;Dari cerita Andri, saat kami sudah di atas angkotan kota, menuju kawasan Puncak, ia membeberkan, Ibu itu kehilangan anaknya di atas kereta, lalu ia mencoba memberikan masukan, menghibur, agar sang ibu tabah. Ulah sikapnya itu, sang ibu seakan mendapatkan tempat, meski sekedar tempat mencurahkan segala apa yang ia rasa. Andri sok jadi hero!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serta sederet cerita Andri yang lainnya; tentang bagaimana seharusnya menjadi sosok pribadi muslim. Bagaimana keprihatinnya terhadap dunia internasional yang selalu menskreditkan ummat islam, sampai masalah Palestina. Aku hanya manggut-manggut saja, terkadang mendehem, sekedar membuktikan, sebenarnya aku memperhatikan apa yang disampaikannya.&lt;br /&gt;Hujan lebat menyambut kedatanganku di Cipayung. Untung, tepat di pertigaan jalan hendak menuju ke cottage, hujan mereda seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah! Untuk pertama kali aku merasa Allah sungguh Maha Kuasa atas segala sesuatunya.&lt;br /&gt;Sebab, bagaimana mungkin, hanya dalam hitungan beberapa detik saja, hujan yang tumpah begitu derasnya dari langit, mereda seketika. Kun faya kun! Jadilah, maka jadilah ia, jika Allah berkehendak terhadap sesuatu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembabnya udara malam usai hujan menyambut kedatanganku di cottage. Malam itu aku dan Andri menikmati dinginnya kawasan Puncak. Usai makan malam, shalat isya berjamaah, kemudian murojaah, istilah Andri yang segera kuakrabi, kami banyak tafakur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ba�dha Subuh. Di tengah gumpalan kabut Cipayung. Andri mohon pamitan. Ada mata kuliah yang dimulai jam delapan pagi ini. Aku antarkan ia sampai ke jalan raya Bogor-Puncak. Jalan setapak di pematang sawah, kami tempuh dengan penuh suka cita. Aku lebih banyak menceritakan tentang pengalaman-pengalamanku sesama aktivis semasa kuliah di Yogyakarta dulu. Masa-masa aku beradu argumen dengan para aktivis kampus yang penuh idealis! Padahal ketika dihadapkan pada realita yang sebenarnya, terus terang aku banyak kecewa. Antara idealita dan realita, takkan pernah seirama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Kalau ada off dari kerja, insya Allah, aku akan sempatkan kesana!�&lt;br /&gt;�Ane tunggu!�&lt;br /&gt;�Assalamualaikum warahamtullah!�&lt;br /&gt;�Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh�&lt;br /&gt;Jabat tangan persahabatan kembali bertaut! Di benakku, siang yang menyapa Margonda, takkan terlupa.&lt;br /&gt;@@@&lt;br /&gt;============&lt;br /&gt;Oleh: Arlen Ara Guci &amp;amp; Faris Jihady Hanifa&lt;br /&gt;di &lt;a href="http://www.ummigroup.co.id/annida/"&gt;Annida&lt;/a&gt;, Jan 05&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32231529-115649307404556864?l=cerpenislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenislami.blogspot.com/feeds/115649307404556864/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32231529&amp;postID=115649307404556864' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115649307404556864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115649307404556864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenislami.blogspot.com/2006/08/kisah-islami-serial-cita-cinta.html' title='[Kisah Islami]  Serial Cita Cinta'/><author><name>gdz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32231529.post-115640619340358467</id><published>2006-08-24T00:55:00.000-07:00</published><updated>2006-08-24T01:10:20.776-07:00</updated><title type='text'>[Kisah Islami] Maafkan Ibu, Bidadari Kecilku…..</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Malam belum seberapa tua, mata anak&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;sulungku belum juga bisa dipejamkan. Beberapa buku&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;telah habis kubacakan hingga aku merasa semakin lelah.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;"Kamu tidur donk Dila, Ibu capek nih baca buku terus,&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;kamunya nggak tidur-tidur," pintaku . &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ditatapnya dalam wajahku, lalu kedua tangannya yang&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;lembut membelai pipiku. Dan, oh Subhanallah,&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;kehangatan terasa merasuki tubuhku ketika tanpa&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;berkata-kata diciumnya kedua pipiku. Tak lama, ia&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;minta diantarkan pipis dan gosok gigi. Ia tertidur&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;kemudian, sebelumnya diucapkannya salam dan maafnya&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;untukku. "Maafin kakak ya Bu. Selamat tidur," ujarnya&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;lembut. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kebiasaan itulah yang berlaku dikeluarga kami sebelum&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;tidur. Aku menghela nafas panjang sambil kuperhatikan&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;si sulung yang kini telah beranjak sembilan tahun. Itu&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;artinya telah sepuluh tahun usia pernikahan kami.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dentang waktu didinding telah beranjak menuju tengah&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;malam. Setengah duabelas lewat lima ketika terdengar&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;dua ketukan di pintu. Itu ciri khas suamiku. Seperti&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;katanya barusan ditelepon, bahwa ia pulang terlambat&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;karena ada urusan penting yang tak bisa ditunda besok.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Suamiku terkasih sudah dimuka pintu. Cepat kubukakan&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;pintu setelah &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;sebelumnya menjawab salam. "Anak-anak sudah tidur?"&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pertanyaan itu yang terlontar setelah ia bersih-bersih&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;dan menghirup air hangat yang aku suguhkan. "Sudah,"&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;jawabku singkat. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;"Kamu capek sekali kelihatannya. Dila baik-baik saja?"&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Aku menggangguk. "Aku memang capek. Tapi aku bahagia&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;sekali, bahkan aku pingin seperti ini seterusnya."&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu menatapku&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;dengan sedikit bingung. "Akan selalu ada do'a untukmu,&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;karena keikhlasanmu mengurus anak-anak dan suami&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;tentunya. Dan aku akan minta pada Allah untuk&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;memberimu pahala yang banyak," hiburnya kemudian. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Aku tahu betapa ia penasaran ingin tahu apa yang&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;hendak aku katakan, tapi ia tak mau memaksaku untuk&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;bercerita. Tak sanggup aku menahan gejolak perasaan&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;dalam dada yang sepertinya hendak meledak. Kurangkul&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;erat tubuhnya. "Maafkan aku mas," bisikku dalam hati.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pagi ini udara begitu cerah. Dila, sulungku yang&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;semalam tidur paling akhir menjadi anak yang lebih&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;dulu bangun pagi. Bahkan ia membangunkan kami untuk&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;sholat subuh bersama. Mandi pagipun tanpa dikomandoi&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;lagi. Dibantunya sang adik, Helmi, memakai celana.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dila memang telah trampil membantuku mengurus adiknya.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tak hanya itu, menyapu halamanpun ia lakukan. Tapi itu&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;dengan catatan, kalau ia sedang benar-benar ingin&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;melakukannya. Kalau "angot" nya datang, wah, wah, wah.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Inilah yang ingin aku ceritakan. Dila kerap marah&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;berlebihan tanpa sebab yang jelas, sampai membanting&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;benda-benda didekatnya, menggulingkan badan dilantai&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;dan memaki dengan kata-kata kotor. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Memang aku pernah melakukan suatu kesalahan saat aku&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;kesal menghadapi ulahnya. Saking tak tertahannya&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;kesalku, aku membanting pintu dan itu dilihatnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Wajar saja kalau akhirnya Dila meniru perbuatanku itu.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Penuh rasa sesal saat itu, aku berjanji untuk tidak&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;melakukan hal itu kembali. Kuberikan penjelasan pada&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dila bahwa aku salah dan hal itu tak boleh ia lakukan.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Entah ia mengerti atau tidak.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Hari itu Dila bangun agak siang karena kebetulan hari&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Minggu, pakaiannya basah kena ompol. Padahal ia tak&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;biasanya begitu. Segera saja kusuruhnya mandi. Tapi&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dila menolak, dengan alasan mau minum susu. "Boleh,&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;tapi setelah minum susu , kakak segera mandi ya karena&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;baju kakak basah kena ompol" Dila menyetujui&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;perjanjian itu. Tapi belum lagi lima menit setelah&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;habis susu segelas, ia berhambur keluar karena&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;didengarnya teman-temannya sedang main. Mandipun urung&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;dikerjakan. Aku masih mentolelir. Tapi tak lama&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;berselang "Kak Dila. mandi dulu," aku setengah&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;berteriak memanggilnya karena ia sudah berada diantara&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;kerumunan anak yang sedang main lompat tali. "Sebentar&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;lagi Bu. Kakak mau lihat Nisa dulu," begitu jawabnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Aku masih belum bereaksi. Kutinggal ia sebentar karena&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Helmi merengek minta susu. Setelah membuatkan susu&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;untuknya, aku keluar rumah lagi. Kali ini menghampiri&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dila. "Waktumu sudah habis, sekarang kamu mandi",&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;bisikku pelan ditelinganya. Dila bereaksi menamparku&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;keras, "Nanti dulu!" aku tersentak, mendadak emosiku&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;membludak. Aku balas menampar Dila hingga meninggalkan&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;bekas merah di pipi kanannya. Tanpa berkata-kata lagi,&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;kuseret tangannya sekuat tenaga. Dila terus meronta.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kakiku digigitnya. Aku dengan balas mencubit. Layaknya&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;sebuah pertarungan besar kami saling memukul dan&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;meninggikan suara. Setibanya dikamar mandi Dila&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;kuguyur berulang-ulang, kugosok badanya dengan keras,&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;kuberi sabun dan kuguyur lagi hingga ia tampak&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;gelagapan. Aku benar benar kalap. Selang beberapa&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;menit kemudian, kukurung Dila dikamar mandi dalam&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;keadaan masih tidak berpakaian. Ia menggedor-gedor&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;pintu minta dibukakan. Berulang kali ia memaki dan&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;mengatakan akan mengadukan kepada ayah.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tak berapa lama kemudian suara Dila melemah, hanya&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;terdengar isak tangisnya. Aku membukakan pintu dengan&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;mengomel. "Makanya, kalau disuruh mandi jangan&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;menolak, Ibu sampe capek, dari tadi kamu menolak mandi&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;terus. Awas ya kalau seperti ini lagi. Ibu akan kunci&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;kamu lebih lama lagi. Paham!", entah ia mengerti atau&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;tidak. Dila hanya menangis meski tidak lagi meraung. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Setelah rapih berpakaian, menyisir rambut dan makan.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dila seolah melupakan kejadian itu. Iapun asyik&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;kembali main dengan teman-temannya. Peristiwa itu&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;tidak hanya satu dua kali terjadi. Tidak hanya pada&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;saya ibunya tapi juga pada ayahnya. Tapi, cara suamiku&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;memperlakukan Dila sangat berbeda. Barangkali memang&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;dasarnya aku yang tidak sabar menghadapi anak rewel.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tiap kali itu terjadi, cara itulah yang aku lakukan&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;untuk mengatasinya. Bahkan mungkin ada yang lebih&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;keras lagi dari itu.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tapi apa yang dilakukan Dila pada saya, Subhanallah,&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dila tak pernah menceritakan perlakuanku terhadapnya&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;kepada siapapun. Seolah ia pendam sendiri dan tak&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;ingin diketahui orang lain. Akupun tak pernah&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;menceritakan kepada suami, khawatir kalau ia marah. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Padahal Dila itu anak kandungku, anak yang keluar dari&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;rahimku sendiri. Aku kadang membencinya, tidak&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;memperlakukan dia layaknya aku memperlakukan Helmi&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;adiknya. Dila anak yang cerdas. Selalu ceria, gemar&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;menghibur teman-temannya dengan membacakan mereka buku&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;yang tersedia dirumah. Bahkan teman-temannya merasa&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;kehilangan ketika Dila menginap di rumah neneknya&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;diluar kota, yang cuma dua malam.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Belaian lembut tangan suamiku menyadarkan aku. Kulepas&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;pelukanku perlahan. Tak sadar air mata menyelinap&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;keluar membasahi pipi. "Sudahlah, malam semakin larut.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ayo kita tidur," ajaknya lembut. Aku berusaha&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;menenangkan gemuruh dibatinku. Astaghfirullah, aku&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;beristighfar berulang kali. "Aku mau tidur dekat Dila&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;ya?" pintaku. Lagi-lagi kearifan suamiku membuatku&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;semakin merasa bersalah. Kuhampiri Dila yang tampak&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;pulas memeluk guling &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;kesayangannya. Siswi kelas tiga SD itu begitu baik&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;hati. Aku malu menjadi ibunya yang kerap memukul,&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;berkata-kata dengan suara keras dan...oh Dila maafkan&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ibu.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Disisi Dila bidadari kecilku, aku bersujud di tengah&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;malam. " Ya Allah, melalui Dila, Engkau didik hambamu&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;ini untuk menjadi ibu yang baik. Aku bermohon ampunan&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;kepada-Mu atas apa yang telah kulakukan pada&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;keluargaku, pada Dila. Beri hamba kesempatan&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="attentionline" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 41.75pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;memperbaiki kesalahan dan ingatkan hamba untuk tidak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;mengulanginya lagi. Dila, maafkan Ibu nak, kamu banyak&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;memberi pelajaran buat Ibu." &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sebuah renungan untuk para ibu (termasuk saya&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;didalamnya). Semoga kita semakin menyayangi anak-anak&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;dan memperlakukan mereka dengan baik. Sebagaimana&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;diingatkan dalam sebuah hadits Nabi SAW agar manusia&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;menyayangi anak-anaknya. Ketika Aqra' bin Habis At&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tamimi mengatakan bahwa ia memiliki sepuluh anak tapi&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;tak pernah mencium salah seorang diantara mereka,&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Rasululloh SAW bersabda "barangsiapa yang tidak&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;menyayangi maka dia tidak disayangi" (HR. Bukhari dan&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tirmizi) &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;(Gesang Utari, gesangutari@hotmail.com)&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;from : Eramuslim.Com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32231529-115640619340358467?l=cerpenislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenislami.blogspot.com/feeds/115640619340358467/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32231529&amp;postID=115640619340358467' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115640619340358467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115640619340358467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenislami.blogspot.com/2006/08/kisah-islami-maafkan-ibu-bidadari.html' title='[Kisah Islami] Maafkan Ibu, Bidadari Kecilku…..'/><author><name>gdz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32231529.post-115640596659890024</id><published>2006-08-24T00:51:00.000-07:00</published><updated>2006-08-24T00:52:46.686-07:00</updated><title type='text'>[Kisah Islami] Menanti Bangau Lewat</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;MENANTI BANGAU TERBANG LEWAT&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Source : Hokoriku-MOL&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Teng !…jam dinding berdentang satu kali. Malam semakin larut, tapi Anis masih duduk di ruang tengah. Sejak tadi matanya sulit terpejam. Baru beberapa jam yang lalu Ibu Mas Iqbal, suaminya, menelepon, &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Nis, &lt;i&gt;Alhamdulillah&lt;/i&gt;, barusan ini keponakanmu bertambah lagi...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; suara ibu terdengar &lt;i&gt;sumringah&lt;/i&gt; di ujung sana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;"Alhamdulillah&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;…, laki-laki atau perempuan Bu ?&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Anis tergagap, kaget dan senang. Sudah seminggu ini keluarga besar Mas Iqbal memang sedang berdebar-debar menanti berita Dini, adik suaminya, yang akan melahirkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Laki-laki, cakep lho Nis, mirip Mas mu waktu bayi…&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ibu tertawa bahagia. Dini memang adik yang termirip wajahnya dengan Mas Iqbal.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Selamat ya Bu nambah cucu lagi, salam buat Dini, insya Allah besok pulang kerja Anis dan Mas Iqbal akan jenguk ke rumah sakit&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; janji Anis sebelum menutup pembicaraan dengan Ibu yang sedang menunggu Dini di rumah sakit.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Setelah menutup telpon Anis termenung sesaat. Ia jadi teringat usia pernikahannya yang telah memasuki tahun ke lima, tapi belum juga ada tangis si kecil menghiasi rumah mereka. Meskipun demikian ia tetap ikut merasa sangat bahagia mendengar berita kelahiran anak kedua Dini di usia pernikahan mereka yang baru tiga tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Koq melamun !…&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Mas Iqbal yang baru keluar dari kamar mandi mengagetkannya. Ia memang pulang agak malam hari ini, ada rapat di kantor katanya. Air hangat untuk mandinya sempat Anis panaskan dua kali tadi.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mas, ibu tadi mengabari Dini sudah melahirkan, bayinya laki-laki&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; cerita Anis.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Alhamdulillah&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;...Dila sudah punya adik sekarang&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; senyum Mas Iqbal sambil mengeringkan rambutnya, tapi entah mengapa Anis menangkap ada sedikit nada getir dalam suaranya. Anis menepis perasaannya sambil segera menata meja menyiapkan makan malam.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Selepas Isya bersama, Mas Iqbal segera terlelap, seharian ini ia memang lelah sekali. Anis juga sebenarnya agak lelah hari ini. Ia memang beruntung, selepas kuliah dan merasa tidak nyaman bekerja di kantor, Anis memutuskan untuk membuat usaha sendiri saja. Dibantu temannya seorang notaris, akhirnya Anis mendirikan perusahaan kecil-kecilan yang bergerak di bidang &lt;i&gt;design interior&lt;/i&gt;. Anis memang berlatar pendidikan bidang tersebut, ditambah lagi ia punya bakat seni untuk merancang sesuatu menjadi indah dan menarik. Bakat yang selalu tak lupa disyukurinya. Keluarga dan teman-teman banyak yang mendukungnya, akhirnya sekarang ia sudah memiliki kantor mungil sendiri tidak jauh dari rumahnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dan, seiring dengan kemajuan dan kepercayaan yang mereka peroleh, perusahaannya sedikit demi sedikit mulai dikenal dan dipercaya masyarakat. Tapi Anis merasa itu tidak terlalu melelahkannya, semua dilakukan semampunya saja, sama sekali tidak memaksakan diri, malah menyalurkan hobi dan bakatnya merancang dan mendesign sesuatu sekaligus mengisi waktu luangnya. Beberapa karyawan cekatan sigap membantunya. Malah sekarang sudah ada beberapa &lt;i&gt;designer interior&lt;/i&gt; lain yang bergabung di perusahaan mungilnya. Itu sebabnya sesekali saja Anis agak sibuk mengatur ketika ada pesanan mendesign yang datang, selebihnya teman-teman yang mengerjakan. Waktu Anis terbanyak tetap buat keluarga, mengurus rumah atau masak buat Mas Iqbal meski ada Siti yang membantunya di rumah, menurutnya itu tetap pekerjaan nomor satu. Anis juga bisa tetap rutin mengaji mengisi ruhaniahnya. Namun karena kegiatannya itu, biasanya ia tidur cepat juga, tapi malam ini rasa kantuknya seperti hilang begitu saja. Berita dari ibu tadi membuat Anis teringat lagi. Teringat akan kerinduannya menimang si kecil, buah hatinya sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lima tahun pernikahan adalah bukan waktu yang sebentar. Awalnya Anis biasa saja ketika enam bulan pertama ia tak kunjung hamil juga, ia malah merasa punya waktu lebih banyak untuk suaminya dan merintis kariernya. Seiring dengan berjalannya waktu dan tak hentinya orang bertanya, dari mulai keluarga sampai teman-temannya, tentang kapan mereka menimang bayi, atau kenapa belum hamil juga, Anis mulai khawatir. Fitrahnya sebagai wanita juga mulai bertanya-tanya, apa yang terjadi pada dirinya, atau kapan ia hamil seperti juga pasangan-pasangan lainnya… Atas saran dari banyak orang Anis mencoba konsultasi ke dokter kandungan. Seorang dokter wanita dipilihnya. Risih juga ketika menunggu giliran di ruang tunggu klinik, pasien di sekitarnya datang dengan perut membuncit dan obrolan ringan seputar kehamilan mereka. Atau ketika salah seorang diantara mereka bertanya sudah berapa bulan kehamilannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saya tidak sedang hamil, hanya ingin konsultasi saja…&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; senyum Anis sabar meski dadanya berdebar, sementara Mas Iqbal semakin pura-pura asyik dengan korannya. Anis bernafas lega ketika dokter menyatakan ia sehat-sehat saja. Hindari stress dan lelah, hanya itu nasehatnya.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setahun berlalu. Ditengah kebahagiaan rumah tangganya ada cemas yang kian mengganggu Anis. Kerinduan menimang bayi semakin menghantuinya. Sering Anis gemas melihat tingkah polah anak-anak kecil disekitarnya, dan semakin bertanya-tanya apa yang terjadi dengan dirinya. Setelah itu mulailah usaha Anis dan suaminya lebih gencar dan serius mengupayakan kehamilan. Satu demi satu saran yang diberikan orang lain mereka lakukan, sejauh itu baik dan tidak melanggar syariat Islam. Beberapa dokter wanita juga kadang mereka datangi bersama, meski lagi dan lagi sama saja hasilnya. Sementara hari demi hari, tahun demi tahun terus berlalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kadang Anis menangis ketika semakin gencar pertanyaan ditujukan padanya atau karena cemas yang kerap mengusik tidurnya. Mas Iqbal selalu sabar menghiburnya &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Anis...apa yang harus disedihkan, dengan atau tanpa anak rumah tangga kita akan berjalan seperti biasa. Aku sudah sangat bahagia dengan apa yang ada sekarang. &lt;i&gt;Insya Allah&lt;/i&gt; tidak akan ada yang berubah dalam rumah tangga kita…&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; goda Mas Iqbal suatu ketika seperti bisa membaca jalan pikirannya. Suaminya memang tahu kapan Anis sedang mendalam sedihnya dan harus dihibur agar tidak semakin larut dalam kesedihannya. Di saat-saat seperti itu memang cuma suaminya yang paling bisa menghiburnya, tentu saja disamping do'a dan berserah dirinya pada Allah. Kadang Anis heran kenapa Mas Iqbal bisa begitu sabar dan tenang, seolah-olah tidak ada apapun yang terjadi. Dia selalu ceria dan optimis seperti biasa. Apakah memang pria tidak terlalu memasukkan unsur perasaannya atau mereka hanya pintar menyembunyikan perasaan saja? Anis tidak tahu, yang pasti sikap Mas Iqbal banyak membantu melewati masa-masa sulitnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebenarnya Anis juga bukan selalu berada dalam kondisi sedih seperti itu. Sesekali saja ia agak terhanyut oleh perasaannya, biasanya karena ada faktor penyulutnya, yang mengingatkan ia akan mimpinya yang belum terwujud itu. Selebihnya Anis bahagia saja, bahkan banyak aktivitas atau prestasi yang diraihnya. Buatnya tidak ada waktu yang disia-siakan. Selagi sempat, semua peluang dan kegiatan positif dilakukannya. Kadang-kadang beberapa teman menyatakan kecemburuannya terhadap Anis yang bisa melakukan banyak hal tanpa harus disibuki oleh rengekan si kecil. Anis tersenyum saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Anis juga tidak pernah menyalahkan teman-temannya kalau ketika sesekali bertemu obrolan banyak diisi tentang anak dan seputarnya. Buatnya itu hal biasa, usia mereka memang usia produktif. Jadi wajar saja kalau pembicaraan biasanya seputar pernikahan, kehamilan, atau perkembangan anak-anak mereka yang memang semakin lucu dan menakjubkan, atau cerita lain seputar itu. Biar bagaimanapun Anis menyadari menjadi ibu adalah proses yang tidak mudah dan perlu belajar atau bertukar pengalaman dengan yang lain. Tapi kadang-kadang, sesekali ketika Anis sedang sedih, rasanya ia tidak mau mendengar itu dulu. Anis senang juga jika ada yang berusaha menjaga perasaannya diwaktu-waktu tertentu, dengan tidak terlalu banyak bercerita tentang hal tersebut, bertanya, atau malah menyemangati dengan do&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;'&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;a dan dukungan agar sabar dan yakin akan datangnya si kecil menyemarakkan rumah tangganya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Anis tersadar dari lamunannya. Diminumnya segelas air dingin dari lemari es. Sejuk sekali. Meskipun malam tapi udara terasa pengap. Ditambah lagi berwudhu ditengah malam, melunturkan sebagian besar kemelut dalam dadanya. Setelah membangunkan suaminya, Anis shalat malam berdua. Di akhir shalat air mata Anis membasahi sajadahnya. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Rabbi..., ampunilah dosa-dosa kami, jangan beri kami cobaan yang tidak kuat kami menanggungnya. Beri kami kekuatan dalam menjalani semuanya. Perkenankan kami memiliki buah hati pewaris kami, penerus kami dalam menegakkan Dien-Mu. Hanya ridha-Mu yang kami cari. Sungguh tidak ada yang lain lagi...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;. Selesai shalat Anis terlelap. Dalam mimpinya ia bermain bersama beberapa gadis kecil. Senang sekali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Suatu siang di kantornya, Anis sedang merancang sebuah ruang pameran. Ada festival Islam yang akan digelar, mungkin karena tidak banyak designer interior berjilbab rapi seperti Anis, ia dipercaya merancangnya. Ketika sedang mencorat-coret gambar, Fitri mengejutkannya, &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mbak Anis, ada tamu yang mau bertemu&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dari mana Fit ?&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; tanya Anis.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Katanya dari Yayasan Amanah, mbak, mau menawarkan kerja sama&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Iya deh, saya kedepan sepuluh menit lagi&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; jawab Anis.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setelah bincang-bincang dengan tamunya akhirnya Anis menyepakati kerja sama menyantuni beberapa anak-anak yatim yang diasuh yayasan tersebut. Anis memang selalu menyisihkan rezkinya untuk mereka yang membutuhkan. Perusahaan mungil yang dikelolanya selalu berusaha menjalankan syariat Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sejak itu Anis punya kegiatan baru, menyantuni dan mengasuh beberapa anak yatim bersama yayasan tersebut. Tidak banyak kegiatan sebenarnya, hanya laba perusahaan kecilnya yang tidak seberapa disisihkan sebagian untuk disalurkan sebagai beasiswa untuk beberapa anak-anak tersebut. Itupun setelah dimusyawarahkan dengan semua teman-teman dan disetujui bersama. Tapi banyak hikmah yang Anis dapatkan. Sesekali Anis jadi bertemu dan bersahabat dengan mereka. Anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya sehingga tidak seberuntung yang lain, yang mendapat curahan perhatian dan kasih sayang berlimpah dari orang tua. Mereka memang kurang beruntung, tapi kesabaran dan ketegaran mereka membuat Anis malu menyadari dirinya yang rapuh, mudah mengeluh dan sedih. Anis jadi menyadari betapa sebenarnya karunia yang diberikan Allah padanya begitu banyak dan berlimpah. Kalaupun ada satu atau dua hal yang luput, itu tidak seberapa dibandingkan dengan yang ia telah dapatkan. Anis jadi menata dirinya untuk lebih sabar dan banyak bersyukur. Dengan banyak bersyukur tentu Ia akan lebih banyak memberikan lagi nikmat-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bu Anis, kuenya enak sekali...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; puji Ina tulus. Mata polosnya bersinar senang. Ia memang anak yang manis, kelas 5 SD dan selalu ranking satu di kelasnya, ibunya hanya penjual gado-gado dengan tiga orang anak, sementara ayahnya sudah meninggal sejak Ina kelas satu. Minggu pagi cerah ini Anis memang mengundang beberapa anak asuhnya ke rumah beserta beberapa orang pengurus yayasan. Sejak kemarin ia dan Mas Iqbal pontang-panting menyiapkan semuanya. Sebenarnya bisa saja Anis pesan makanan, tapi entah kenapa ia ingin menyiapkan sendiri, untungnya Mas Iqbal setuju dan membantunya penuh.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bu Anis, sup nya Farouk tumpah....&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; jerit Atikah nyaring.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Anis sibuk melayani mereka, Mas Iqbal juga tak kalah repot. Sekarang Anis memang semakin dekat dengan mereka, ia berusaha memberikan kasih sayang dan perhatian atau bimbingan semampunya. Mereka banyak membuka mata dan hatinya. Anak-anak malang yang membutuhkan kasih sayang dan bimbingan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Selesai acara Anis kecapekan luar biasa, anak-anak itu terkadang manja dan mencari perhatiannya saja, tapi Anis senang. Tamu-tamu kecil itu menyemarakkan rumahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Keesokan paginya Anis bangun agak siang. Selesai shalat subuh dan menyiapkan keperluan Mas Iqbal, ia tertidur lagi. Suaminya berangkat kerja tanpa pamit, kasihan pada Anis yang sepertinya masih kelelahan. Anis sendiri tidak pergi kerja hari ini, ia sudah izin sebelumnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jam setengah delapan pagi Anis terbangun oleh dering telepon dari ibunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Anis, selamat ulang tahun ya…semoga semakin bertambah keimanannya, sehat, bahagia dan cepat mendapatkan momongan&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, ujar ibu mendo'akan.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Terima kasih ya, Bu&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Anis tersadar bahwa hari ini usianya bertambah lagi. Sebenarnya ia tak pernah menganggap istimewa, tapi kalau ada yang ingat ya senang juga.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Masih sering sedih nggak?...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ibu menggodanya. Selain Mas Iqbal memang ibu yang paling memahami perasaannya dan tentu saja yang paling sering menghibur dan mendo'akannya.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ingat lho Nis, apa saja yang kita dapatkan itu sudah hasil seleksi dari sana dan itu adalah yang terbaik untuk kita. Kita harus ikhlas, sabar, dan senang menerimanya. Istri-istri Rasululloh pun ada yang tidak diberi momongan dan itu bukan dosa. Yang penting kita tak putus usaha dan berdo'a, bagaimana hasilnya biar Allah saja yang menentukan&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, ibu menasehati.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Iya Bu&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; jawab Anis hampir tak terdengar. Ia terharu ibu selalu memperhatikan dan menghiburnya.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setelah menutup telpon dari ibu Anis dikejutkan lagi oleh selembar surat di meja, yang ini ucapan selamat dari Mas Iqbal rupanya. Anis tersenyum membacanya tapi matanya akhirnya basah juga. Suaminya memang selalu sabar dan penuh perhatian, tak pernah sekalipun ia menyakiti hati Anis, kalaupun ada perbedaan pendapat selalu ia selesaikan dengan bijak. Tiba-tiba Anis merasakan lagi betapa besar nikmat yang telah dilimpahkan kepadanya. Rasanya tidak ada lagi alasan untuk bersedih, apalagi putus asa. Kalau memang sudah tiba waktunya dan baik untuknya, tentu harapan dan do'anya akan dikabulkan. Ia yakin tidak akan ada do'a dan usaha yang sia-sia. Hanya Allah yang tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya, tidak mungkin Ia mendzholimi hamba-Nya dan Ia yang akan mengabulkan do'a. &lt;i&gt;Insya Allah&lt;/i&gt; mungkin esok hari. Ya, siapa tahu… (er)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui." (Al Ankabuut, 64)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32231529-115640596659890024?l=cerpenislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenislami.blogspot.com/feeds/115640596659890024/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32231529&amp;postID=115640596659890024' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115640596659890024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115640596659890024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenislami.blogspot.com/2006/08/kisah-islami-menanti-bangau-lewat.html' title='[Kisah Islami] Menanti Bangau Lewat'/><author><name>gdz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32231529.post-115640577162053960</id><published>2006-08-24T00:46:00.000-07:00</published><updated>2006-08-24T00:49:34.006-07:00</updated><title type='text'>[Cerpen Islami] Mencari Senyum</title><content type='html'>&lt;h1 style="text-align: center; font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Mencari Senyum&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;h1 style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Helvy Tiana Rosa&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;h2 style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal; color: rgb(0, 0, 153);font-size:100%;" &gt;Seorang lelaki tua dengan langkah tertatih-tatih memasuki sebuah kota. Wajahnya kusut, matanya liar dan pakaiannya kumal. Beberapa orang yang berpapasan dengannya segera menyingkir.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p&gt;Di suatu tempat, di bawah sebuah pohon setua dirinya, lelaki itu tersungkur. Perlahan ia mencoba bangkit dan kembali memandangi orang yang lalu lalang di kota itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: “Tolong…! Tolonglah aku! Tolong…!” (mengiba, mengulang-ulang perkataannya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua lelaki muda melintas di hadapannya. Memandang sekilas kemudian menghampirinya. Lelaki tua itu terus merintih-rintih. Beberapa orang lewat begitu saja tanpa peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: “Ada apa, Pak? Ada apa?” (memegang tangan, membimbing lelaki tua itu bangkit)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: “Ya, apa ada yang bisa kami bantu?” (prihatin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: “Tolonglah saya. Tolong! Saya…saya mencari sesuatu yang telah tak ada lagi di kota kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua lelaki muda itu saling berpandangan heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: “Sesuatu yang tak ada lagi di kota bapak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: “Ya…,aku mencari sesuatu yang sangat berharga, yang tiba-tiba saja tercerabut dari wajah semua orang di kota kami.” (manggut-manggut, sedih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 dan lelaki 2: “Apa itu…?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: (menerawang penuh harap) “Sebuah senyuman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 dan 2: “Senyuman?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: “Aneh. Bapak bilang bapak mencari sebuah senyuman. Apa saya tidak salah dengar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: (menggeleng-gelengkan kepala) “Ya, aku sudah berjalan begitu jauh, mencari sebuah senyuman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: “Jangan bergurau! Semua manusia diciptakan dengan wajah. Di dalam wajah kita, ada bibir yang bisa digerakkan begini, begini dan begitu (menggerakkan bibirnya ke depan, ke samping dan sebagainya dengan kesal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: “Ya, bahkan orang segila apa pun masih memiliki senyuman. Aku benar-benar tak mengerti. ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: “Kalau begitu kalian menganggapku lebih dari gila!? (sewot). Dengar, aku tidak mengada-ada! Semua orang di kotaku sudah tak bisa lagi tersenyum! Titik!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 dan 2 saling berpandangan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 : (menarik napas panjang, menggaruk-garuk kepala yang tak gatal) “ Baiklah. Sesuatu terjadi tentu ada sebabnya. Mungkin aku pun telah gila, tetapi aku ingin tahu hal apa yang menyebabkan penduduk di kota kalian tak bisa tersenyum?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: “Ya, apa ada orang-orang yang berkeliaran dan menjahit semua bibir penduduk di kotamu, sehingga mereka tak bisa lagi tersenyum atau membuka mulut untuk tertawa?” (mengejek)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: (menggeleng, serius) “Tidak. Bahkan jahitan-jahitan di mulut kami telah dilepaskan. Dulu memang penduduk kota kami tidak bisa bicara, kecuali (mencontohkan) Hm…hm…(mengangguk-angguk), tetapi kini, setelah jahitan-jahitan dilepaskan dari bibir kami, entah mengapa bibir kami menjadi kebas. Kami bebas berkata-kata tetapi tak bisa lagi tersenyum. Bahkan, bila kami mencoba untuk tertawa yang keluar adalah amarah, tangisan dan airmata….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: “Aku tak mengerti. Aku benar-benar tak mengerti. Lebih baik aku pergi daripada mendengarkan celotehan orang gila ini!” (kesal dan berbalik akan pergi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: (mengejar lelaki 2 yang bergegas pergi) “Tunggu, teman! Tetapi…kurasa, entahlah…, ia datang dari jauh, mungkin ia mengatakan yang sebenarnya, dan mungkin kita bisa kita menolongnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: (cemberut) “ Menolong? Bagaimana menolong orang gila ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 bergegas menghampiri lelaki tua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: “Katamu seluruh penduduk di kotamu tak dapat lagi tersenyum?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: (manggut-manggut): “Ya…,ya….” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Lelaki 1: “Berarti kau juga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: (manggut-manggut lagi) “Tentu saja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 bergegas kembali menghampiri Lelaki 2. Wajahnya lebih cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: “Dengar, lelaki tua itu mengaku bernasib sama dengan seluruh penduduk di kotanya! Ia juga tak bisa tersenyum! Tugas kita adalah menolongnya agar ia bisa tersenyum lagi! Nah, setelah ia bisa tersenyum kembali, mungkin hal ini akan berpengaruh pada para penduduk kota itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: (Bengong) “Jadi…kita harus membuatnya tersenyum?“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: “Ya, tunggulah sebentar di sini. Aku akan menyuruh orang membawa makanan dan minuman yang enak untuknya. Siapa tahu ia akan tersenyum.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: “Tentu saja (setuju, yakin), ia akan tersenyum dan berterimakasih pada kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 meninggalkan tempat itu. Lelaki 2 sesekali memperhatikan si lelaki tua. Wajah lelaki tua itu keras, dingin, dan penuh curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, Lelaki 1, kembali bersama seorang lelaki lain bergaya genit (lelaki 3) yang membawa baki penuh berisi makanan dan minuman yang enak. Mereka meletakkan nampan besar itu di hadapan si lelaki tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: “Ini kubawakan makanan dan minuman lezat. Nikmati dan tersenyumlah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: (memakan makanan dan minuman itu dengan rakus) “Terimakasih….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: (menghampiri) “Mengapa kau tak mengucapkan terimakasih sambil tersenyum pada kami?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua : “Sudah kukatakan, aku tak bisa tersenyum!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1,2,3 saling berpandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: “Aku akan menggelitik kakinya. Biasanya bila digelitik, orang pasti akan tertawa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 : “Ya, ya…, ide yang bagus!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 3: (bindeng) “Aih, ike juga setuju!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2 segera menggelitik kaki lelaki tua itu, tetapi tak ada reaksi. Ia menggelitik sekujur badan orangtua itu. Sia-sia. Lelaki tua tersebut tak juga tertawa. Akhirnya ketiga lelaki itu menggelitik sekujur badannya secara bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: “Aduh…aduh, sakit! Aduh perih! A…duh!” (mengerang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1,2,3: (Terkejut, menghentikan tindakan mereka) “Sakit? Perih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: “Mengapa kau tak tersenyum? Seharusnya kau tertawa! Orang akan tertawa bila kegelian!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki tua: (melotot) “Aku tidak bisa, tahu! Bodoh! Bukankah sudah kukatakan sejak tadi, aku tak bisa lagi tersenyum. Jadi berhentilah melakukan hal yang konyol! Tolong aku, anak muda!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1,2,3 berpandangan keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: (bangkit) “Sebentar, aku punya akal!” (pergi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2 dan 3 bangkit sambil memandang lelaki tua itu sebal. Mereka bolak-balik di hadapan lelaki tua itu sambil memikirkan cara membuatnya tersenyum. Sesekali lelaki 2 nyengir kuda melihat gaya lelaki 3 yang centil. Tetapi lelaki tua itu sama sekali tak bergeming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 3 (bindeng): (berlari gembira menghampiri lelaki tua itu) “Aih, aku punya dollar yang banyak! Kau mau? Ambillah? Nih, ini! Semua menjadi milikmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: “Untukku? Boleh.” (memasukkan semua dolar ke sakunya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 3 : (bengong, bindeng) “Mana ucapan terimakasihmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: “Terimakasih.” (datar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 3: (kesal, bindeng) “Di mana-mana, orang itu kalau dikasih bantuan, apalagi uang, matanya berbinar-binar, hati menjadi girang dan ia akan tersenyum bahkan tertawa. Bagaimana sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: (cemberut) “Ngasih kok nggak ikhlas. Sudahlah, tolong saja aku dan para penduduk kota agar bisa tersenyum kembali….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2 dan 3: “Huh!” (kesal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, lelaki 1 datang bersama seorang badut yang lucu sekali. Badut itu menari-nari, menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Sang Badut mengitari lelaki tua dan mencoba terus menghiburnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Badut (jenaka) : “Apakabar, Pak tua? Tralala trilili, aku pelucu, penghibur semua orang (tertawa-tawa), janganlah takut!” (badut memamerkan berbagai aksi lucu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1,2,3 : (tertawa dan bertepuk tangan melihat aksi badut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki tua itu menatap Sang Badut agak lama, lalu di luar dugaan, ia malah menangis. Lambat laun tangisan itu berubah isakan yang semakin kencang. Lelaki 1,2 dan 3 keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: ( Menangis, sedih sekali) “Mengapa harus ada orang sepertimu? (menunjuk-nunjuk badut). Setelah tiga puluh dua tahun kepedihan ini kau muncul dengan konyolnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 3: “Aih, apa maksudmu, Pak Tua!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: “Ya, bukankah seharusnya badut dapat membuat orang tersenyum dan tertawa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: (menangis)“Sungguh, aku telah melihat badut-badut bermunculan tahun ini di sepanjang jalan di kota kami. Seolah mereka adalah pahlawan yang bisa mengurangi derita dan membuat kami menyunggingkan senyuman. (mencoba berhenti menangis) Dengar! Kami hanya bisa menertawakanmu dalam kegetiran terpencil di sudut sanubari kami. Kalian tak bisa membodohi kami. Sebab kalian cuma badut! Bahkan bila kalian mengenakan jas, dasi atau sorban sekali pun! Senyumku bukan untuk orang seperti kalian!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: “Oh, Tuhan! Aku tak mengerti! Ia malah marah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badut: (Kesal) “Ya, sudah. Lebih baik aku pergi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 dan 2 berpandangan bingung sambil menggelengkan kepala. Lelaki 3 dengan centil melambai-lambaikan tangannya pada Sang Badut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 3: “Aih, daaag, Om Badut!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suram. Ke empat lelaki itu termenung sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: (berjalan,mencari, mendamba)“Senyuman…,di mana senyuman itu? Aku ingin membawa berjuta senyuman kembali ke kota kami…, senyuman…mana senyuman itu? Kehidupan kota kami bagai mati tanpa senyuman….” (merintih sedih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: (berteriak) “Pak Tua! Hei, Pak Tua! Sebenarnya siapakah yang mengambil semua senyuman dari kota kalian!?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: “Ya! Itu yang belum kau ceritakan pada kami!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: (mengernyitkan kening, menggelengkan kepala, menerawang) “Aku tidak begitu pasti. Mereka para penjarah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: “Penjarah? Apa yang mereka jarah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: “Apa saja. Harta, kedudukan bahkan kehormatan. Mereka menjarah beras, gula juga perempuan. Mereka membakar dan membuat onar. Memaksa kami menggigil karena takut dan lapar, setiap malam dan siang. Mereka bermain-main dengan darah lalu tiba-tiba para ulama kami mati. Kemudian tak ada lagi senyum yang bisa kami temukan. Semua senyum mereka rampas, untuk mereka bagikan pada orang-orang gila yang kini berkeliaran di kota kami…. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk. Lelaki-lelaki itu mencari arah datangnya suara dan terkejut melihat banyak orang menuju ke arah mereka. Wajah orang-orang itu seperti mencari sesuatu. Lelaki 1 segera menghampiri salah seorang di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: “Siapa kalian? Darimana dan hendak kemana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang 1: “Kami mencari orang-orang yang bercahaya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: (menghampiri) “ Orang-orang yang bercahaya?Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang 1: “Kami telah kehilangan senyuman. Hanya orang-orang bercahaya yang bisa mengembalikan senyum kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua : ( tersentak, tergopoh-gopoh) “Jadi kalian juga seperti aku? Hidup tanpa senyuman?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang itu mengangguk-angguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: “Dan hanya orang-orang yang bercahaya, yang bisa membuat kita kembali tersenyum?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang 1: “Ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: “Siapa mereka? Di mana mereka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang 1: “Entahlah. Kita bisa jelas mengetahui, ketika kita melangkah di jalan cahaya….”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Lelaki Tua: “Melangkah di jalan cahaya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang 1: “Ya, melangkah di jalan cahaya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang itu mengangguk-angguk dan segera berlalu dari hadapan mereka. Tiba-tiba lelaki tua menyusul. Ia berlari ke arah orang-orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: “Aku ikut! Cahaya! Cahaya!” (berlari meninggalkan ketiga lelaki yang tampak bingung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 3: “Aih, masak sih senyuman begitu susah dicari. Sampai harus menuju cahaya segala. Lihat nih (pada lelaki 2), senyumku manis kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: (melompat, terbelalak) “Itu bukan senyuman! (pada Lelaki 1) Teman, lihatlah, seringainya! Menyeramkan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 3: (bingung, mencoba tersenyum, tetapi yang tampak seringai yang mengerikan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: “Benar! Kkkau menakuti kami! Seharusnya kau tersenyum. Lihat senyumku, ini…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 3: (takut) “Aih, tolong!! Senyummu membuatku takut! Toloooong!” (lari meninggalkan Lelaki 1 dan Lelaki 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: “Berhenti tersenyum! Kau menyeramkan. Nah, lihat senyumku (mencoba tersenyum, tetapi kaku) “A…apa yang terjadi…, a…aku tak bisa tersenyum….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 3: (memegang bibirnya) “A…aku juga…,mengapa bisa begini? Apa yang…sebenarnya terjadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 dan 2: (sedih, bingung) “Senyuman…, di mana senyuman? (mencari, melangkah tak tentu arah) Cahaya…, cahaya… di mana cahaya? Senyuman…senyuman… di mana senyuman…? Cahayaaaa!?? Senyumaaaann!?? Senyumaaaan!?? Cahayaaaa!??”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utan Kayu, 1998&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Helvy Tiana Rosa &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;5 Februari 2001&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32231529-115640577162053960?l=cerpenislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenislami.blogspot.com/feeds/115640577162053960/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32231529&amp;postID=115640577162053960' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115640577162053960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115640577162053960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenislami.blogspot.com/2006/08/cerpen-islami-mencari-senyum.html' title='[Cerpen Islami] Mencari Senyum'/><author><name>gdz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32231529.post-115535502733066390</id><published>2006-08-11T20:56:00.000-07:00</published><updated>2006-08-11T21:33:16.250-07:00</updated><title type='text'>[cerpen islami] Menebar Kedamaian</title><content type='html'>Baru kali ini selama 5 tahun perkawinannya, Astiti benar-benar tidak mengerti dengan tindakan Iwan suaminya. Iwan, seorang lelaki yang alim dan sholeh membuat keputusan untuk mengontrak rumah di daerah yang lingkungannya benar-benar tidak "bersih". Sejak dipindah tugas oleh kantornya di daerah ini, maka mau tidak mau kami harus mencari kontrakan lagi di daerah yang dekat dengan kantor suaminya. Untuk bertahan tinggal di tempat dulu, rasa-rasanya tidak mungkin lagi karena gaji suaminya akan ludes hanya untuk transport dan lagi jaraknya cukup jauh.&lt;br /&gt;Sebenarnya rumah yang akan mereka tempati nanti sangatlah ideal, dan lagi harga sewanya yang cukup murah untuk rumah se type ini, sepetak rumah ukuran 100 meter persegi ditambah pekarangan yang mengelilingi cukup luas. Tempat seperti ini tidak pernah dijumpainya pada "rumah-rumah" nya terdahulu.Tetapi hanya satu yang membuat Astiti tidak suka, yaitu lingkungan sekitarnya yang amat sangat tidak mendukung. Di ujung gang masuk terdapat warung temapt berkumpulnya pemuda-pemuda yang suka mabuk. Kalaulah sudah malam hari suara "genjrang-genjreng" irama musik sangat memekakkan telinga ditambah lagi lingkungan tetangga di daerah ini sangat tidak familiar menurut Astiti. Atau mungkin melihat penampilan Astiti yang lain dari kebanyakan wanita disini dengan menggunakan kerudung yang selalu menutup auratnya. Juga satu lagi yang membuat Astiti paling tidak suka adalah di gang sebelah terdapat sebuah rumah "bordil" sarang maksiyat. Kata orang-orang di sekitar sini rumah bordil tersebut tanpa ijin Pemda setempat alias beroperasi secara gelap tetapi tergolong besar. Tetapi Astiti tidak perduli, mau gelap kek terang benderang kek kalau yang namanya sarang maksiyat tetap saja berdosa, dan sampai saat ini Astiti tidak pernah dan tidak akan mau melihat atau melewati gang sebelah. Ihh Astiti bergidik... Naudzubillahi min dzalik.&lt;br /&gt;"Ada apa dek..kok melamun terus sih...udah selesai belum membongkar kotaknya ?" Teguran mas Iwan membuyarkan lamunan Astiti. "Hhemmm...mana bisa beres sih mas dalam waktu singkat" jawab Astiti dengan ogah-ogahan. "Yaaa..mana bisa cepat selesai kalau sama ngelamun begitu...ada yang bisa di bantu dek..?" tanya Iwan ramah. "Banyak sih kalau mau bantu..... itu kotak-kotak di ruang tamu sama sekali belum aku bongkar, kotak yang sudah dibongkarpun belum sempat aku bereskan " Jawab Nastiti agak meninggi..entah karena letih atau hatinya kurang sreg tinggal di rumah baru ini. "Ya sudah sini biar mas bantu..pokoknya tanggung beres deh.." Iwan menyahut dengan sabarnya. Memang kalau Astiti sudah terlihat bersungut-sungut terus pertanda hatinya diliputi perasaan kesal dan kalau sudah begitu Iwan tidak akan menanggapi...percuma kalaupun ditanggapi pun nantinya akan meletuplah pertikaian-pertikaian kecil.&lt;br /&gt;Walaupun sudah sepekan mereka boyongan ke rumah baru tersebut, tetapi Astiti masih malas membongkar kardus-kardus barang dan segera merapihkannya. Bahkan ada bebrapa kardus memang sengaja tidak di bongkar olehnya. Karena Astiti berharap kepindahan di rumah ini tidak akan lama. Dan ia berharap Iwan segera dipindah lagi tugas kantornya ataupun kalau tidak mereka menemukan rumah kontrakan lagi yang lebih indah lingkungannya.&lt;br /&gt;Enggan pula Astiti untuk melakukan silaturahim dengan tetangga kanan kirinya. Pikirnya percuma saja diajak menuju kebajikanpun susah akan berhasil. Alhasil selama ini Astiti hanya mengurung diri dan anak-anaknya di dalam rumah saja. Pertama yang ia takutkan adalah banyaknya "virus-virus" yang akan menggerayangi anak-anaknya, apalagi Abdullah sudah berusia 3 tahun dan Ahmad 1 tahun akan mudah sekali meniru apa yang dilihat dan didengar Entah apa omongan para tetangga yang beredar Astiti tidak mau tahu. Bahkan Astiti pun melarang mbok Yem khadimat yang telah menemaninya semenjak ia anak-anak untuk tidak bergaul terlalu dekat dengan tetangga sekitar.&lt;br /&gt;Semenjak Astiti kecil memang dilahirkan dalam lingkungan yang bersih, dan tidak pernah terlintas sedikitpun di dalam pikirannya tinggal di daerah seperti ini. Masa kanak-kanaknya dihabiskan di lingkungan pesantren, karena Ayahnya termasuk pengajar pesantren. Kemudian ketika menginjakkan kakinya di bangku perguruan tinggi, teman-temannya banyak sekali orang-orang yang aktif dalam kajian keislaman dan Astitipun meleburkan diri dalam aktifitas tersebut. Bahkan setelah menikah dengan Iwan tempat tinggalnya tak jauh dari pusat pendidikan Islam yang besar sehingga lingkungan sekitarnya banyak sekali para keluarga Islami yang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah tersebut. Jadi selama ini Astiti selalu tinggal di daerah yang bersih dan terisolasi dari virus yang merusak iman.&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;Siang itu Astiti pulang dari belanja dan seperti biasanya ia naik mikrolet. Ketika turun dari mikrolet tiba-tiba terdengar celetukan orang dari dalam. "Ehh..nggak nyangka pake jilbab turunnya di warung mang Dirun.." Deg...Asititi terhenyak mendengar celetukan salah seorang penumpang di mikrolet. Ternyata warung mang Dirun tempat berkumpulnya para pemuda berandalan itu terkenal akan kejelekannya. Perasaan Astiti jadi tak menentu.Sesampai dirumah ia menangis menjadi-jadi. Semakin tak betahlah Astiti tinggal di daerah ini. Kesal juga ia tujukan kepada Iwan suaminya, mengapa begitu teganya memilihkan tempat tinggal di lingkungan ini untuk keluarganya. Malam hari sepulang Iwan pulang dari kantor, Astiti menguraikan perasaan yang menggumpal di dadanya. "Mas...kok begitu tega memilihkan tempat tinggal di daerah ini buat kita" tanya Astiti "Emangnya..kenapa to dek..dek..bukannya dimanapun di Bumi Allah itu sama" timpal Iwan " Lho bagaimana sih Mas Iwan ini, lha dekat tempat maksiyat kok ya di jadikan alternatif tempat tinggal...emang nggak ada tempat kontrakan lagi yang lebih baik.." "Ada sih dek tapi itu di perumahan elite seberang jalan, kalau dek Asti mau tinggal di sana gaji Mas nggak cukup..maaf ya dek" canda Iwan. "Mas Iwan sih enak, pergi pagi ke kantor pulang sudah menjelang maghrib, sedangakan aku... mas yang disini sepanjang hari sudah tidak betah melihat berbagai kemaksiyatan di depan mata" Astiti semakin kesal saja dengan Iwan yang masih bisa bercanda padahal ia sudah gondok sekali. "Sebenarnya sebelum Mas putuskan untuk memilih tempat tinggal disini, sudah putar kesana kemari mencari kontrakan. Ada yang di gang samping kiri itu rumahnya kecil sekali hanya ada satu kamar tetapi kontrakannya 2 kali lipat di sini. mas juga heran dek mengapa harga kontrakan rumah ini begitu murah.. Menurut pak RT, karena yang menempati rumah sebelum kita ditemukan bunuh diri dengan gantung di pohon mangga di pekarangan. Hemm apa itu yang membuat dek Asti takut tinggal disini..."tukas mas Iwan "Masya Allah mas...biarpun ada seratus demit, jin dan sebangsanya mengganggu kita ..Insya Allah aku nggak takut mas.." "Bener nih.." selidik mas Iwan. "Rasulullah kan bersabda apabila hendak mencari tempat tinggal, kita juga harus melihat tetangga kiri kanan alias kita juga harus memperhatikan lingkungannya.." timpal Astiti. "Lalu de Asti mau apa...mau pindah, atau mau tinggal di rumah bapak ..." tanya Iwan dengan sabarnya. Astiti terdiam seribu bahasa. "ya..memang idealnya rumah yang akan ditempati memang seperti demikian. Tetapi kalau kondisinya seperti ini bagaimana dek...Lagian Mas sudah membayar uang kontrakan selama setahun, sayang khan kalau kita sudah keburu pindah.."Iwan menjelaskan. Astiti tetap berdiam saja. "Sabar dulu ya dek...Insya Alloh ini merupakan ujian bagi kita. Dimanapun juga kita tinggal yang namanya ujian itu pasti ada dari Alloh. Nah itu artinya kita sebagai orang beriman karena Alloh mendatangkan ujian buat hambanya..." jelas Iwan, "Tinggal bagaimana kita bisa melaksanakan ujian ini atau tidak, artinya kita dapat tinggal di daerah ini tanpa kita teracuni, dan yang terpenting bagaimana kita dapat ber'amar ma'ruf nahi munkar terhadap tetangga.."&lt;br /&gt;Kalau sudah begini Astiti sudah tidak dapat mengelak lagi argumen Iwan, karena yang dikatakannya memang ada benarnya. Tinggal bagaimana Astiti menterjemahkan kata sabar dalam kehidupannya sekarang ini. memang benar-benar harus sabar karena tidak terdengar suara adzan Duhur , Asar serta isya', sebagai gantinya terdengar nyanyian musik dangdut. Hanya terdengar adzan Maghribdi surau yang amat sangat kecil dan jarang dipenuhi jamaah.&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;Siang ini terjadi sebuah insiden kecil di dapur Astiti. Rupanya mbok Yem terburu-buru memasukkan minyak di dalam kompor dan minyak berceceran kemana-mana, sehingga ketika akan dipakai kompor tersebut meledak dan menimbulkan suara keras. Astiti yang baru saja menyelesaikan shalat duhur di kamar menjadi panik. Ia langsung menyambar Ahmad dan Abdullah yang sedang tertidur lelap. Mereka berdua merupakan kekayaan yang paling berharga buatnya di dunia ini. Dan segera memerintahkan mbok Yem segera pergi. Terlihat tangan mbok Yem sebelah kiri agak melepuh. mungkin sedikit terkena jilatan api. Keluar rumah Astiti langsung berteriak minta tolong, segeralah berdatangan para tetangga untuk menolongnya. Sedangkan dari arah warung mak dirun, para pemuda yang biasanya berkongkouw-kongkouw langsung masuk ke rumah Astiti, sekitar lima belasan orang pemuda masuk dan segera membantu memdamkan api yang menjilat dapur Astiti. Tampak semangat sekali mereka. Ada yang mengambil air di sumur, ada yang menyemprotkan air dari keran, ada yang mengambil pasir untuk disebarkan ke arah api.&lt;br /&gt;Sedangkan Astiti bersama dua anaknya dan mbok Yem berada di rumah mbak Marni tetangga sebelahnya. Mbak Marni mengambilkan air putih untuk Astiti, dan mbak Lastri tetangganya pula membantu meredakan tangis Ahmad yan kaget melihat kejadian di rumah nya. "Bu Iwan...sabar ya bu...ini air putih ayo diminum dulu, ayo mbok Yem di minum juga " suruh mbak Marni. "Terima kasih ya mbak Marni" ucap Astiti lirih. Pada saat genting seperti ini Ia hanya pasrah kepada Allah saja. "Bu..kalau api belum bisa padam nanti bisa tidur di rumah saya saja, kasihan anak-anak" ajak mbak Marni. Astiti hanya bisa mengiyakan, di dalam hatinya hanya berdoa agar api tidak menjalar kemana-mana.&lt;br /&gt;Suasana jalan di rumahnya, siang ini benar-benar ramai sekali. Tetangga-tetangga Astiti bahu membahu memadamkan api yang ada di rumah Astiti. Alhamdulillah tidak sampai setengah jam api berhasil di padamkan, berkat kerja keras para warga dan juga bantuan pemuda-pemuda itu yang berani memadamkan api sehingga jilatannya hanya sampai dapur saja. Itupun hanya daerah di sekitar kompor saja yang terkena, barang-barang lain di dapur dapat diselamatkan.&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;Kejadian siang itu, telah membuka hati Astiti. Ternyata para pemuda yang selama ini amat dibencinya, telah membantu keluarganya untuk memadamkan api. Ternyata mbak Marni tetangga sebelah rumah, yang bekerja pada malam hari, dan sempat membuat Astiti menjadi tak suka telah banyak membantunya. Ternyata mbak Lastri, mbak Mur, mbak Rini yang sering berdandan menor juga membantu Astiti dengan suka rela. Ternyata bu Dedeh, bu Jali, bu Anom yang sering terlihat oleh Astiti ngerumpi di mana-mana mambantunya pula....&lt;br /&gt;Dari kejadian ini Astiti segera tersadar bahw sebenarnya mereka pada dasarnya adalah orang-orang yang baik, tetapi mungkin tidak ada yang mengarahkan jadilah masyarakat seperti ini. Selama ini ternyata ber amar ma'ruf nahi munkar yang Astiti terima hanya sebatas konsep-konsep belaka dan belum pernah dipratekkan dalan kehidupan sehari-harinya.&lt;br /&gt;Kemudian segera Astiti mendiskusikan dengan Iwan suaminya bagaimana cara-cara berdakwah di lingkungan seperti ini. Tentu saja Iwan senang sekali mendengar penuturan dan semangat Astiti. Akhirnya mereka berdua membagi tugas, stiti mencoba mendekati para ibu dan anak-anak sedangakan Iwan mencoba mendekati para pemudanya. Di sela-sela kesibukan yang menumpuk, mereka berdua mencoba mengimplementasikan konsep dakwah yang pernah dipelajari.&lt;br /&gt;Pertama-tama yang dilakukan Astiti adalah mencoba mendekati anak-anak kecil. Astiti mengundang sekitar 30an anak -anak seusia 4 tahun sampai 7 tahun dengan alasan syukuran.Dibuatkan kantng-kantong kecil berisi permen dan biskuit. Permainan anak-anak yang meriah di pekarangan rumahnya yang cukup luas dibuatnya. Kalau sudah begini Astiti bersyukur sekali mempunyai pekarangan rumah yang cukup luas.Setelah capai bermain, anak-anak diajaknya berkumpul untuk dicoba mengetahui hafalan surat dan sedikit pengetahuan tentang agama. Cukup shock juga Astiti terhadap anak-anak seusia tersebut ternyata tidak hafal dengan surat Al Fatihah. Tetapi lagu-lagu dangdut mereka cukup fasih melantunkannya.&lt;br /&gt;Sekarang kalau sore hari, anak-anak banyak yang bermain di pekarangan rumah Astiti. Sekarang mereka tidak takut terhadap sosok Astiti, yang menurut mereka dahulu terlihat amat galak. Astiti tersenyum sendiri. Lama-lama anak-anak yang suka bermain di pekarangan rumah diajak untuk shalat Maghrib berjamaah dengannya, tentu saja hal ini merupakan sesuati yang baru bagi anak-anak itu. Tetapi mereka menyambut dengan senang. Kemudian dilanjutkan dengan belajar mengaji.&lt;br /&gt;Semakin lama jumlah anak-anak yang sering menyemarakkan rumah Astiti bertambah. Kalau dulu hanya sekitar 10 orang, sekarang berjumlah sekitar 25an anak. Kadang Astiti semakin kewalahan karena banyaknya. Dan ia sekarang dipanggil ibu Haji oleh anak-anak itu, ia hanya meng amin kan mudah-mudahan terkabul cita-cita mulia ini.&lt;br /&gt;Sambutan positif ternyata juga bergaung pada ibu anak-anak tadi. Ibu-ibu di lingkungan ini ada yang meminta tolong agar Astiti mengajarkan membaca Alquran. Tentu saja kesempatan emas ini tidak disia-siakan olehnya. Tersebutlah nama mbak Marni, mbak Lastri, mbak Mur, bu Dedeh, bu Anom dan ibu- ibu lainnya menyemarakkan rumah Astiti untuk belajar membaca Alqur'an dan juga di selingi oleh Astiti untuk mengajarkan Islam.&lt;br /&gt;Iwanpun tak ketinggalan pula dalam mencoba beramar ma'ruf nahi munkar. Para pemuda yang sering berleha-leha di ujung jalan sering pula bertandang ke rumah.Mereka salut terhadap Iwan, karena Iwan yang berpendidikan tinggi mau bertutur sapa dengan mereka yang rata-rata pemuda putus sekolah dan pengangguran.&lt;br /&gt;Sekarang pun jarang dijumpai para pemuda-pemuda itu ber mabuk-mabukan. Tetapi suara musik yang mereka nyanyikan kadang masih terdengar. Tetapi itupun pada hari Sabtu malam saja. Kini mereka dikoordinir oleh Iwan untuk mengerjakan suatu ketrampilan tertentu yang dapat menambah penghasilan. Jamaah di surau pun mulai ramai. Iwan berusaha menghidupkan aktifitas di surau tua itu. Sekarang suara adzan pun terdengar lima waktu berkumanadang.&lt;br /&gt;Memang untuk merubah sesuatu secara frontal tidak semudah membalikkan tangan, tetapi butuh pengorbanan yang besar terutama kesabaran.Astiti dan Iwan berusaha untuk memutihkan daerah mereka yang dahulu hitam. Tentunya banyak juga halangan yang menimpa mereka. Tetapi mereka tetap optimis karena Allah lah yang menyertai mereka.&lt;br /&gt;Ada lagi harapan dan cita-cita Astiti..yaitu mencoba memutihkan gang sebelah dengan lokalisasinya.Yaa tentunya cita-cita mulia ini Insya Allah akan ditegakkannya. Namun memang butuh waktu untuk itu semua. Allah akan bersama mereka...............&lt;br /&gt;******&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32231529-115535502733066390?l=cerpenislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenislami.blogspot.com/feeds/115535502733066390/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32231529&amp;postID=115535502733066390' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115535502733066390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115535502733066390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenislami.blogspot.com/2006/08/cerpen-islami-menebar-kedamaian.html' title='[cerpen islami] Menebar Kedamaian'/><author><name>gdz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32231529.post-115535486521923156</id><published>2006-08-11T20:54:00.000-07:00</published><updated>2006-08-11T21:34:05.066-07:00</updated><title type='text'>[cerpen islami] Mengadulah Pada Kekasihmu... !</title><content type='html'>Sahabatku rahimakumullah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian apakah gerangan yang sedang melanda dirimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kini?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kau balut dengan senyuman?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika sudah tak kuasa menahan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tumpahkan pada orang-orang yang terpercaya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataupun lewat sarana dan media...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabatku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Menciptakan kita berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I'lamuu annamal hayaa tuddun-yaa la 'ibun".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanyalah suatu permainan. (QS. Al Hadiid 57:20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ini sesungguhnya sedang bermain dalam sebuah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;panggung kehidupan yang diciptakan_Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berbagai peran, keadaan dan penjiwaan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wa annahuu huwa adhaka wa abkaa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang tertawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan menangis".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS. An Najm 53:43)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan apa yang sedang engkau perankan wahai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sahabatku???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang kaya...ataukah miskin?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;("Kaya Jiwa ataukah harta?". "Miskin harta ataukah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bathin?")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang insan yang penuh duka...ataukah seorang hamba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang senantiasa ceria dan bahagia?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika peran yang kau mainkan akan memaksamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk menangis...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lain ketika memaksamu untuk tertawa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duniapun penuh warna dan langitpun terpesona...!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masya Allah...Itulah Kuasa_Nya Allah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaa ha ilallah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wallaahu Akbar...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu sahabatku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermainlah dengan penuh rasa cinta dan kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niscahya engkau ta'kan sulit melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikuti petunjuk pengarah adeganmu.(Rasul Allah Saw)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar Sang Penulis Skenario Cerita (Allah Swt) merasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena engkau mampu memainkannya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan mau terperdaya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sungguh!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap adegan yang kau lakukan akan senantiasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dinilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cermat dan penuh pehitungan !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduhai gerangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kau sulit memainkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan itu semakin hari semakin berat saja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu payah dan melelahkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak menguras energi dan fikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasamupun tak karu-karuan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa disadari engkaupun bergumam, "Aku tak bisa...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yach...begitulah kita manusia...!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai yang dilanda duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laa tahzan walaa takhaaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah sedih dan janganlah takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Penulis Skenario berbisik lembut pada Qalbumu.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maa wadda 'aka rabbuka wamaa qalaa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanmu tidak meninggalkan kamu dan tidak pula benci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kepadamu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS. Ad Dhuha 93:3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Asaabakum ghamman-bighammin-likailaa tahzanuu 'alaa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maa faa takum walaa maa a shaa bakum".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menimpakan padamu kesedihan atas kesedihan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;luput daripada kamu dan terhadap apa yang menimpa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kamu. (QS. Ali Imran 3:153)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekati Dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah dengan Sifat Maha Penyayang_Nya engkau sebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia Yang Tersayang?!...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah dengan Sifat Maha Pengasih_Nya engkau sebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia Sang Kekasih?!...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengadulah Pada Kekasihmu...!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia akan menguatkan jiwamu, menentramkan Qalbumu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sebaik-baik penolong...Sebaik-baik pelindung...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayakan semua pada_Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dalam Cinta ada kepercayaan!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O.O.O.Ini bukan saat yang tepat untukmu sahabatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat di kanan dan kirimu.!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiruk pikuknya mebuatmu sulit untuk berkonsentrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Inna laka finnahaa ri sabhan-thawiilaa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya bagimu pada siang hari mempunyai urusan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang banyak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS. Al Muzzammil 73:7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu menyepilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapkan pada_Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yaa Habibi.Wahai Kekasihku.Aku ingin mengadu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada_Mu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kelembutan_Nya Ia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Qumil laila".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunlah untuk shalat di malam hari. (QS. Al&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muzzammil 73:2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisfahuu awin-qush minhu qaliilaa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Yaitu) seperduanya atau kurang dari padanya sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS. Al Muzzammil 73:3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Au zid 'alaihi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau lebih atasnya. (QS. Al Muzzammil 73:4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalatlah dengan penuh rasa cinta dan kerinduan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu akan membuatmu khusyu'...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumpahkanlah segala apa yang menyesakkan dadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adukan semua pada_Nya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ungkapan pilu...ataupun diiringi tangisan yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lembut...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerena sesungguhnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia adalah Sebaik-Baik Pendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Berdo'alah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penuh harap, rendah diri, dan suara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perlahan...seperti do'a yang diajarkan_Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rabbi adkhilnii mudkhala sidqin-wa akhrijnii mukhraja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sidqin-waj 'al lii min-ladunka sulthaanan nashiraa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang menolong. (QS. Al Israa 17:80)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jaa al haqqu wazahaqal baa thilu, innalbaa thila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kaana zahuu qaa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah datang yang benar dan telah lenyap yang bathil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lenyap. (QS. Al Israa 17:81)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataupun do'a-do'a lain yang menjadi keinginan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hantarkan ia dengan bahasa yang mudah bagimu...dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah merasa sungkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Rasullullah Saw:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Sesungguhnya Roobmu itu pemalu lagi pemurah, merasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malu apabila tidak mengabulkan do'a kepada hamba_Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang mengangkat kedua tangannya untuk berdo'a lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dikembalikan kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Faqra uu maa tayassara minal qur aan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Qur'an. (QS. Al&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muzzammil 73:20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Warattilil qur aana tartiilaa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Bacalah Qur'an itu secara perlahan-lahan. (QS. Al&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muzzammil 73:4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk apa Ia menyuruhmu membaca Surat Cinta_Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Qur'an) wahai sahabatku?...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nu nazzilu minal qur aani maa huwa syifaa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;un-warahmatun-lilmu'miniin".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Israa 17:82)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah.bagaimana keadaanmu sekarang?...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa ringan bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat-saat yang indah bersama_Nya ini tak'kan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pernah kau lupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana engkau akan senantiasa rindu dan ingin s'lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menjumpai_Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tak'bertemu sehari saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sesuatu yang hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iapun semakin sayang dan semakin cinta padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah dirimu kenyataan yang sebenarnya?...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Sang Kekasih itu senantiasa ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersamamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia begitu dekat.sangat dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mampukah engkau menangkap keberadaan_Nya?...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS. Al Baqarah 2:186), (QS. Qaaf 50:16), (QS. Al&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baqarah 2:115), (QS. Al Hadiid 57:4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia ada di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat aku menulis untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan melihatmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kini sedang meresapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ini juga adalah suatu adegan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan adegan selanjutnya?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarkan bisik Qalbumu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan engkaupun akan tahu jawabannya.!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Waminal laili fatahajjad bihii naa filatan-lah, 'asaa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;an-yab 'asaka rabbuka maqaa man-mahmuudaa(n)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanmu mengangkat kamu ketempat yang terpuji. (QS. Al&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Israa' 17:79)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Inna naa syiatal laili hiya asyaddu wath an-wa aqwamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;qiilaa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menguatkan (jiwa) dan bacaan di waktu itu lebih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berkesan. (QS. Al Muzzammil 73:6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nazzalahuu ruuhul qudusi min-rabbika bil haqqi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;liyusabbital laziina aamanuu wahudan-wabusyraa lil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;muslimiin".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur'an itu dari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;serta khabar gembira bagi orang-orang yang berserah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diri (Kepada Allah Swt). (QS. An Nahl 16:102)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wabillaahi taufiq walhidayah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32231529-115535486521923156?l=cerpenislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenislami.blogspot.com/feeds/115535486521923156/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32231529&amp;postID=115535486521923156' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115535486521923156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115535486521923156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenislami.blogspot.com/2006/08/cerpen-islami-mengadulah-pada.html' title='[cerpen islami] Mengadulah Pada Kekasihmu... !'/><author><name>gdz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32231529.post-115510796651666883</id><published>2006-08-09T00:18:00.000-07:00</published><updated>2006-08-11T21:34:45.306-07:00</updated><title type='text'>[cerpen islami] Menganyam Kesabaran</title><content type='html'>"Kriiinnnggg!" Jam wekker di samping kepalaku berbunyi nyaring. Reflek kugerakkan tanganku memencet tombolnya. Hmmm, jam 4.45. Kulihat Aa sudah tidak ada di sampingku, aku bergerak menyalakan heater dan bergerak menuju ruang sebelah. Di sana kulihat Aa tertidur dengan pulasnya. Dengan jaket tebal dan sarungnya. Posisinya melingkar membuat tubuh Aa yang jangkung tampak mengecil. Aku tersenyum. Rupanya Aa shalat malam tanpa membangunkan aku.Terlihat terjemahan Al quran yg masih terbuka di samping kepala Aa. Kututup perlahan terjemahan itu. Kuberjongkok di samping tubuh Aa, tersenyum memandangi wajah Aa yang terlihat damai sekali. "A..Aa..!" Kuguncang-guncang bahu Aa pelan. Aa menggeliat sebentar. Tapi seakan tidak peduli malah membalikkan posisi tubuhnya membelakangiku. Kuulang hal yang sama. Aa belum mau bangun juga. Kalau sudah begini, cuma ada satu cara yang ampuh. Usapan air! Aku bergegas menuju dapur dan memutar kran lalu mencuci tanganku. Siraman air dingin membuat sel-sel sarafku bereaksi seketika. Rasa kantuk yang masih tersisa lenyap dibuatnya. Kuusapkan tanganku yang dingin pada wajah Aa. Suamiku terbangun seketika dan menatapku dengan wajah bangun tidurnya yang lucu. "Assalamu'alaikum! Sudah mau jam 5..."kataku memandang Aa sambil menahan tawa. Aa bangkit dari tidurnya. "Hmm..,"gumamnya masih ogah-ogahan. "Dede wudhu dulu..awas jangan ketiduran lagi!"ancamku sambil beranjak ke kamar mandi.&lt;br /&gt;Subuh itu seperti biasa kami selesai shalat berjamaah kami lewati dengan tilawah Al Quran dan doa Matsurat. Dan seperti biasanya tilawah Aa lebih panjang dari pada lama tilawahku. Aku beranjak menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi dan mencuci pakaian. Ketika aku memasukkan baju-baju kotor ke mesin cuci, ku dengar suara Aa. "De..! Sudah nggak papa perutnya..? Katanya mulas habis dari Rumah sakit kemarin.." "Nggak, udah nggak papa, kok, "sahutku.&lt;br /&gt;Kemarin memang hari di mana aku harus pergi ke ahli kandungan untuk memeriksakan diri secara rutin tiap bulan. Sebelum memasukkan alat itu ke dalam tubuhku, dokter wanita yang ramah itu mengingatkanku, bahwa pengobatan seperti ini memang menyakitkan. Jadi aku bisa menolaknya kalau tidak tahan. Tapi kupikir-pikir toh sama saja sakit sekarang atau nanti. Maka kubilang pada dokter tersebut. "iie. Daijoubu desu. Yatte kudasai, onegaishimasu.(tidak apa-apa. Tolong laksanakan saja...)" Dokter Abe tertawa. "Gaman site, ne...(bersabar ya, kalau sakit..)" Dan benar saja. Perutku terasa diperas-peras, kepalaku gelap. Aku hampir terjatuh ketika bangkit dari tempat tidur. "Sebentar akan saya telfonkan taksi untuk mengantar anda pulang ke rumah!" Kata dokter Abe bergegas keluar. Aku berterimakasih padanya sambil menahan rasa mual yang tidak dapat kuceritakan rasanya. Sampai di rumah aku tak kuat bangun lagi. Sehabis Ashar aku tak sempat lagi membuat makan malam buat Aa. Ketika Aa pulang, dan mendapatkanku sedang tidur Aa sendiri yang memasak makan malam. Alhamdulillah, Aa memang mengerti keadaanku, walaupun sebenarnya tidak mengetahui kejadian yang sesungguhnya. Tapi beliau tidak marah karena tidak ditemuinya makan malam di meja makan, malah beliau berinisiatif sendiri untuk memasaknya. Ya Allah terimakasih karena telah Kau berikan seorang suami seperti Aa, kataku bersyuku dalam hati. "Hei! Kok, bengong !" Aa mencolek bahuku. Aku terkejut, agak malu tertangkap basah dalam keadaan bengong. "Masak apa, De..? Mi goreng sajalah ya. Kan mi goreng buatan Aa jaminan mutu.." Aa bergerak menuju wastafel dapur dan mulai membuka-buka kulkas. Aku mengangguk saja. Mi goreng adalah masakan kebisaan Aa. Dan harus diakui kadang-kadang rasanya jauh lebih enak dari buatanku. Pagi itu kami sarapan pagi dengan mi goreng dan sup miso ala Aa. Sedap karena Aa menambah rasanya dengan keikhlasan... Dan seperti biasa kami berpisah di dekat stasiun. Aku ke kiri menuju kampusku yang telah berdiri di sana, sedang Aa ke kanan, ke arah stasiun karena Aa harus ke kampus dengan kereta listrik. "Nggak papa, De..? Kuat kuliah..?"tanya Aa lagi sebelum berpisah. "Insya Allah nggak papa...Lagian cuma sebentar hari ini, seminar saja. Kan giliran Dede yang harus presentasi.."jawabku berusaha menghilangkan kekhawatiran Aa. "Yah, sudah kalau nggak papa. Hati-hati, ya..Assalamu'alaikum!" Aku mencium tangan Aa dan membalas salamnya. Kutunggu sampai tubuh jangkung Aa hilang di pintu stasiun.&lt;br /&gt;Aku dan Aa berselisih dua tahun. Kami menikah ketika aku tahun ketiga, dan Aa sedang dalam proses menyelesaikan skripsinya. Kami berada di fakultas yang sama, FMIPA, walau berbeda jurusan. Aku kimia, sedang Aa fisika. Alhamdulillah, Allah menjawab doa-doa kami, dengan memberikan cinta dan kasih sayangNya pada hati-hati kami. Walau kami tidak berpacaran seperti yang biasa dilakukan orang-orang pada umunya, ternyata kami bisa cocok dan saling memahami hingga usia perkawinan kami menjelang tahun ke enam sekarang, tak ada percecokan yang sampai mengguncang bahtera yang kami layari. Kalaupun ada mungkin keinginan kami untuk mempunyai anak.Tidak, itu tak pernah mengguncangkan bahtera. Bahkan boleh dibilang memperkuat ikatan tali hati kami. Ketika setelah dua tahun menikah Allah belum juga mempercayakan amanah itu pada kami, aku sendiri masih tenang-tenang saja. Aku memang tidak mempunyai siklus bulanan yang teratur sebagaimana wanita normal. Tetapi melihat keturunan dari ibu dan bapak, keluargaku termasuk"subur". Demikian pula Aa. Sampai akhir nya Aa pergi belajar ke Jepang ditugaskan lembaga yang selama ini memberi Aa beasiswa, dan aku menyusulnya satu tahun kemudian untuk menemani Aa setelah skripsiku yang sedikit berlarut-larut karena aku harus membagi waktuku sebagai seorang istri dan mahasiswi, selesai disidangkan.&lt;br /&gt;Atas keinginanku yang disetujui oleh Aa, akhirnya kami berdua berkonsultasi pada dokter ahli kandungan yangsekarang ini. Kebetulan dan alhamdulillah sekali beliau perempuan.. Dan setelah diteliti, ternyata benar dugaanku. Aa normal, akulah yang sakit. Sehingga sejak satu setengah tahun lalu aku berobat secara intensif. Walaupun belum tampak hasilnya hingga kini. Namun atas dorongan semangat Aa, aku bisa terus sabar berusaha hingga kini. Dan aku tahu, Aa juga menunjangnya dengan doa-doa di sujudnya yang lama setelah shalat, sebagaimana yang juga aku lakukan. ****&lt;br /&gt;Kesepian menunggu datangnya amanah itu bukannya tak pernah kami rasakan, khususnya aku. Tanpa aku katakan pada Aa apa yang aku rasakan, Aa seakan mengerti. Sehingga ketika hari tahun ajaran baru universitas dimulai, Aa menyarankan agar aku melanjutkan sekolah saja. Di rumah sendiri bukannya tak ada pekerjaan. Pekerjaan menterjemahkan secara bebas artikel-artikel bahasa Inggris dan kukirim ke redaksi-redaksi majalah, adalah pekerjaan yang sudah kumulai sejak aku masuk universitas. Lalu kursus Bahasa Arab gratis dengan beberapa teman, ibu-ibu dari Mesir seminggu sekali. Dan pelajaran bahasa Jepang secara autodidak yang aku lakukan melalui TV dan majalah berbahasa Inggris-Jepang. Belum lagi pekerjaan rumah tangga, yang walaupun sebagian besar serba otomatis tetapi membutuhkan kesabaran untuk melawan kebosanan itu, juga menunggu. Tetapi waktuku yang banyak sendirian di rumah kadang-kadang membuat aku tak kuat melawan sepi. Dan Aa mengerti benar kecenderunganku tersebut.&lt;br /&gt;Dan akhirnya aku memilih masuk fakultas pendidikan, dan mengambil spesialisai psikologi pendidikan. Karena aku melihat Jepang mapan dalam pendidikan dasarnya. Sedari dulu aku tergelitik untuk mengetahui "resep"nya. Tanpa pikir dua kali aku menyambut saran Aa. Dan jadilah setahun yang lalu aku mahasiswi graduate di universitas yang sama dengan tempat Aa sekarang. Walaupun satu universitas tempat kami berjauhan. Dan kami memutuskan untuk pindah ke tempat yang sekarang.&lt;br /&gt;Hari-hari hanya berdua saja dengan Aa dari sisi lain kurasakan juga sebagai anugerah Allah pada kami. Karena belum disibukkan oleh anak, membuat aku lebih punya banyak waktu memperhatikan Aa, berdiskusi banyak hal dengan Aa, dan lain-lain yang kurasakan sangat mendekatkan aku dengan Aa. Jalan-jalan pagi atau sore sepanjang sungai kerap kami lakukan. Dan ketika kami bertemu dengan pasangan suami istri yang berjalan-jalan bersama buah hati mereka, tanpa sadar mata-mata kami memandang pada si kecil yang yang memandangiku dengan lucunya. Dan seperti biasa, kalau tidak aku atau Aa akan berguman. "lucunya.." "A, nanti anak kita lucu atau nggak, ya..?" Atau: "De, mudah-mudahan anak kita juga lucunya kayak gitu.."Yang kuaminkan dalam diam. Dan biasanya kami akan saling memandang dan tersenyum bersama. Walau bagaimanapun kami merindukan kehadiran amanah itu, ya Allah..&lt;br /&gt;Dan tibalah keajaiban itu, tepat empat bulan setelah itu, hawa dingin sisa-sisa musim dingin masih tertinggal. Bulan Februari akhir, beberapa hari sebelum Ramadhan. Aku menemui Dokter Abe seperti biasa. Kali ini sambil membawa buku catatan suhuku yang kuukur setiap hari. Ada debar-debar harap karena kulihat grafik suhu tersebut tidak menurun. Tapi aku tak mau terlalu berharap. Karena takut kecewa yang berlebihan, jika bukan berita baik yang kudapat. Dan dengan perasaan sedikit tak tenang kutunggu hasil pemeriksaan urine. Dan kudengar namaku dipanggil. "Aya-san!" Kudapati dokter Abe dengan ekpresi ramah seperti biasa. "Duduklah,"katanya. Aku duduk dihadapannya sambil harap-harap cemas. Dan.."Omedetou gozaimasu..!(selamat..)" aku mendengar kata-kata itu dengan kelegaan yang luar biasa, tetapi juga diiringi dengan tangis haruku yang naik ke kerongkongan."Positif..,"kata dokter Abe melanjutkan. Alhamdulillah, Alhamdulillahrabbil'alamin..Subhanallah...Ya Allah, Maha Besar Engkau yang telah mengabulkan permintaan dan usaha hamba-hambaNya. Aku bertasbih dan bertahmid dalam hati, air mata bahagia yang kurasakan hangat keluar tanpa mampu kutahan lagi. Dokter Abe memandangku dengan senyumnya, dan aku tahu dimatanya yang tersembunyi oleh kacamata itu ku dapati juga kaca-kaca. "Domou arigatou gozaimasu.."kataku berterimakasih padaNya. Dia menggeleng. "Bukan saya yang membuatnya demikian, tetapi Kamisama(Tuhan) lah yang memberikannya. Bukan begitu Aya-san?" Aku mengangguk. Alhamdulillah, Segala puji bagi Engkau...&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah, aku seperti mempunyai tambahan energi baru. Aku masak soto ayam kesukaan Aa, kali ini tanpa pelit dengan daun sereh dan daun jeruk, biar sedikit istimewa. Juga acar, sambel kecap, serta perkedel jagung. Ketika dering telpon berbunyi, aku segera berlari mengangkatnya. Pasti itu Aa. Benar saja...Sehabis menjawab salam Aa, tanpa memberi kesempatan Aa berbicara aku berkata:"A, cepet pulang!..."&lt;br /&gt;Dan hari-hari selanjutnya kurasakan lebih bergairah lagi. Walau janin di perutku baru dua bulan, tapi aku yakin dia sudah merasakan apa yang aku rasakan. Buku-buku tentang pendidikan janin dalam rahim, cara merawat bayi,sampai majalah tentang permasalahan bayi, yang dulu sempat kuletakkan jauh-jauh dari penglijatanku kupindahkan dekat rak buku-buku kuliahku. Uang tabungan yang kusisihkan dari uang belanja kubelikan walkman. Juga tak lupa aku rajin menggaris-garis buku pedoman pendidikan anak dalam Islam dan kuingat-ingat bagian yang pentingnya. Kini hari-hari ku tak pernah kulewatkan tanpa walkman yang memutar ayat-ayat Al-quran. Juga hari-hari di rumah aku lewatkan dengan "mengobrol" dengan janinku. Sampai Aa iri, karena aku bisa merasakan kehadiransi kecil lewat tubuhku, sedang Aa tidak. Alhamdulillah, aku tidak banyak mengidam dan merasakan mual. Padahal aku khawatir juga, karena sampai sekarang aku masih kuliah seperti biasa. Hanya saja waktu membacaku kuhabiskan sebagian besar di rumah, bukan di perpustakaan seperti biasanya. Karena di rumah aku lebih punya waktu dan lebih bebas "bicara" dengan si kecil.&lt;br /&gt;Sampai saat itu...&lt;br /&gt;Kali itu pemeriksaan kandunganku yang keenam. Menurut hitungan dia sudah 10 pekan usianya. Hari itu kuajak Aa juga. Karena kata Dokter Abe kandungan ku mungkin sudah bisa dideteksi oleh USG, maka beliau mengundang Aa juga untuk ikut menyaksikannya. Akan tetapi, takdir Allah menentukan lain... "Aya -san, terakhir memeriksakan kandungan tiga minggu yang lalu, ya..?" Dokter Abe bertanya memastikan setelah selesai memeriksaku. "Iya, sensei.."Aku mulai merasakan hal yang tidak enak menjalari hatiku. "Heemm, bisa tolong panggil suami anda..?"&lt;br /&gt;Dan aku berusaha tabah ketika mendengar penjelasan itu. Janinku tidak berkembang! Penyebabnya sendiri belum diketahui secara persis. Karena pada pemeriksaan terakhir dia masih "hidup". Aku harus mengeluarkannya agar tidak meracuni rahimku.Aa menggegam tanganku erat. Kurasakan tubuhku bergetar menahan tangis. Ya Allah. Kutunggu kedatangannya selama 5 tahun lebih.Mengapa dia Kau panggil tanpa sempat kulihat wajah lucunya? Kenapa Kau panggil dia tanpa sempat aku rasakan lembut kulitnya, indah bening matanya, dan tangisan rewelnya. Aa menggegam tanganku lebih erat lagisambil berucap pelan, "Istighfar, Dede..Istighfar.."Ya, seakan mengerti apa yang bergalau di hatiku.&lt;br /&gt;Aku beristighfar dalam hati mencoba menghilangkan rasa penyesalanku atas taqdir Allah. Tidak, aku tidak boleh menyalahkan Allah atas cobaanNya, seru sebuah bagian hatiku. Tetapi kenapa Dia panggil anakku yang sudah begitu lama kunantikan, tanpa memberiku kesempatan untuk jangankan membelainya, bahkan merasakannya untuk lebih lama berdiam dalam perutku? Seru bagian hatiku yang lain. Ya Allah, ampuni aku. Ya Allah, ampuni aku.Akhirnya bagian hatiku yang bersih menyapu bagian hatiku yang kotor. Dan kutemukan diriku dalam keadaan tenang kembali. Ku dengar Aa berucap pelan "Innalillaahi wa inna ilaihi Raaji'uun.." Dan dengan tenang menandatangani formulir operasi buatku.&lt;br /&gt;Empat hari aku di rumah sakit. Aku tak merasakan perubahan yang berarti pada tubuhku. Tapi tidak demikian pada hatiku. Aku merasakan kesendirian ketika kusadari "anakku" tak ada lagi dalam diriku. Aa sendiri tak banyak berbicara tentang masalah itu. Aa tampak berusaha bersikap biasa. Namun aku tahu Aa menanggung kesedihan yang sama seperti yang kurasakan.&lt;br /&gt;Maghrib itu kami berjamaah seperti biasa. Yang tidak biasa hanyalah itu pertama kali kami shalat berjamaahan sejak aku mengungsi di rumah sakit. Pada rakaat yang kedua Aa membaca surat Al Baqoroh dari ayat 153. Dan suara Aa bergetar ketika mencapai: .... Walanabluwannakum bisyayi im minal khaufi wal juu'i wanaqshim minal amwaali wal anfusi watstsamaraat. Wabasyiri shabiriin Alladziina idzaa ashabathum mushibah, qoluu inna lillaahi wa inna ilaihi raji'uun.Ulaika alaihim shalawaatum mir rabbihim warahmah. Wa ulaaika humul muhtadun... ...&lt;br /&gt;(... Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepada mu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa mushibah mereka berucap: Innalillaahi wainna ilaihi raaji'unn. mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari RabbNya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ...)&lt;br /&gt;Aku terisak di belakang Aa, mendengar teguran Allah yang lembut itu. Betapaku rasakan Allah langsung menegur sekaligus menghiburku lewat ayat-ayat tersebut. Selesai shalat, seperti biasanya Aa shalat rawatib ba'da maghrib , lalu berdzikir sebentar. Tak lama kemudian membalikkan badannya ke arahku. Aku menatap Aa. Kutemui mata yang cekung dan kurang tidur, karena beberapa hari ini Aa harus menjalani hidup antara rumah, rumah sakit, dan kampus. Kucium punggung tangan Aa seperti biasanya. Aa tersenyum bijak dan mengelus kepalaku dengan tangan kirinya. "Innallaaha ma'ashshabiriin, De.."katanya serak. Aa bukanlah tipe orang yang mudah mengekspresikan emosinya lewat titik air mata. Tapi kali ini, kulihat mata cekung Aa dipenuhi oleh kaca-kaca. Aku mengangguk pelan. Kurasakan mataku memanas lagi, dan kurasakan pandanganku kabur karena genangan air mata. Aa tak melepaskan genggaman tanganku, digenggamnya erat-erat seolah ingin berbagi kekuatan dengan ku.&lt;br /&gt;Ya Allah, jika Engkau masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang Engkau berkati dan rahmati karena kesabaran kami menanggung cobaan, cobaan yang tidak seberat yang dialami saudara-saudara seiman kami yang harus hidup dalam ketakutan, kehilangan harta, bahkan nyawa dalam mempertahankan tanah air Islam, maka bimbinglah kami terus untuk dapat terus menganyam benang-benang kesabaran kami, agar menjadi kuat dan kokh sehingga mampu menanggung cobaan yang lebih berat lagi.(is95)&lt;br /&gt;************&lt;br /&gt;Keterangan: Aa * bahasa sunda artinya sama dengan panggilan Mas(untuk orang Jawa), atau Abang (untuk orang Betawi) Dede * bahasa Sunda, artinya sama dengan adi, jeng (atau apalah panggilan sayang buat istri) Miso * semacam tauco Indonesia terbuat dari beras, kedelai, dan garam Domou arigatou gozaimasu: terimakasih banyak .....san: cara orang Jepang memanggil lawan bicaranya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32231529-115510796651666883?l=cerpenislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenislami.blogspot.com/feeds/115510796651666883/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32231529&amp;postID=115510796651666883' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115510796651666883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115510796651666883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenislami.blogspot.com/2006/08/cerpen-islami-menganyam-kesabaran.html' title='[cerpen islami] Menganyam Kesabaran'/><author><name>gdz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32231529.post-115510768873876554</id><published>2006-08-08T22:43:00.000-07:00</published><updated>2006-08-11T21:36:46.386-07:00</updated><title type='text'>[cerpen islami] Sebuah Kisah,……</title><content type='html'>Assalamu'alaikum...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini ceritaku tentang adikku Nur Annisa, gadis yang&lt;br /&gt;baru beranjak dewasa namun rada bengal dan tomboy.&lt;br /&gt;Pada saat umur adikku menginjak 17 tahun ,&lt;br /&gt;perkembangan dari tingkah lakunya rada mengkhawatirkan ibuku , banyak teman&lt;br /&gt;cowoknya yang datang kerumah dan itu tidak mengenakkan ibuku sebagai&lt;br /&gt;seorang guru ngaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengantisipasi hal itu ibuku menyuruh adikku&lt;br /&gt;memakai jilbab, namun selalu ditolaknya hingga timbul&lt;br /&gt;pertengkaran-pertengkaran kecil diantara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah satu kali adikku berkata dengan suara yang&lt;br /&gt;rada keras "mama coba lihat deh, tetangga sebelah anaknya pakai&lt;br /&gt;jilbab namun kelakuannya ngga beda beda ama kita-kita, malah&lt;br /&gt;teman teman ani yang disekolah pake jilbab dibawa om om, sering&lt;br /&gt;jalan-jalan, masih mending ani, walaupun begini gini ani ngga pernah mo&lt;br /&gt;kaya' gituan ", bila sudah seperti itu ibuku hanya mengelus dada,&lt;br /&gt;kadangkala di akhir malam kulihat ibuku menangis, lirih terdengar doanya "&lt;br /&gt;Ya Allah , kenalkan Hani dengan hukum Engkau ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada satu hari di dekat rumahku, ada tetangga baru&lt;br /&gt;yang baru pindah. Satu keluarga dimana mempunyai enam anak yang&lt;br /&gt;masih kecil-kecil. Suaminya bernama Abu khoiri, (entah nama aslinya&lt;br /&gt;siapa) aku kenal dengannya waktu di masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa lama mereka pindah timbul desas&lt;br /&gt;desus mengenai istri dari Abu khoiri yang tidak pernah keluar rumah,&lt;br /&gt;hingga dijuluki si buta, bisu dan tuli. Hal ini terdengar pula oleh&lt;br /&gt;Adikku, dan dia bertanya sama aku "kak, memang yang baru pindah&lt;br /&gt;itu istrinya buta, bisu dan tuli ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;..trus aku jawab sambil lalu "kalau kamu mau&lt;br /&gt;datangin aja langsung rumahnya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eehhh, tuh anak benar-benar datang ke rumah….&lt;br /&gt;Sekembalinya dari rumah tetanggaku, kulihat perubahan yang drastic pada&lt;br /&gt;wajahnya, wajahnya yang biasa cerah ngga' pernah muram atau lesu&lt;br /&gt;mejadi pucat pasi..entah apa yang terjadi.?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tidak kusangka selang dua hari kemudian dia&lt;br /&gt;meminta pada ibuku untuk dibuatkan Jilbab ..yang panjang lagi..rok&lt;br /&gt;panjang, lengan panjang..aku sendiri jadi bingung..aku&lt;br /&gt;tambah bingung campur syukur kepada Allah SWT karena kulihat perubahan&lt;br /&gt;yang ajaib..yah kubilang ajaib karena dia berubah total..tidak&lt;br /&gt;banyak lagi anak cowok yang datang ke rumah atau teman teman wanitanya&lt;br /&gt;untuk sekedar bicara yang ngga' karuan..kulihat dia banyak merenung,&lt;br /&gt;banyak baca-baca majalah islam yang biasanya dia suka beli majalah&lt;br /&gt;anak muda kaya' gadis atau femina, ganti jadi majalah-majalah&lt;br /&gt;islam, dan kulihat ibadahnya pun melebihi aku, tak ketinggalan&lt;br /&gt;tahajudnya, baca Qur'annya, sholat sunat nya..dan yang lebih&lt;br /&gt;menakjubkan lagi ..bila teman ku datang dia menundukkan pandangan..Segala&lt;br /&gt;puji bagi Engkau ya Allah SWT jerit hatiku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berapa lama aku dapat panggilan kerja di&lt;br /&gt;kalimantan, kerja di satu perusahaan minyak KALTEX. Dua bulan aku&lt;br /&gt;bekerja disana aku dapat kabar bahwa adikku sakit keras hingga&lt;br /&gt;ibuku memanggilku untuk pulang ke rumah (rumahku di madiun). Di&lt;br /&gt;pesawat tak henti hentinya aku berdoa kepada Allah SWT agar Adikku&lt;br /&gt;di beri kesembuhan, namun aku hanya berusaha. ketika aku tiba di&lt;br /&gt;rumah..didepan pintu sudah banyak orang..tak dapat kutahan aku lari&lt;br /&gt;masuk kedalam rumah..kulihat ibuku menangis ..aku langsung&lt;br /&gt;menghampiri dan memeluk ibuku..sambil tersendat&lt;br /&gt;sendat ibuku bilang sama aku&lt;br /&gt;"dhi , adikkmu bisa ucapkan kalimat Syahadah di&lt;br /&gt;akhir hidupnya "..tak dapat kutahan air mata ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai acara penguburan dan lainnya ,&lt;br /&gt;iseng aku masuk kamar adikku dan kulihat Diary diatas mejanya..diary&lt;br /&gt;yang slalu dia tulis, Diary tempat dia menghabiskan waktunya&lt;br /&gt;sebelum tidur kala kulihat sewaktu almarhumah adikku masih hidup,&lt;br /&gt;kemudian kubuka selembar demi selembar..hingga tertuju pada satu&lt;br /&gt;halaman yang menguak misteri dan pertanyaan yang slalu timbul di&lt;br /&gt;hatiku..perubahan yang terjadi ketika adikku baru pulang dari rumah Abu&lt;br /&gt;khoiri..disitu kulihat Tanya jawab antara adikku dan istri dari&lt;br /&gt;tetanggaku ..isinya seperti ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya jawab ( kulihat dilembaran itu banyak bekas&lt;br /&gt;airmata )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Annisa :&lt;br /&gt;aku berguman (wajah wanita ini cerah dan bersinar layaknya bidadari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.....ibu.. wajah ibu sangat muda dan cantik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri tetanggaku :&lt;br /&gt;Alhamdulillah ..sesungguhnya kecantikan itu datang dari lubuk hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Annisa :&lt;br /&gt;tapi ibu kan udah punya anak enam ..tapi&lt;br /&gt;masih kelihatan cantik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri tetanggaku :&lt;br /&gt;Subhanallah ..sesungguhnya keindahan itu milik Allah SWT&lt;br /&gt;dan bila Allah SWT berkehendak.. siapakah yang bisa menolaknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Annisa :&lt;br /&gt;Ibu..selama ini aku slalu disuruh memakai jilbab oleh ibuku ….&lt;br /&gt;namun aku selalu menolak karena aku pikir ngga&lt;br /&gt;masalah aku ngga pakai jilbab asal aku tidak macam macam dan&lt;br /&gt;kulihat banyak wanita memakai jilbab namun kelakuannya melebihi kami&lt;br /&gt;yang tidak memakai jilbab..hingga aku ngga pernah mau untuk pakai&lt;br /&gt;jilbab..menurut ibu bagaimana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri tetanggaku :&lt;br /&gt;duhai Annisa, sesungguhnya Allah SWT menjadikan seluruh tubuh&lt;br /&gt;wanita ini perhiasan dari ujung rambut hingga ujung kaki,&lt;br /&gt;segala sesuatu dari tubuh kita yang terlihat oleh bukan muhrim kita&lt;br /&gt;semuanya akan dipertanggung jawabkan&lt;br /&gt;di hadapan Allah SWT nanti, jilbab adalah hijab untuk wanita ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Annisa :&lt;br /&gt;tapi yang kulihat banyak wanita jilbab&lt;br /&gt;yang kelakuannya ngga enak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Tetanggaku :&lt;br /&gt;Jilbab hanyalah kain, namun&lt;br /&gt;hakekat atau arti dari jilbab itu sendiri yang harus kita pahami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Annisa :&lt;br /&gt;apa itu hakekat jilbab ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Tetanggaku :&lt;br /&gt;Hakekat jilbab adalah hijab&lt;br /&gt;lahir batin , hijab mata kamu dari memandang lelaki yang bukan muhrim&lt;br /&gt;kamu, hijab lidah kamu dari berghibah dan kesia siaan&lt;br /&gt;...usahakan slalu berdzikir kepada Allah SWT, hijab telinga kamu dari&lt;br /&gt;mendengar perkara yang mengundang mudharat baik untuk dirimu maupun&lt;br /&gt;masyarakat, hijab hidungmu dari mencium cium segala yang berbau&lt;br /&gt;busuk, hijab tangantangan kamu dari berbuat yang tidak senonoh, hijab&lt;br /&gt;kaki kamu dari melangkah menuju maksiat, hijab pikiran kamu dari&lt;br /&gt;berpikir yang mengundang syetan untuk memperdayai&lt;br /&gt;nafsu kamu, hijab hati kamu dari sesuatu selain Allah SWT, bila kamu&lt;br /&gt;sudah bisa maka jilbab yang kamu pakai akan menyinari&lt;br /&gt;hati kamu..itulah hakekat jilbab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Annisa :&lt;br /&gt;ibu aku jadi jelas sekarang dari arti&lt;br /&gt;jilbab..mudah mudahan aku bisa pakai jilbab ..namun bagaimana aku bisa&lt;br /&gt;melaksanakan semuanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri tetanggaku :&lt;br /&gt;Duhai nisa bila kamu memakai&lt;br /&gt;jilbab itu lah karunia dan rahmat yang datang dari Allah SWT yang Maha&lt;br /&gt;Pemberi Rahmat, bila kamu mensyukuri rahmat itu kamu akan&lt;br /&gt;diberi kekuatan untuk melaksanakan amalan-amalan jilbab hingga&lt;br /&gt;mencapai kesempurnaan yang diinginkan Allah SWT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai nisa ..ingat lah akan satu hari dimana&lt;br /&gt;seluruh manusia akan dibangkitkan..ketika ditiup terompet yang kedua&lt;br /&gt;kali ..pada saat roh-roh manusia seperti anai-anai yang&lt;br /&gt;bertebaran dan dikumpulkan dalam satu padang yang tiada batas,&lt;br /&gt;yang tanahnya dari logam yang panas, tidak ada rumput maupun&lt;br /&gt;tumbuhan, ketika tujuh matahari didekatkan di atas kepala kita namun&lt;br /&gt;keadaan gelap gulita, ketika seluruh seluruh nabi ketakutan, ketika ibu&lt;br /&gt;tidak memperdulikan anaknya, anak tidak memperdulikan ibunya , sanak&lt;br /&gt;saudara tidak kenal satu sama lain lagi, kadang satu sama lain bisa&lt;br /&gt;menjadi musuh, satu kebaikan lebih berharga dari segala&lt;br /&gt;sesuatu yang ada di alam ini, ketika manusia&lt;br /&gt;berbaris dengan barisan yang panjang dan masing masing hanya memperdulikan&lt;br /&gt;nasib dirinya, dan pada saat itu ada yang berkeringat karena rasa&lt;br /&gt;takut yang luar biasa hingga menenggelamkan dirinya, dan rupa-rupa&lt;br /&gt;bentuk manusia bermacam-macam tergantung dari amalannya, ada yang&lt;br /&gt;melihat ketika hidupnya namun buta ketika dibangkitkan, ada yang&lt;br /&gt;berbentuk seperti hewan, ada yang berbentuk seperti syetan, semuanya&lt;br /&gt;menangis..menangis karena hari itu Allah SWT murka.. belum pernah&lt;br /&gt;Allah SWT murka sebelum dan sesudah hari itu. hingga ribuan tahun manusia&lt;br /&gt;didiamkan Allah SWT di padang mahsyar yang panas membara hingga&lt;br /&gt;Timbangan Mizan digelar itulah hari Hisab..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai Annisa bila kita tidak berusaha untuk&lt;br /&gt;beramal di hari ini, entah dengan apa nanti kita menjawab bila kita disidang&lt;br /&gt;oleh Yang Maha Perkasa, Yang Maha Besar, Yang Maha Kuat, Yang&lt;br /&gt;Maha Agung. Allah SWT . Sampai disini aku baca diarynya karena kulihat&lt;br /&gt;berhenti dan banyak tetesan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.&lt;br /&gt;Subhanallah.. kubalik lembar berikutnya dan kulihat tulisan : kemudian&lt;br /&gt;kulihat tulisan kecil di bawahnya buta, tuli dan bisu.. wanita yang tidak pernah&lt;br /&gt;melihat lelaki selain muhrimnya, wanita yang tidak pernah mau mendengar&lt;br /&gt;perkara yang dapat mengundang murka Allah SWT, wanita tidak pernah&lt;br /&gt;berbicara ghibah dan segala sesuatu yang mengundang dosa dan sia-sia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak tahan airmata ini pun jatuh. Semoga Allah SWT&lt;br /&gt;menerima Adikku di sisinya..Amin&lt;br /&gt;Subhanallah ..aku harap cerita ini bisa menjadi&lt;br /&gt;iktibar bagi kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;===================================&lt;br /&gt;[:-) "Your Smile Will Make World Peace"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan nama Allah dan segala puji bagi Allah&lt;br /&gt;shalawat dan salam untuk&lt;br /&gt;Rasulullah"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- "Saya tidak dapat memaksa orang lain mencintai saya"&lt;br /&gt;"Saya hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang saya cintai..."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32231529-115510768873876554?l=cerpenislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenislami.blogspot.com/feeds/115510768873876554/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32231529&amp;postID=115510768873876554' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115510768873876554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115510768873876554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenislami.blogspot.com/2006/08/cerpen-islami-sebuah-kisah.html' title='[cerpen islami] Sebuah Kisah,……'/><author><name>gdz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32231529.post-115492255299530866</id><published>2006-08-06T20:27:00.000-07:00</published><updated>2006-08-11T21:37:38.880-07:00</updated><title type='text'>[cerpen islami] Seindah Mentari Pagi</title><content type='html'>Pagi itu di dapur....&lt;br /&gt;" Bu,.. awas itu ikannya hampir gosong loh... ", seru khadimatku, Asih, membuyarkan lamunanku.&lt;br /&gt;" Masya Allah...", seruku seraya mematikan kompor.&lt;br /&gt;" Nah loh ibu lagi ngelamun ya... ?", goda Asih lagi.&lt;br /&gt;" Ah, kamu ini... ayo mana belanjaannya ? ", tanyaku.&lt;br /&gt;" Asih, hari ini kita bikin bali ikan, sayurnya kita bikin lodeh saja terus goreng tahu, tempe dan kerupuk". Asih, khadimatku sudah lama ikut aku dan keluarga. Sejak dia baru lulus SD sampai sekarang dia sudah lulus SMEA. Kami sekeluarga sudah menganggap Asih sebagai anggota keluarga sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai masak bareng Asih sambil menunggu adzan dzuhur aku berniat meneruskan tulisanku semalam, tapi aku hanya termenung di depan layar monitor tanpa dapat memusatkan pikiranku. Aku kembali meneruskan lamunanku yang tadi sempat terputus gara-gara Asih mengejutkanku. Semalam selepas kami sholat Isya' berjamaah, Sarah putri tunggalku menghampiriku di kamar.&lt;br /&gt;" Ummi,... ummi lagi repot ? ", tanya Sarah.&lt;br /&gt;" Nggak kog sayang, ada apa ? ".&lt;br /&gt;" Malam ini ummi nggak nulis ?, biasanya ba'da isya ummi khan langsung asyik sama komputer ".&lt;br /&gt;" He.. he.. Sarah,...Sarah....nggak kog, memang sih ummi mau nulis tapi nanti-nanti saja. Ada apa sholihah... ? ".&lt;br /&gt;" Eng.. eng... ada yang mau Sarah diskusikan sama ummi ".&lt;br /&gt;" Ya,... tentang apa nak ? ".&lt;br /&gt;" Tapi ummi harus janji dulu sama Sarah loh.. ".&lt;br /&gt;" Janji.. ? ada apa memangnya ? ".&lt;br /&gt;" Ya ummi, janji dulu ya mi yah... ? ", Sarah mulai dengan rengekan manjanya&lt;br /&gt;" Iya deh insya Allah.... ".&lt;br /&gt;" Ummi musti janji pertama ummi jangan motong dulu sebelum Sarah selesai, terus yang kedua ummi jangan bicarakan ini dulu sama siapapun kecuali sama Abi. Sarah nggak mau kalau mas Fadhil, mas Yazid dan Zakly tahu sebelum waktunya ", kata Sarah seraya menatapku.&lt;br /&gt;" Hhhmm.... iya insya Allah ".&lt;br /&gt;" Nah,... sekarang ummi dengarkan baik-baik yah...? ", pinta Sarah dengan kerlingan manjanya.&lt;br /&gt;" Iya.... ini dari tadi juga ummi sudah dengerin kog...", kataku mulai tak sabar.&lt;br /&gt;" Mmhhhh... begini ummi,.... akhir-akhir ini Sarah mulai berpikir kalau... mmhhh...mmhhh.. kalau Sarah pingin menyempurnakan setengah dari dien Sarah ", kata Sarah perlahan lantas Sarah tertunduk dan diam.&lt;br /&gt;Aku masih terdiam, rasanya otakku saat itu bekerja dengan sangat lambat untuk mencerna kata-kata Sarah. Sarah ingin menyempurnakan setengah dari diennya itu artinya Sarah hendak menikah....Subhanallah... Alhamdulillah... putri tunggalku sudah berpikir ke arah sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Sarah,...subhanallah nak...", aku tak dapat meneruskan kata-kataku.&lt;br /&gt;" Ummi kaget Sarah,... tapi sekaligus juga bangga ", kataku seraya memeluk Sarah yang masih tertunduk di hadapanku. " Alhamdulillah nak.... Insya Allah kalau nanti abi sudah pulang akan ummi diskusikan dengan abi. Nah,...mau ngomong begitu aja kog dari tadi pakai takut-takut segala sih sayang.. ? ", godaku.&lt;br /&gt;Sarah masih menunduk sambil tersenyum.&lt;br /&gt;" Sekarang masalahnya Sarah mau nikah sama siapa ?", tanyaku. "Atau Sarah pingin abi dan ummi yang carikan calonnya ? ".&lt;br /&gt;" Mmhh... sebenarnya Sarah sudah punya calon ummi.... ", katanya perlahan.&lt;br /&gt;" Heh... ?? Sarah sudah punya calon... kog abi dan ummi nggak tahu ? ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang aku terkejut. Aku kenal betul siapa Sarah, ia sangat hati- hati dalam menjaga pergaulan dengan lawan jenisnya. Tapi kog tahu-tahu sekarang sudah ada calon.&lt;br /&gt;" Ummi masih janji kalau nggak memotong sebelum Sarah selesai khan,...sekarang Sarah mau cerita yang lengkap ". Sarah menarik nafas.&lt;br /&gt;" Begini ummi,... ada temen pengajian Sarah di kampus, akhwat itu punya mas. Nah, masnya itu insyaAllah akhlaq dan diennya baik ".&lt;br /&gt;" Hhmm.... lantas.. ", kataku tak sabar.&lt;br /&gt;" Temen Sarah itu mengusulkan agar Sarah menikah dengan masnya. Nah,.. sekarang Sarah mau minta tolong ummi dan abi atau mas Fadhil atau mas Yazid untuk menyelidiki apa memang betul ikhwan itu diennya baik dan insya Allah bisa cocok sama Sarah ".&lt;br /&gt;" Hhhmmm... begitu ? ".&lt;br /&gt;" Sarah belum pernah ketemu sama ikhwan itu, Sarah baru lihat fotonya saja dan Yasmin, teman Sarah itu cerita kalau ikhwan itu insya Allah shalih. Sarah percaya sama Yasmin, ummi masih ingat Yasmin khan yang pernah kesini itu lho... ".&lt;br /&gt;" Ummi lupa abis khan banyak akhwat temen Sarah yang main kesini ".&lt;br /&gt;" Ummi,... abi dan ummi khan selalu bilang kalau apapun yang kita kerjakan harus lillaahita'ala khan ? ", tanya Sarah. Aku hanya mengangguk....&lt;br /&gt;" Ummi,....insya Allah Sarah ingin pernikahan ini juga menjadi ibadah karena Sarah pingin mencari ridho Allah ummi. Sarah ingin nikah dengan ikhwan itu karena Sarah ingin menolong ia dan keluarganya mi... Ummi,.. sebenarnya ia sudah menikah, sudah punya isteri ".&lt;br /&gt;" Heh....", seruku dengan terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa memperdulikan keterkejutanku Sarah kembali meneruskan kata-katanya.&lt;br /&gt;" Ummi, ikhwan itu sudah nikah hampir 6 tahun, tapi sampai sekarang belum dikasih amanah oleh Allah, isterinya punya fisik yang lemah, sering sakit-sakitan. Sarah berpikir ummi,.... Sarah ingin bisa menolong keluarga itu untuk sama-sama berjihad di jalan Allah. Sarah bisa bantu-bantu pekerjaan rumah tangga dan insya Allah nanti Sarah bisa melahirkan jundi-jundi yang bisa dididik sama-sama. Ummi ingat ya ummi,... Sarah insyaAllah mau melakukan ini semua hanya karena Allah, Sarah cuma mau mencari ridho Allah saja ummi.... Sarah sudah istikharoh berkali-kali dan Sarah makin hari makin mantap aja ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya terdiam,... tak tahu harus berkata apa. Terus terang aku sangat ingin suamiku ada disampingku saat ini. Kenapa Sarah harus membicarakan hal itu di saat suamiku ke luar kota. Aku bingung tak tahu harus berkata apa....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ummi,.... ", panggil Sarah perlahan.&lt;br /&gt;" Sarah,...sekarang ummi mau tanya ya nak... ".&lt;br /&gt;" Bagaimana awal mulanya kog tiba-tiba Sarah ingin menikah dengan ikhwan itu ? ".&lt;br /&gt;" Begini ummi,...Yasmin bilang kalau mbak Asma, nama isteri masnya itu, pernah bilang ke Yasmin bahwa mbak Asma ingin suaminya menikah lagi ".&lt;br /&gt;" Hhmmm.... terus.... ".&lt;br /&gt;" Soalnya mbak Asma tahu benar kalau suaminya sudah ingin punya jundi sementara mbak Asma sendiri sampai sekarang belum juga dikasih kesempatan oleh Allah untuk hamil. Kasihan mbak Asma ummi,...sudah fisiknya lemah, kesepian lagi. Sehabis Yasmin cerita begitu Sarah jadi kepikiran, Sarah ingin membantu keluarga itu ummi.... Sarah pingin bisa bantu-bantu mbak Asma, nemenin mbak Asma, insyaAllah nanti Sarah juga bisa melahirkan jundi yang bisa dididik sama-sama. Khan Ummi sendiri yang bilang kalau untuk menuju kebangkitan Islam memerlukan generasi yang berkualitas, insya Allah nanti akan lahir generasi-generasi robbani ."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sholat dzuhur berdua dengan Asih aku kemudian makan sendirian. Kalau siang seperti ini rumah selalu sepi, hanya aku berdua dengan Asih saja. Mereka biasanya makan di kampus masing-masing dan Yazid makan di cafetaria kantornya. Terus terang aku kesepian, ingin rasanya aku segera mendapatkan cucu-cucu dari mereka. Dan kini salah seorang dari mereka mengajukan keinginannya untuk menikah, tapi...kenapa Sarah hendak nikah dengan seseorang yang telah beristri?.... Rasanya sejak semalam aku sulit berpikir secara jernih, aku terlalu terbawa alam perasaanku. Diantara mereka berempat aku tidak membeda-bedakan kasih sayangku. Aku selalu berusaha adil terhadap mereka. Tapi tak dapat kupungkiri kalau Sarah menempati posisi yang lebih istimewa. Perhatianku lebih tercurah ekstra pada Sarah. Karena Sarah hanya satu-satunya putri tunggalku. Aku lebih melindungi Sarah dibandingkan dengan putra-putraku yang lain. Timbul rasa was-was dalam hatiku, bagaimana kalau seandainya suaminya nanti tak dapat berlaku adil, bagaimana kalau seandainya madu Sarah tidak memperlakukannya dengan baik karena merasa mendapat saingan dan bagaimana kalau nanti Sarah tidak bahagia. Semua itu menjadi beban pikiranku. Aku menyayangi Sarah, dan wajar bila sebagai seorang ibu aku ingin melihat anak-anakku bahagia. Aku menjadi tidak berselera makan. Tiba-tiba...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Assalamu'alaikum,...", suara Zakly kudengar dari teras depan.&lt;br /&gt;" Wa'alaikumussalam,... loh kog sudah pulang ? ", tanyaku.&lt;br /&gt;" Iya mi, dosennya nggak ada... lagi pula siang ini sudah nggak ada kuliah lagi kog ", jawab Zakly seraya mencium tanganku.&lt;br /&gt;" Ayo makan sekalian,...ummi baru saja mulai ".&lt;br /&gt;" Sebentar mi, cuci tangan dulu... ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kebiasaan mereka sejak kecil, setiap pulang sekolah waktu makan siang mereka akan bercerita tentang kejadian mereka di sekolah hari itu. Dan hingga kini meskipun mereka telah beranjak dewasa kebiasaan itu tetap terbawa. Zakly sedang bercerita tentang susahnya mencari dosen pembimbingnya untuk skripsi. Tapi aku hanya menanggapi setengah hati, konsentrasiku tidak terpusat seutuhnya pada apa yang dibicarakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ummi,.... ummi kenapa sih...? ", tanya Zakly.&lt;br /&gt;" Oohh...nggak,... Zakly bilang apa tadi temen Zakly kenapa ? ".&lt;br /&gt;" Nah khan... ketahuan deh kalo ummi nggak dengerin Zakly ngomong ".&lt;br /&gt;" Nggak,.. kenapa tadi.... ? ".&lt;br /&gt;" Sejak tadi pagi Zakly perhatikan ummi hari ini agak lain deh... ".&lt;br /&gt;" Ah masa sih,... itu khan perasaan Zakly saja.. ".&lt;br /&gt;" Bener kog... tadi pagi di garasi mas Yazid saja tanya sama Zakly, kog ummi pagi ini agak diam ya... nggak secerewet biasanya ".&lt;br /&gt;" Eh,...ghibah ih,...ngomongin umminya ", sahutku sambil tersenyum.&lt;br /&gt;" Bener kog... ummi nggak sakit khan ?? ".&lt;br /&gt;" Nggak ummi nggak apa-apa kog... ".&lt;br /&gt;" Kalo nggak apa-apa kog ummi jadi agak lain ayo !", desak Zakly masih dengan ngototnya.&lt;br /&gt;Sifat Zakly ini menurun dari abinya, yang nggak akan berhenti bertanya kalo belum mendapatkan jawaban yang dapat memuaskan hatinya.&lt;br /&gt;" Ummi...ummi cuma pingin abi cepet pulang, gitu aja.." sahutku perlahan.&lt;br /&gt;" Ha.... ha.... ", meledak tawa Zakly.&lt;br /&gt;" Lho kog ketawa sih ? ",tanyaku.&lt;br /&gt;" Abis ummi lucu, kaya pengantin baru aja deh.... dikit-dikit kangen pingin ketemu abi ".&lt;br /&gt;" Yah wajar dong.... namanya juga suami isteri ".&lt;br /&gt;" Tapi ummi lucu deh... kita khan pura-pura nggak tahu aja, kalau sebenarnya di belakang kita ummi tuh kolokan banget sama abi... ", goda Zakly lagi.&lt;br /&gt;" Hhhmmm.... kata siapa ? ", tanyaku tak mau kalah.&lt;br /&gt;" Yah ummi...ngaku aja deh,...kalau ummi khan masih manja banget sama abi, ummi kita khan udah pada gede-gede, sudah ngerti ", kata Zakly masih sambil ketawa.&lt;br /&gt;" Udah ah,... ketawa aja tersedak lho nanti maemnya.. ",sahutku.&lt;br /&gt;" Mmmhh...ummi nggak mau ngakuin tuh..., sabar dong ummi insya Allah besok abi khan sudah pulang ", goda Zakly lagi.&lt;br /&gt;" Udah,... cepat dihabisin maemnya Zakly... ".&lt;br /&gt;" Iya nyonya besar.... ", kata Zakly sambil tersenyum-senyum menggoda.&lt;br /&gt;" Ummi,...", panggil Zakly lagi.&lt;br /&gt;" Apa lagi sholeh ?? ".&lt;br /&gt;" Mmhh... Zakly nanti ingin kalau punya rumah tangga seperti rumah tangga abi dan ummi.... ".&lt;br /&gt;" Kenapa memangnya... ? ".&lt;br /&gt;" Sepertinya abi sama ummi tuh seneenng terus, nggak pernah Zakly lihat abi sama ummi ribut, meskipun sudah tua-tua tapi masih seperti pengantin baru saja ".&lt;br /&gt;" Hhmmm... kalian khan nggak tau saja, pernah juga abi dan ummi berselisih, karena beda pendapat, itu wajar dalam rumah tangga ".&lt;br /&gt;" Oya... kog Zakly nggak tahu.. ".&lt;br /&gt;" Aduh anakku sholeh.... masa sih kalau abi sama ummi lagi nggak enakan harus lapor sama kalian, nggak khan ?".&lt;br /&gt;" Iya.. ya.... ".&lt;br /&gt;" Itu rahasia abi dan ummi, kita selesaikan berdua, diskusi, dibahas, saling menghargai pendapat lawan, cari jalan tengahnya ".&lt;br /&gt;" Terus mi.... ".&lt;br /&gt;" Ya sudah,...berusaha menyelesaikannya secepat mungkin, dan saling mengalah. InsyaAllah keadaan cepat normal lagi, baikan lagi. Kunci yang penting Zakly,... kalau nanti Zakly sudah berkeluarga, jangan pernah kalian ribut di depan anak-anak, karena nggak baik buat perkembangan jiwa mereka. Selesaikan berdua ketika sudah sama-sama tenang sehabis sholat misalnya ".&lt;br /&gt;" Hhmmm... itu makanya abi sama ummi tetap awet sampai sekarang yah ? ".&lt;br /&gt;" Yah... alhamdulillah nak, abi dan ummi saling cinta meskipun dulu kita nggak pakai istilah pacaran ".&lt;br /&gt;" Iya mi,... Zakly tahu itu....subhanallah....&lt;br /&gt;"Iya,... Islam sudah bikin aturan yang benar dan baik tinggal tergantung kita mau ikut atau nggak ", kataku lebih lanjut. Sudah sekarang cepat habisin maemnya... ".&lt;br /&gt;" Jazakillah ya ummi buat materinya siang ini.... ".&lt;br /&gt;" Hhmm... waiyakallahu.. ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tiba-tiba.... kring... dering suara telfon.&lt;br /&gt;" Hallo,... ", angkat Yazid.&lt;br /&gt;" 'Alaikumussalam,... oh abi nih... Iya bi,... bener nih nggak usah dijemput ?. Iya-iya....insya Allah.... 'alaikumussalam... ".&lt;br /&gt;" Dari abi, Yazid ?? ", tanyaku.&lt;br /&gt;" Iya,... seminar abi ternyata selesai hari ini, abi sekarang ada di airport sebentar lagi pulang ".&lt;br /&gt;" Lho,... abi nggak minta dijemput ? ", tanyaku.&lt;br /&gt;" Kata abi, abi mau naik taksi saja biar cepat, kalau nunggu dijemput kelamaan ".&lt;br /&gt;" Insya Allah sebentar lagi abi pulang ". harapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai sholat isya'....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kalian sudah pada lapar ya ?, mau makan sekarang atau nunggu abi saja sekalian ? ", tanyaku.&lt;br /&gt;" Nanti aja mi,... enakan bareng-bareng abi aja.. ".&lt;br /&gt;" Kalau kalian mau maem dulu nggak apa-apa, biar nanti ummi saja yang nemenin abi ".&lt;br /&gt;" Nggak usah mi,... khan sebentar lagi insya Allah abi juga datang ", jawab Fadhil lagi.&lt;br /&gt;Dan benar, tak berapa lama kemudian....&lt;br /&gt;" Assalamu'alaikum,...", suara suamiku dari teras depan.&lt;br /&gt;" Wa'alaikumussalam... ", jawab kami berbarengan.&lt;br /&gt;Kelakuan mereka masih persis anak-anak langsung berebut membuka pintu buat abinya dan mencium tangan abinya. Kalau melihat mereka seperti itu tak percaya rasanya kalau mereka sudah pada besar-besar dan sudah waktunya untuk nikah. Ah,...nikah lagi... kenapa itu yang ada dipikiranku selalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ummi,..ini nih pacar ummi udah datang...", seru Zakly.&lt;br /&gt;" Zakly,...apa-apa an sih ya...", kataku sambil melotot.&lt;br /&gt;" Alah.. ummi, tadi siang bilang kangen, pingin abi cepet pulang, sekarang malah berdiri disitu aja... ", goda Zakly lagi.&lt;br /&gt;" He.. he.... memang tadi siang ummi kenapa Zakly ", tanya suamiku.&lt;br /&gt;" Tadi siang nih bi.... ".&lt;br /&gt;" Udah Zakly,... abi baru aja dateng,... cuci tangan dulu deh bi,.. terus kita maem ", potongku langsung.&lt;br /&gt;" Iya bi,.. kita tadi udah laper nungguin ", kata Sarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa waktu makan malam adalah saat dimana kami dapat makan bersama. Kalau pagi, anak-anak biasa sarapan lebih dulu sedangkan aku dan suamiku hanya sarapan berdua, karena suami ke kantor agak siang dibanding mereka pergi. Kalau siang mereka tak pernah makan di rumah, biasanya aku makan sendiri. Jadi baru makan malamlah kami dapat berkumpul bersama. Dan seperti biasa mereka saling tak mau kalah kalau sudah cerita, jadi bisa dibayangkan bagaimana semaraknya suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Oya,...tadi Zakly bilang apa tentang ummi ", tanya sumiku mendadak.&lt;br /&gt;" Oh,... he.. he.. ini ummi,... ".&lt;br /&gt;" Kenapa Zakly ? ", tanya Yazid.&lt;br /&gt;" Tadi siang khan Zakly makan di rumah , terus pas Zakly ajak ngobrol ummi tuh kayanya nggak bener-bener ngedengerin deh,... Zakly pikir kenapa gitu.... ".&lt;br /&gt;" Trus.... ", potong Fadhil.&lt;br /&gt;" Waktu Zakly desak-desak ummi bilang nggak apa-apa,.. tapi akhirnya ngaku juga... ".&lt;br /&gt;" Ummi bilang apa... ? ", tanya suamiku.&lt;br /&gt;" Ummi bilang kangen sama abi, pingin abi cepat-cepat pulang, waktu ngomongnya kaya anak remaja yang umur 17 tahun, sambil malu-malu gimanaaa.. gitu ".&lt;br /&gt;Langsung, tawa mereka memecah...&lt;br /&gt;" Ih,... ummi perasaan biasa aja bilangnya, ngapain juga pakai malu-malu segala, orang abi sama ummi udah 28 tahun nikah ", sahutku.&lt;br /&gt;" Alah ummi,..Zakly tadi khan liat muka ummi merah-merah gimana gitu ".&lt;br /&gt;" Oooohh.... pantesan tadi pagi Yazid juga perhatikan ummi agak aneh, nggak seperti biasanya ", sambung Yazid.&lt;br /&gt;" Iya,..ummi tadi pagi agak diam, hhmm baru ketauan ternyata sebabnya kenapa ", kata Fadhil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka masih tertawa-tawa, kulirik Sarah hanya tersenyum tak ikut menggodaku seperti yang lain. Tentu Sarah tahu dialah yang menjadi penyebab kenapa seharian ini aku agak aneh.&lt;br /&gt;" Iya mi,...bener ya apa yang Zakly bilang ", tanya suamiku sambil menatapku dalam-dalam.&lt;br /&gt;" Hhmm.... ", aku hanya tersenyum, jengah juga rasanya ditatap seperti itu di depan anak-anak meskipun mereka udah dewasa.&lt;br /&gt;Mendadak tawa mereka memecah lagi....&lt;br /&gt;" Lho,... kenapa sih... ?? ".&lt;br /&gt;" Coba deh ummi ngaca, muka ummi tuh lucu banget tersipu-sipu gimana gitu, kaya remaja 17 tahunan ", kata Zakly.&lt;br /&gt;" Ummi... ummi...,mau bilang iya aja kog pake malu-malu segala sih... ", kata suamiku.&lt;br /&gt;" Padahal abi khan baru pergi 3 hari yang lalu, ya khan ? ", tanya suamiku ke mereka.&lt;br /&gt;" Tunggu aja bi,.. nanti kalau kita sudah nggak ada, ummi bakal ngaku juga sama abi,... ", kata Zakly.&lt;br /&gt;" Udah ah,... nggak selesai-selesai maemnya nanti, ingat abi belum sholat lho..", kataku mengalihkan pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah suamiku sholat, seperti biasa kami berkumpul di ruang tengah. Dan juga seperti biasa mereka tak pernah habis-habis akan topik bahasan. Mulai dari kerusuhan tentang adanya isyu pembunuhan dukun santet yang menyebabkan sebagian ulama juga ikut terbunuh, tentang harga sembako yang masih saja sulit dijangkau, dan juga tentang keanekaragaman visi dari bermacam-macam partai Islam yang ada. Sampai pada masalah banyaknya anak-anak yang putus sekolah karena tak ada biaya serta kondisi gizi anak-anak balita yang memprihatinkan. Dan seperti biasa, mereka ingin agar segera terbentuk khalifah Islam dimana segala macam bentuk perundang-undangan bersumber pada Al Qur'an dan sunnah Rasul yang insya Allah apabila semuanya itu dilakukan dapat menjamin pola kehidupan masyarakat akan menjadi baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari balik layar monitor kuperhatikan Sarah tidak selincah biasanya dalam berdiskusi dengan mas-masnya, Sarah hanya sesekali menimpali itu pun dengan nada bicara yang tanpa semangat, sedangkan aku dari tadi duduk di depan komputer, tapi hanya satu paragraf yang berhasil kutulis. Karena perhatianku lebih tercurah pada apa yang mereka bahas dibanding dengan susunan cerita yang sedang kukerjakan. Ingin rasanya aku cepat-cepat menarik suamiku ke kamar untuk membahas keinginan Sarah. Tapi kulihat mereka masih asyik, dan sekarang`mereka sedang nonton Dunia Dalam Berita. Biasanya sehabis acara itu mereka masih duduk di situ untuk membahas berita yang baru saja mereka lihat, sebelum akhirnya masuk ke kamar masing-masing. Setelah dunia dalam berita....&lt;br /&gt;" Abi nggak capek,... khan tadi baru pulang, besok harus ke kantor khan ? ", kataku.&lt;br /&gt;" Besok saja diterusin obrolannya,... atau kalian ngobrol berempat saja... ", sambil kutatap mereka.&lt;br /&gt;" Kasian abi dong.... ", sambungku lagi.&lt;br /&gt;" Hhhmm.... hhmm.... ", Zakly pura-pura batuk, yang aku tahu itu hanya untuk menggodaku saja.&lt;br /&gt;" Iya deh,...lagian masa abi ngobrol sama kalian aja, abi khan juga pingin ngobrol sama ummi ", kata suamiku.&lt;br /&gt;Tawa mereka memecah lagi...&lt;br /&gt;" Bukan,... bukan gitu, abi khan baru pulang, dan besok harus kerja ", bantahku.&lt;br /&gt;" Iya..iya...udah yok mi,.. kita bobo...", ajak suamiku.&lt;br /&gt;" Jangan lupa lho, periksa lagi pintu jendela sebelum kalian masuk kamar ", perintahku pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulirik jam, sudah pukul 10 kurang seperempat. Tak mungkin rasanya aku bercerita malam ini. Suamiku tentu lelah, biar besok saja setelah sholat shubuh pikirku. Dan kulihat suamiku sudah merebah di tempat tidur dan bersiap-siap untuk tidur. Iya,... nggak mungkin malam ini, besok saja putusku. Tapi aku masih belum dapat memejamkan mata, ingin rasanya hari segera berganti. Aku tidak biasa memendam sesuatu terhadap suamiku. Aku ingin segera menumpahkan apa yang menjadi beban pikiranku. Yah,... insya Allah nanti selepas shubuh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah qiyamul lail, sambil menunggu shubuh aku bergantian membaca qur'an dengan suamiku. Seperti biasa suamiku dan anak-anak sholat shubuh di mesjid. Tinggal aku, Sarah dan Asih sholat berjama'ah di rumah. Pada halaman terakhir aku membaca Al Matsurat, suamiku pun tiba. Akhirnya setelah kulipat mukena dan kurapikan sajadah aku berdiri di hadapan suamiku yang sedang duduk di tepi tempat tidur....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Mas,... mas masih ngantuk ? mau tidur lagi ? ".&lt;br /&gt;" Nggak kog,... mas nggak ngantuk, kenapa de' ? ".&lt;br /&gt;" Mmhhh... ada yang mau ade' omongin sama mas... ".&lt;br /&gt;" Iya,.. tentang apa de' ? ", tanya suamiku seraya menarikku untuk duduk di hadapannya.&lt;br /&gt;" Mmhh.. ini tentang Sarah mas,... ".&lt;br /&gt;" Iya,.. ada apa memangnya sama Sarah ? ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kuceritakan semua apa yang menjadi keinginan Sarah. Rasa banggaku terhadap Sarah yang memiliki niat seperti itu. Persetujuanku terhadap keinginannya, tapi juga sekaligus rasa khawatirku, rasa cemasku akan putri tunggalku. Betapa aku amat mengasihinya dan aku tidak ingin ada sesuatu hal buruk yang akan dialaminya kelak. Di satu pihak apa yang menjadi keinginan Sarah patut untuk aku dukung, karena yang dilakukan Sarah hanyalah untuk mencari ridhoNya semata, tak boleh aku menghalanginya dari jalan Allah. Tapi di pihak yang lain aku khawatir bila nanti suaminya tidak bisa berlaku adil atau rasa cemburu dari madunya akan menyakiti hatinya. Aku rasa kekhawatiranku adalah hal yang wajar, karena waktu Fatimah mengadu kepada Rasulullah SAW akan niat Ali ra yang hendak nikah lagi, Rasulullah pun berkata bahwa apabila menyakiti hati Fatimah, itu sama halnya dengan menyakiti hati beliau, karena rasa kasih sayang Rasulullah sangat besar terhadap Fatimah. Tapi aku sungguh tersentuh dengan niat Sarah yang subhanallah sangat mulia. Kutumpahkan semua uneg-uneg di hatiku pada suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" De',... mas tahu,...ade' sayang sekali pada Sarah, begitu juga mas ", kata suamiku perlahan.&lt;br /&gt;" Tapi de',... ade' tahu khan kalau Sarah itu bukan milik kita, Allah cuma menitipkan Sarah ke kita. Alhamdulillah Allah mau memberikan amanahNya pada kita, bukan cuma Sarah, tapi juga Fadhil, Yazid dan Zakly ".&lt;br /&gt;" Mas bangga pada anak-anak, begitu juga mas bangga pada ade' yang sudah berperan buat mentarbiyah mereka. Karena mereka semua nantinya harus kita pertanggung-jawabkan kepada Allah. Nah,...sekarang misalnya ade' ada di posisi Asma, sudah fisiknya lemah, sakit-sakitan, kesepian..., padahal dia menginginkan untuk dapat berperan menjadi pendidik generasi yang dapat menggantikan perjuangan generasi sebelumnya, dia juga menginginkan akan adanya panggilan 'ummi' dari seorang anak yang lucu. Gimana coba ? ", tanya suamiku dengan lembut.&lt;br /&gt;" Dari cerita ade' tadi,...Asma sendiri yang usul supaya suaminya nikah lagi, rasanya apa yang ade' khawatirkan insya Allah nggak akan terjadi deh...Dia sudah rela suaminya menikah lagi, dia sudah ridho dan insya Allah diapun akan memperlakukan Sarah dengan baik.. . Ade' juga tau khan kalau Allah pasti memberikan yang terbaik, belum tentu apa yang menurut kita nggak baik tapi sebenarnya itu justru baik menurut Allah, cuma Allah yang tahu ade '...., kita tidak tahu apa-apa... ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sini air mataku mulai menetes...Astaghfirullah...Ampuni aku ya Allah,... aku terlalu melibatkan perasaan dan emosiku. Sarah hanyalah milik-Mu, dan Engkau yang akan menjaganya... " Ade',..ade' inget khan kalau rasa cinta kita terhadap keluarga, harta dan sebagainya tidak boleh melebihi rasa cinta kita terhadap Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya ? ",tanya suamiku.&lt;br /&gt;Aku hanya mengangguk....&lt;br /&gt;" Jadi insyaAllah kitapun akan mendapat ridho Allah, dari apa yang dilakukan Sarah nanti...., karena kita dengan ikhlas menyetujui Sarah menikah hanya karena kita juga sama-sama mencintai-Nya ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sama-sama terdiam sesaat. Kutarik nafas panjang...&lt;br /&gt;" Mas,...", panggilku lirih.&lt;br /&gt;" Ya sayang... gimana ? ", tanya suamiku,&lt;br /&gt;" Iya mas...ade' sudah tenang sekarang,...kalau tadi meskipun ade' setuju tapi tetap ada yang ganjal rasanya ".&lt;br /&gt;" Kalau sekarang.. ? ", tanya suamiku.&lt;br /&gt;" Ade' sekarang sudah ikhlas mas,... hati ade' sudah plong rasanya, ade' sadar ada Allah yang akan menjaga Sarah, Sarah kan cuma milik Allah ya mas ?? ".&lt;br /&gt;" Nah,... gitu dong... insya Allah Sarah, Asma dan Farid bisa membentuk keluarga sakinah, yang bisa mencetak generasi rabbani, kita tinggal mendo'akan mereka saja de'...".&lt;br /&gt;" Tapi mas,... ", kataku tertahan.&lt;br /&gt;" Tapi kenapa lagi ? masih belum sreg juga ?&lt;br /&gt;" Bukan begitu,... cuma mas kog kayanya begitu gampang memutuskan masalah ini, kayanya mas sudah tau tentang ini sebelumnya ", kataku penuh curiga.&lt;br /&gt;" Mmmhhh... sebenernya sebelum ade' cerita tadi mas udah tau kog de'... ", kata suamiku.&lt;br /&gt;" Hah.... ?? ", tanyaku heran.&lt;br /&gt;" Mmmhh.. sebelum mas ke Jakarta Farid dateng ke kantor mas, sudah diskusi dengan mas... ".&lt;br /&gt;" Lho.. ??? ".&lt;br /&gt;" Iya,... Mas juga tahu siapa Farid itu, juga isterinya, tapi waktu itu mas sorenya udah buru-buru mau berangkat mas pikir nanti saja pulang dari Jakarta cerita ama ade', terus pas ade' lagi belanja sama Asih mas interlokal dari Jakarta, yang ada di rumah Sarah, mas tanya sama Sarah. Ternyata Sarah juga sudah tahu dari Yasmin, mungkin Asma sudah minta Yasmin bilang ke Sarah, begitu de' ", penjelasan suamiku.&lt;br /&gt;" Lho,.. Sarah kog nggak bilang kemaren sama ade' kalo mas sebenarnya sudah ngomong sama Sarah duluan ?", tanyaku masih kebingungan.&lt;br /&gt;" Iya,... mas bilang sama Sarah, supaya Sarah bilang sama ade' saja, tanya pendapat ade' gimana gitu... . Khan nggak enak kalau tahu-tahu mas udah langsung ngasih persetujuan duluan padahal ade' masih belum tahu apa-apa", kata suamiku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah....betapa suamiku sangat menghargai aku, dari dulu suamiku tidak pernah mengambil keputusan sendiri dalam masalah rumah tangga, selalu mengajakku untuk berunding terlebih dahulu.&lt;br /&gt;" Tapi mas,...ade' masih mau tanya lagi nih.. ", kataku.&lt;br /&gt;" Iya sayang,... kenapa lagi ? ".&lt;br /&gt;" Tadi mas bilang kalau mas tahu bener siapa Farid itu, memang mas sudah kenal sebelumnya sama Farid ? ".&lt;br /&gt;" Mmmhh....mmmhh....", suamiku tidak menjawab hanya tersenyum saja.&lt;br /&gt;Dan aku tahu apa itu artinya...suamiku tidak akan menjawab pertanyaan semacam itu. Tapi akupun tahu sebesar apa kasih sayang suamiku terhadap Sarah. Tidak mungkin rasanya suamiku membuat keputusan besar seperti ini tanpa lebih dahulu menyelidiki bagaimana keluarga Farid dan Asma.&lt;br /&gt;" Yang penting de',... kita berdo'a aja untuk kebahagiaan mereka ", ujar suamiku.&lt;br /&gt;" Hhhmm... iya deh,... yang penting kita tinggal berdoa saja buat mereka ", kataku.&lt;br /&gt;" Terus mas ada lagi,.. berarti mas tahu dong kemarin pas ade' gelisah soalnya ada yang mau ade' omongin sama mas, ya khan ?", tanyaku.&lt;br /&gt;" Iya doonngg...., masa mas nggak tahu, khan ade paling nggak bisa menyembunyikan sesuatu dari mas, meskipun sebenarnya ade' berusaha nutup-nutupin juga... ".&lt;br /&gt;" Berarti mas tau dong sebenarnya ade' pingin ngomong kemaren ? ", tanyaku lebih gencar.&lt;br /&gt;" Iya dong...tau dong....", kata suamiku sambil tertawa.&lt;br /&gt;" Ih,... mas jahat,... nggak mau dibahas dari kemarin saja... mas tau nggak, ade' tuh semalam nggak nyenyak bobonya,... pingin cepat-cepat pagi biar cepat cerita sama mas... ", jelasku.&lt;br /&gt;" Iya.... mas juga tahu, mas iseng saja... sekalian melatih kesabaran ade'...", sambung suamiku masih tertawa.&lt;br /&gt;" Mas jahat ih.... sudah tua masih suka iseng ngerjain isterinya... ", kataku berusaha untuk tidak ikut tersenyum.&lt;br /&gt;" He.. he.... alaah de'.... mau ketawa aja pakai gengsi segala sih.... ", kata suamiku sambil mengacak-ngacak rambutku. " Hhmmmm.... si mas....", aku sudah kehabisan kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba suara pintu kamar diketuk dengan agak keras, aku sudah hafal siapa lagi kalau bukan Zakly yang berani mengetuk seperti itu...&lt;br /&gt;" Abi,... Ummi,.... pada mau pamitan nih.... ", teriak Zakly dari luar.&lt;br /&gt;" Hhmm....Zakly ya, ngomong agak pelanan khan bisa ", kataku sambil membuka pintu kamar.&lt;br /&gt;" He.. he.... abis tadi Sarah udah ngetuk tapi nggak dibukain sih,..ya udah Zakly aja yang ngetuk lagi, katanya membela diri.&lt;br /&gt;" Lho bi,... kog belum siap ?? nggak ke kantor hari ini ya.. ? ", tanya Fadhil.&lt;br /&gt;" Iya,... nanti agak siangan... ", jawab suamiku.&lt;br /&gt;" Udah pada sarapan ? ", tanyaku.&lt;br /&gt;" Udah dong.... khan kita sarapan sendirian.... ummi sama abi khan masih di dalam kamar ", kata Zakly sambil sedikit memonyongkan bibirnya.&lt;br /&gt;" Khan udah pada gede juga.... ", kataku sambil tertawa.&lt;br /&gt;" Ya udah mi,... berangkat dulu nih.... ", kata Yazid sambil mereka bergantian mencium tangan kami satu-persatu.&lt;br /&gt;" Sarah,...berangkat ya mi... ", katanya sambil berbisik di telingaku sambil mencium pipiku.&lt;br /&gt;" Iya nak,... hati-hati ", lantas kupeluk Sarah agak erat. Sarah pun membalas pelukanku dan sambil mengusap kerudungnya aku seraya berbisik bahwa aku ikhlas menyetujuinya. Kulihat mata Sarah berkaca-kaca....&lt;br /&gt;" Woow... Sarah pamit ke ummi aja sampai kaya gitu, kaya di film-film telenovela aja ", goda Zakly.&lt;br /&gt;" Udah ah,... kamu khan nggak tahu ", balas Sarah.&lt;br /&gt;" Lho memangnya ada apa sih mi... ? ", tanya Fadhil.&lt;br /&gt;" Udah,... sekarang berangkat saja kalian, udah siang lho nanti malam saja kita bahas... ", kata suamiku.&lt;br /&gt;" Lho... emang ada apa... ?? ", tanya Zakly lagi.&lt;br /&gt;" Udah.... berangkat sana.... ingat Zakly kalau naik motor jangan ngebut....terus kalian kalau jajan jangan sembarangan, sekarang lagi musim macam-macam penyakit ", kataku mulai lagi dengan segala pesan-pesan.&lt;br /&gt;" Yah,.... ummi balik lagi dah... padahal kemarin udah anteng, udah diem ya mas Yazid ? ", kata Zakly.&lt;br /&gt;" Iya nih ummi... habis abi sudah pulang sih...", timpal Yazid.&lt;br /&gt;" Iya,... balik lagi deh berisiknya ", tambah Zakly.&lt;br /&gt;" Zakly,... kog ngomong gitu sama umminya.. ", kataku.&lt;br /&gt;" Afwan mi,.. becanda mi.... ", kata Zakly sambil memeluk bahuku.&lt;br /&gt;" Hhmmm... udah ah,..pada terlambat lho nanti... ".&lt;br /&gt;" Assalamu'alaikum....", kata mereka berbarengan.&lt;br /&gt;" Wa'alaikumussalam...".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku antar mereka sampai depan rumah. Sambil menikmati hangatnya sinar mentari pagi di teras depan, aku termenung,....alhamdulillah aku bahagia ya Allah atas segala nikmat-Mu. Lindungilah mereka Ya Allah, tuntunlah selalu langkah-langkah mereka, penuhilah hati dan cinta mereka hanya dengan iman dan takwa kepada-Mu semata....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabbanaa hablanaa min azwajinaa wadzurriyaatinaa qurrota&lt;br /&gt;'ayun waj'alnaa lil muttaqiina imaama...&lt;br /&gt;Amiin Ya Rabbal 'aalamiin....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24 DZULHIJJAH 1416 H&lt;br /&gt;--by US--&lt;br /&gt;( buat AS,... Jazakallahu khoiron katsiro&lt;br /&gt;untuk dry cleaning-nya tiap hari :-) )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32231529-115492255299530866?l=cerpenislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenislami.blogspot.com/feeds/115492255299530866/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32231529&amp;postID=115492255299530866' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115492255299530866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115492255299530866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenislami.blogspot.com/2006/08/cerpen-islami-seindah-mentari-pagi.html' title='[cerpen islami] Seindah Mentari Pagi'/><author><name>gdz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32231529.post-115487056068705183</id><published>2006-08-06T06:18:00.001-07:00</published><updated>2006-08-11T21:39:42.366-07:00</updated><title type='text'>[cerpen islami] Selamat Jalan “The Champion”</title><content type='html'>Wajah tirus Hani dengan kepala tak berambut sedikit bergerak. Mata cekung, dulu jenaka yang menyimpan banya keceriaan dan keoptimistisan, kini ia memandangku dan mengerjap dengan layu . Seakan-akan ada yang ingin diungkapkannya. Kuhampiri tubuh yang lemah itu, dan kugenggam tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa, Han..?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara tilawah Al Quran Mama terhenti ketika menyadari ada sesuatu yang diminta Hani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa, sayang..? Ada yang sakit?." Tanya mama dengan suara parau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sekian hari, Mama memang banyak menangis untuk Hani. Di tiap-tiap malamnnya, Mama mengucurkan air mata, memohon kepada Allah, untuk mau mendengar "bargaining" di dalam doa-doa Mama. Agar Allah mau mengulur waktu untuk Hani sampai beberapa waktu saja. Mulut Hani bergerak-gerak, kudekatkan telingaku pada wajahnya, agar dapat menangkap apa yang diungkapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Asy..ha..du alla..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku menyadari "waktu itu" sudah dekat. Ku menoleh pada Mama, ia seperti mengerti. Lalu Mama bergegas menuju pintu, memanggil Papa, dan Aria, adik iparku. Dua orang laki-laki, yang akan kehilangan orang yang dicintai itu, segera masuk dan menanti apa yang terjadi kemudian. Kupakaikan kerudung putih pada kepala tanpa rambut yang melemah itu. Kulakukan ini karena pesan terakhir Hani, jika "saatnya" tiba ia tidak mau dalam keadaan "telanjang" menghadap Allah. Papa tampak ikhlash, begitu juga Aria. Lalu Aria menyerahkan Umar, keponakanku yang belum genap satu tahun usianya, kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tolong, Mbak..Biar saya yang menjaga dik Hani."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar tetap tertidur pulas, walaupun posisi gendongan berpindah, dia tidak terbangun sedikit pun. Bocah kecil sebelas bulan ini tak menyadari, bahwa sebentar lagi, ibunya akan segera meninggalkannya. Dokter Ruslan bergegas masuk untuk melakukan tugasnya sebagai dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biarlah, dokter..Insya Allah Kami sudah ikhlash..". Suara tegar Papa berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter Ruslan mengangguk seraya berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mudah-mudahan anak bapak diberi kemudahan oleh Allah.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan, Aria membantu Hani membacakan syahadah di telinga Hani. Kemudian mulut Hani bergerak-gerak dengan mudah. Dan genggaman tangannya tampak mulai melemah. Ada butiran air mata yang bergulir dari matanya yang terpejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sakitkah adikku, sayang?", batinku dengan penglihatan kabur karena terhalang airmata. Aku menatap wajah Hani yang sedang bertarung melepas nyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafas Hani satu-satu, jaraknya makin lama makin panjang. Papa dan Mama membaca syahadah berkali-kali. Dan akhirnya nafas Hani pun terhenti...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanifah, adikku, Hani begitulah dia dipanggil. Umurnya berbeda 4 tahun dariku. Tapi Hani, perawakannya yang tinggi, lagaknya yang tomboy serta rambutnya yang berpotongan pendek, membuat orang-orang sering salah terka. Mereka mengira Hani, cowok, jika melihatnya sepintas dari belakang. Aku teringat, teman-teman cowok sekampus meledekku ketika aku mengajak Hani hadir ke Baksos Mesjid kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka, yang relatif tahu aku adalah " Si jilbab galak", meledekku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah kemajuan nih, Adelina...Ternyata berani juga mengajak cowoknya ke kampus.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu aku geli, tapi tidak demikian dengan Hani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa yang berani ganggu Mbak Adelina?". Tanya Hani berbalik sewot menghadapi teman-teman cowokku yang iseng tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika mereka terpana, menyaksikan bahwa "cowok" Adelina adalah cewek manis yang tak kalah galak dari kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Hanifah. Siapa pun 5 tahun lalu, tak akan mengira dia akan memakai jilbab. Hani menikah di usia muda, bahkan mempunyai anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami 3 bersaudara, Mas Ardi, aku, dan si bontot Hanifah. Karena pendidikan orang tuaku yang demokratis dan bijaksana, kami bersaudara sangat rukun dan saling sayang satu sama lain. Dan lebih dari itu, kami saling mempengaruhi satu sama lain. Ketika Mas Ardi harus kuliah di Bandung, aku dan Hani menangis, karena kehilangan "bodyguard" yang selalu mengantar kami kemana-mana. Hani memaksaku, agar tak ikut-ikutan pilih universitas yang harus meninggalkan rumah seperti Mas Ardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pulang, Mas Ardi selalu membawa banyak perubahan. Tahun pertama ketika aku SMA, Mas Ardi masih suka merokok di sela-sela menggambar tugas arsiteknya. Namun setelah itu, Mas Ardi lambat laun menghilangkan kebiasaan merokonya. Setiap pulang semesteran Mas Ardi banyak membawa majalah-majalah dan buku-buku Islam. Mas Ardi mulai mengajak kami, adik-adiknya, shalat berjamaah dan membaca Al Quran bersama di rumah. Alhamdulillah, pada saat itu aku berhasil masuk FE UI, sehingga tak perlu meninggalkan rumah seperti Mas Ardi. Setelah menjadi mahasiswi juga mungkin imbas yang kuat dari Mas Ardi, aku mulai mengenal Islam. Aku mulai mencari-cari untuk apa sebenarnya aku hidup. Dan, Alhamdulillah, aku menemukannya dalam aktivitas keislaman yang aku ikuti di kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang aku heran, imbas tersebut tak mengenai Hani sama sekali. Hani tetap saja tomboy, dan malas jika aku ajak pergi ke pengajian. Walaupun demikian, Hani adalah adik kebanggaanku. Di antara lagaknya yang tomboy dan sikapnya yang manja di rumah Hani adalah juara kelas di sekolahnya, dan kapten di grup basketnya. Sifatnya yang tak ingin kalah dari orang lain, dan serius ketika menekuni sesuatu, membuat dia bisa menjadi sukses dalam bidang yang disenanginya, seperti pelajaran atau basket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat, ketika untuk pertama kalinya dia harus mendapat rangking ketiga di kelasnya. Hani menangis di kamar seharian. Tapi, yang ini juga sifat Hani yang membanggakan, Hani cepat bangkit dari keterpurukan. Dengan menyetel kaset grup Queen idolanya, yang berisikan lagu we are the champion, Hani membangunkan semangatnya sendiri, dan dia bisa ceria lagi keesokan harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada suatu hari, Hani menemukan hidayah itu... Di balik kegagahan dan ketomboyannya, aku tahu ada sebongkah hati yang tulus dan lembut. Dan itu terbukti ketika aku mengikutsertakan Hani ke kegiatan baksos di kampus untuk ketiga kalinya. Kala itu dia kelas 3 SMA. Hani masih tetap dengan rambut cepak, kaus t-shirt putih, dan celana jeans hitam kebangsaannya. Di baksos itu kami memang mengumpulkan baju-baju bekas untuk kaum tak punya. Hani memang punya banyak baju yang sudah tak dipakainya. Tapi sayang, baju-bajunya selalu dikelompokkan untuk bocah laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jilbab dan baju muslimah ku sisihkan khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk siapa, Mbak..?" . Tanya Hani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini untuk Mbok Siyem, yang jualan rokok di depan mesjid. Katanya anaknya yang SMP juga pakai jilbab.". Terangku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oooo.."Hani membundarkan mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baksos belum mulai ketika aku dan Hani tiba di depan mesjid kampus. Karena masih ada waktu aku bergegas menemui Mbok Siyem yang selalu mangkal di dekat masjid. Tapi aku terkejut ketika aku tak menemui Mbok Siyem seperti biasa. Hanya Ijah, anaknya, yang menunggui warung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lo, Mbok Siyem kemana..?"Tanyaku pada Ijah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ijah, bocah kecil kelas dua SMP itu, menjawab,"Mbok sedang sakit. Dari kemarin muntah-muntah." Ijah tak tampak sedih, malah tampak biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini Mbak bawakan baju buat Ijah, kemarin-kemarin si Mbok wanti-wanti meminta untuk membawakannya untukmu." Wajah Ijah yang tadi tampak biasa-biasa saja, kini tampak haru. Ijah menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbok bilang, kalau Ijah sabar dan ikhlash dengan dua baju, pasti Allah akan memberikan lebih. Dan ternyata benar..." Katanya terisak, mengusap ingus yang keluar dengan jilbab coklatnya, yang ku ingat adalah pemberianku setahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah baksos selesai, kami menjenguk Mbok Siyem, yang bukan kepalang terkejut dengan kedatangan kami. Waktu itu Mbok Siyem kelihatan sehat, tak seperti orang sakit. Walau beberapa hari setelah itu Mbok Siyem meninggal dunia..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu rupanya terpatri dalam di kalbu Hani. Sejak hari itu, Hani segera memakai kerudung. Tak ada yang menyuruh,tak ada yang meminta. Sehingga Mama melongo, melihat bontotnya menjadi feminin seketika. Lalu siapa yang sangka Hani menjadi akhwat seperti sekarang? Dulu dia memang senang basket, sampai poster Michael Jordan memenuhi tembok kamarnya. Dulu dia memang senang Queen, sampai tak ada lagu-lagunya yang tak dihapalnya. Tapi beberapa bulan setelah mengaji, Hani melepas semua poster-poster tersebut, dan mendepak kaset-kaset lagu hingar bingar itu. Walau aku tahu, Hani menangis semalaman untuk berpisah dengan segala hobi dan kesenangannya. Tapi itulah Hani, esok selalu disambutnya dengan penuh semangat menantang dan keoptimisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perkembangannya yang luar biasa setelah aktif mengaji, sering membuat aku dan Mas Ardi terharu. Sampai puncaknya pernikahan Hani 4 tahun lalu...Papa marah, Mama kesal, karena Hani dianggap mendahului aku dan Mas Ardi. Apalagi Hani masih 19 tahun dan masih tingkat dua...! Namun Alhamdulillah berkat diplomasiku dan Mas Ardi, bahwa kami rela didahului, akhirnya Hani melangsungkan pernikahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hani, kehidupannya menggapai hidayah seperti berlari. Bahkan ketika Allah menentukan dia harus menderita leukimia di usia 21 tahun. Kegalauan keluarga kami untuk memberitahukan Hani atau tidak, bahwa sakit-sakit tulang yang sering Hani keluhkan bukanlah sakit biasa. Kesedihan kami yang luar biasa, karena mengetahui Hani tak akan lama bersama kami lagi, mengingat dokter sendiri berkata belum ada penyembuhan yang jitu untuk penyakit kanker yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga akhirnya keluarga kami bertekad untuk mengungkapkan secara jujur penyakit Hani. Ini pun karena ada sebab yang luar biasa. Hani ternyata hamil 4 bulan waktu itu. Aria datang memberitakan kabar gembira yang timingnya buruk itu kepada keluarga kami. Kami tak tahu, apakah harus menyambut kabar ini dengan senang atau bersedih. Karena melahirkan anak adalah hal yang tak mungkin bagi Hani, karena akan memperlemah kondisi Hani. Namun, saat itu tak ada yang bisa menyetop Hani. Bahkan ketika kami memberitahukan bahwa hamil dan melahirkan kemungkinan besar akan mempertaruhkan nyawanya. Hani bersikeras untuk hamil dan melahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mama juga waktu hamil kami bertiga tak pernah memikirkan keselamatan nyawa Mama sendiri bukan..? Ayolah, Ma.. Jangan larang Hani, tapi bantu Hani dengan doa, agar Hani diberi kekuatan dan kesehatan oleh Allah. Dan jika harus meninggal pun, Hani meninggal dalam keadaan syuhada bukan..? Tapi Ma, Pa, Hani ingin hidup, paling tidak sampai anak ini lahir.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah memang Maha Besar dan Maha Pengasih. Semangat dan keoptimisan Hani memberi bekas yang dalam kepada orang di sekelilingnya. Sejak kehamilan Hani, Mama dan Papa menjadi lebih banyak beribadah. Mama memakai jilbab, banyak membaca Al Quran. Begitu pula Papa, setiap Senin dan Kamis tak ada yang terlewat dengan shaum, juga tahajud. Bahkan aku pun menikah ketika Hani sedang rawat intensif di rumah sakit. Hani selalu berkata, ingin melihatku&lt;br /&gt;menjadi mempelai sebelum dia menutup mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah menjawab semua doa-doa dan harapan kami. Hani dapat melahirkan Umar dengan selamat, layaknya orang normal. Walau untuk itu Hani menghabiskan hampir seluruh waktunya di rumah sakit, dan kami selalu dibuat cemas akan keselamatan Hani sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dua tahun Hani berperang melawan leukimia. Tapi tak pernah terungkap dalam ucapannya, bahwa dia menyesali nasibnya karena harus menderita penyakit ini. Bahkan dia kerap berujar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah sayang kepada Hani, ya, Mbak...Sehingga Allah memberi batas waktu&lt;br /&gt;yang jelas untuk Hani beraktifitas di dunia ini. Agar tak sia-sia..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Hani sayang....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekuburan sudah sepi, gundukan tanah merah di depanku mulai dibasahi oleh gerimis kecil yang turun satu-persatu. Kulihat isyarat lambaian tangan Mas Ardi yang berada di rombongan Mama, Papa, serta keluarga Aria mengajakku untuk pulang. Bang Irsyad, suamiku memberikan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Insya Allah Hani syahidah, De...Karena Hani begitu pasrah dan tawakal kepada Allah dengan penyakitnya."Hiburnya. Aku mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tanganku ada setumpuk amplop yang ditujukan pada Umar. Surat dari Ibunya. Aku teringat percakapan kami 5 bulanan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini sebagai hadiah buat Umar setiap umurnya bertambah satu tahun, Mbak... Aku persiapkan 15 surat, untuk Umar. Agar Umar selalu mendapat nasehat dariku walaupun aku sudah tak bisa menyaksikan Umar tumbuh sampai dia baligh dan mengerti. Aku titipkan pada Mbak Ade, ya..?". Hani menyerahkan tumpukan amplop itu padaku.&lt;br /&gt;"Kenapa tak kau titipkan pada Aria, bukankah dia yang lebih berhak...?" Hani&lt;br /&gt;tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Aria harus mencari pengganti Hani untuk mendidik Umar, bukan..? Tentu tidak bijak kalau Mas Aria mengingat Hani terus, dan melupakan hal yang satu itu". Katanya diluar dugaan. Lalu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak..., aku ingin Umar mempunyai sifat gabungan dari kita bertiga. Perhatian seperti Mas Ardi, tegas dan lembut seperti Mbak Ade, enerjik dan jenaka seperti ibunya..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Laa..Aria bagaimana, dong..?"tanyaku menahan geli...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya ditambah ganteng dan shaleh seperti bapaknya.."tawanya jenaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku kembali basah. Di detik-detik terakhir kehidupannya, Hani tak pernah menampakkan keputus asaan. Dia tetap optimis, bahwa Allah memberikannya penyakit sebagai ujian, maka dia harus lulus, dan bertawakal untuk jadi pemenangnya. Ya...Juara itu telah pergi, Syuhadah itu telah pergi, pergi tanpa beban dan tanpa keputus asaan. Pergi meninggalkan sebongkah kesan dan bekas cinta yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan the champion...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32231529-115487056068705183?l=cerpenislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenislami.blogspot.com/feeds/115487056068705183/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32231529&amp;postID=115487056068705183' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115487056068705183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115487056068705183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenislami.blogspot.com/2006/08/cerpen-islami-selamat-jalan-champion.html' title='[cerpen islami] Selamat Jalan “The Champion”'/><author><name>gdz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32231529.post-115487046885940192</id><published>2006-08-06T06:18:00.000-07:00</published><updated>2006-08-11T21:38:58.396-07:00</updated><title type='text'>[cerpen islami] Serenade Malam</title><content type='html'>&lt;p&gt;“Ambilkan bulan, Bu....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melantunkan lagu tersebut berkali-kali di telingaku. Kadang sampai aku merasa bosan mendengarnya, tapi ia tidak pernah lelah menghiburku. Kakakku tersayang satu-satunya, ia tidak pernah bosan menina-bobokanku dengan lagu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak, kita tidur di sini sekarang?” tanyaku. Ia tersenyum dan mengangguk. Rambut pendeknya terayun-ayun dan matanya bersinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita tidur di sini supaya bisa melihat bulan. Adek senang kan melihat bulan...?” tanyanya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He-eh.” Jawabku pendek. Aku sangat mengantuk. Karenanya, aku segera merebahkan diriku di atas terpal plastik yang ia dapat dari sisa-sisa bangunan yang baru dipugar siang tadi. Aku menatap langit yang terbentang luas. Pendar-pendar perak cahaya bintang kadang tampak mengabur di mataku yang tersapu angin. Suara jangkrik dari balik rumput liar begitu dekat terdengar di telingku. Sesaat kemudian, angin kali berhembus. Aku menggigil kedinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dek, Adek kedinginan, ya...?” tanyanya sambil mengusap keningku. Aku mengangguk pelan. Aku ingin mengatakan padanya tidak apa-apa, tapi bibirku terasa kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pakai sarung saja, ya Dek....” Ia mengambil tas kecil yang selalu tergantung di bahunya, kemudian mengeluarkan sarung kotak-kotak berwarna merah pudar. Tidak lama kemudian, seluruh tubuh kecilku sudah terbungkus oleh sarung tersebut, sarung satu-satunya peninggalan emak sebelum meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak....” Aku mendesis. “Emak sekarang di mana ya?” Tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terdiam mendengar pertanyaanku, mungkin bingung menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emak sekarang ada di sana.” Jawabnya kemudian sambil menengadah menatap langit malam. “Adek lihat bintang-bintang itu...? Nah, bersama merekalah sekarang emak berada.” Lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ganti terdiam. Bayangan emak satu persatu berkelebat di benakku. Tiga bulan. Ya, tepat tiga bulan yang lalu emak meninggalkan kami berdua. Biasanya emak tidak pernah pergi lama-lama, paling hanya untuk berjualan di pasar. Tapi kali itu tidak. Kakakku bilang, walaupun emak tidur, tapi ia tidak akan pernah bangun lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu semuanya berubah tiba-tiba. Para tetangga tiba-tiba saja datang dengan wajah sangar sambil berkata hal-hal yang tidak ku mengerti. Satu-satu mereka mengambil segala barang yang ada di dalam gubuk kami. Radio, kompor, panci, ember, bahkan hingga baju-baju tua ibu. Saat itu kakakku hanya menangis tersedu-sedu di sudut rumah sambil memelukku yang baru pulang bermain layang-layang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dek, kita harus pergi dari sini.” Begitu katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huaaaahhhmmm....” Aku menguap lebar-lebar. Rasanya mataku berat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak, tidur yuk, sudah malam.” Ajakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia hanya tersenyum dan beringsut-ingsut mencoba merebahkan tubuhnya, tapi tiba-tiba...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduuuuh.” Ia mengaduh kecil saat punggungnya menyentuh tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak, masih sakit punggungnya?” Tanyaku kaget. Terduduk aku memperhatikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enggak...” Ia menggeleng, “Enggak apa-apa kok. Sudah kita tidur saja, yuk.” Jawabnya menghibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut mataku, aku lihat matanya terpejam sambil meringis. Pasti sakit sekali pukulan orang itu siang tadi, pikirku. Aku mengeluh dalam hati. Ingatanku mengembara lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang tadi, ketika mencari barang-barang bekas, tanpa sengaja kami melewati rumah makan besar. Dari balik kaca, terlihat orang-orang yang sedang makan. Satu demi satu potongan ayam goreng masuk ke dalam mulut mereka, dan mereka tampak sangat menikmatinya. Namun, tidak tahu mengapa penjaga rumah makan itu tiba-tiba keluar dan marah-marah pada kami. Ia bahkan mendorongku keras-keras sampai aku terjerembab. Kakaku sangat marah melihat aku terjatuh. Ia menyerang orang itu dan menggigit lengannya keras-keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaaaaaah...anak gila!!” Teriaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku melihat tangan orang tersebut melayang ke punggung kakak yang segera tersungkur. Sesaat kami jadi tontonan orang yang lewat, hingga seorang laki-laki yang berpakaian rapi keluar dari rumah makan dan mengusir kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang itu jahat, ya Kak.” Kataku sedih. “Kalau aku sudah besar, ia akan aku pukul, supaya punggungnya juga merasa sakit!” Ujarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adek...adek.” Ia menggumam. Matanya menatapku ramah. Entah mengapa aku selalu merasa bahwa dibalik matanya tersembunyi bintang-bintang yang selalu bersinar terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau Adek sudah besar, Adek harus jadi seperti matahari. Tidak pernah bosan memberi kebaikan pada siapa pun, bahkan kepada orang-orang yang jahat. Yang cahayanya membuat bulan menyinari malam. Adek pun harus dapat menerangi kegelapan. Adek harus jadi anak yang baik, sabar, dan kuat.” Katanya pelan sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak pernah mengira bahwa itu adalah saat terakhir ia berbicara panjang lebar kepadaku karena beberapa jam kemudian dalam lelapku, antara sadar dan tidak, aku mendengar tangis pelannya menahan sakit. Tangis yang perlahan-lahan lalu menghilang berganti dengan diam yang tenang. Baru ketika azan subuh terdengar aku terbangun dan mendapatinya tertidur dengan wajah yang pucat. Betapa takutnya aku ketika kulihat di sudut bibirnya terdapat jejak berwarna merah. Serentak aku berdiri dan mengguncang-guncang tubuhnya, tapi ia tidak bergerak sedikit pun. Sama seperti emak waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak, Kakak...!” Aku menatap wajahnya , mungkin mata bintangnya akan bersinar lagi. Tapi Tidak. Mata itu tetap terkatup erat. Aku menggigil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mundur ketika terdengar suara-suara ribut di depanku. Titik fajar sudah nampak. Sebentar lagi kali ini akan ramai dengan orang. Satu-dua bahkan telah datang dan menatap ke arahku yang beridiri bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, siapa itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkesiap. Langkahku menyurut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, tunggu...!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berbalik dan berlari. Oh, entah kenapa. Aku merasa sangat takut. Mereka mungkin akan menangkap dan memukulku seperti yang mereka lakukan pada kakaku. Aku takut....!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heeeii....!” Terdengar langkah-langkah berat di belakangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berlari tanpa arah menyusuri lorong-lorong kampung. Meninggalkan orang-orang yang semakin ramai berdatangan ke kali. Cepat, dan semakin cepat aku berusaha berlari agar mereka tidak sampai menangkapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit mulai bersemburat jingga. Satu buah bintang besar bersinar. Oh, Ibu aku harus ke mana? Tanpa sadar aku melintasi jalan raya. Suasana subuh. Dan dari balik tikungan aku melihat sinar. Sinar terang. Seperti mata kakakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kakak....!” Aku tertegun sesaat. Lalu tiba-tiba saja aku merasakan tubuhku melayang dan terhempas keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayup-sayup kudengar seseorang berkata, “Gila lu, nabrak orang!” Lalu kosong. Tidak terdengar apapun. Badanku terasa sangat sakit dan sulit digerakkan. Aku hanya terbaring diam. Sesaat kemudian sayup-sayup kudengar nyanyian jangkrik dari balik rumput liar yang kian pelan. Samar di langit kulihat dua buah bintang, salah satunya bersinar terang. Aku yakin mereka pastilah emak dan kakaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memejamkan mataku. Aku menangis kesepian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat adik-adikku&lt;br /&gt;“generasi Indonesia yang tercabik-cabik di pinggir jalan”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;===============&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Vani Diana Puspasari&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32231529-115487046885940192?l=cerpenislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenislami.blogspot.com/feeds/115487046885940192/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32231529&amp;postID=115487046885940192' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115487046885940192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115487046885940192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenislami.blogspot.com/2006/08/cerpen-islami-serenade-malam.html' title='[cerpen islami] Serenade Malam'/><author><name>gdz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32231529.post-115479354212954809</id><published>2006-08-05T07:50:00.001-07:00</published><updated>2006-08-11T21:41:13.260-07:00</updated><title type='text'>[cerpen islami] Syukur ...</title><content type='html'>"Assalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuuh...", terdengar ucapan salam suamiku dari beranda depan.&lt;br /&gt;"Wa alaikum salam warohmatullahi wabarokatuuh", ku jawab salamnya dengan penuh lega.&lt;br /&gt;Segera kusambut suamiku dengan senyum manis sembari membantu membawakan tas birunya yang lumayan berat. Sedari dua jam yang lalu, sudah kutunggu-tunggu kepulangannya. Padahal ini sudah seperti kebiasaan suamiku yang selalu pulang terlambat.&lt;br /&gt;"Sudah makan Mas?", sergahku sambil tergopoh-gopoh membawakan tas birunya.&lt;br /&gt;"Belum..", jawabnya singkat, terlihat kesan lelah di wajahnya yang putih bersinar. Rasanya tidak bosan-bosannya kupandang wajah suamiku yang telah menikahiku lima tahun yang lalu.&lt;br /&gt;"Lah kok bisa belum makan?, tidak beli makanan di jalan?", tanyaku penuh khawatir.&lt;br /&gt;"Lebih enak masakan istri tersayang dong", begitu jawabnya seraya mencubit hidungku yang tidak terlalu mancung.&lt;br /&gt;"Aduhh Masku satu ini, masak ngga makan seharian?, kutimpali sambil menahan nafas karena pencetan di hidungku.&lt;br /&gt;"Makan roti sedikit beli di warung, tapi belum makan berat, jadinya sekarang lapar sekali".&lt;br /&gt;"Ganti baju dulu dan kita langsung makan yuk Mas", pintaku.&lt;br /&gt;Makanan di meja makan sudah siap sedari tadi untuk disantap. Tidak ada banyak macam makanan dan tidak mahal pula, hanya bakwan jagung dan sayur botok kesukaan suamiku. Sengaja kusiapkan makanan kesukaanya, rasanya sudah lama tidak memasak makanan seperti itu.&lt;br /&gt;"Sejak jam berapa anak-anak tidur?", tanyanya sambil membetulkan sarungnya didepan kamar tidur.&lt;br /&gt;"Fathimah jam sembilan, sedang yusuf dari jam delapan". Mas Arman memang tidak pernah lupa menanyakan jadwal tidur buah hati kami.&lt;br /&gt;"Mmm", gumamnya sambil menuju ke kamar anak-anak untuk melihat buah hati kami yang tertidur lelap. Yusuf puteraku yan kedua baru berumur 20 bulan, mirip sekali wajahnya dengan suamiku. Sedang Fathimah puteri pertamaku sudah berumur 4.5 tahun, hanya hidungnya saja yang mirip denganku, sama tidak mancungnya, dan selebihnya mirip suamiku semuanya. "Ngga salah dong ia selalu menanyakan prototipenya.. he.he..", tawaku didalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemana saja tadi Mas?", pertanyaan yang tak pernah bosan dan sering kutanyakan kepada suamiku setiap hari. "Biasalah", begitu jawabannya yang tak kalah seringnya. Memang suamiku tergolong orang yang tertutup. Sebenarnya aku tahu jadwal kerja di universitasnya yang hanya sampai jam lima sore. Suamiku adalah dosen teknik kimia di universitas swasta dan sudah menginjak tiga tahun, semenjak berhasil memperoleh gelar masternya di negeri jepang. Tapi bisa dikatakan aku hanya sedikit mengetahui kegiatan lain mas Arman selain menjadi dosen di universitas swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dik, ayo kita tidur", ajak mas Arman. "Ehh.. Iya mas, jawabku gelagapan. Segera kubereskan meja makan dan membawa piring kotor ke dapur. Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam dua belas malam, padahal rasanya kami baru saja bersantap malam dan sedikit berbincang-bincang. Ternyata waktu tidak mau diajak kompromi untuk sedikit memperlambat lajunya. Memang mas Arman sudah telat pulangnya, oleh karena itu waktunya semakin terasa sempit untuk berduaan ngobrol bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh iya Dik, besok Insya Allah Mas akan keluar kota sampai hari Minggu", kata mas Arman sambil berusaha menarik selimutnya.&lt;br /&gt;"Yaaa.... tapi besok Sabtu kan kita mau jalan-jalan....", ku berusaha mengingatkan mas Arman.&lt;br /&gt;"Maaf Dik.. urusan ini lebih penting dan mendadak pemberitahuannya, Mas ngga bisa menolak". "Insya Allah diganti minggu depan yah", suamiku berusaha menghiburku. Tapi aku tahu, minggu depan waktu mas Arman belum tentu kosong .&lt;br /&gt;"Urusan apa Mas?", tanyaku.&lt;br /&gt;"Biasalah..", jawaban mas Arman seperti biasa.&lt;br /&gt;Dan aku pun tak bisa menanyakan lebih jauh, bila sudah keluar kata "Biasa"nya mas Arman. Akhirnya pikiranku pun menerawang jauh dan bertanya-tanya. Kapan Mas Arman punya waktu luang untuk anak dan istrinya. Aku berusaha berkelit bahwa anak-anak membutuhkan waktu dari mas Arman. Tetapi sebenarnya diriku juga membutuhkan waktu darinya. Sudah lima tahun pernikahan kami. Tetapi rasanya aku tidak merasakan cukup banyak waktu bersamanya. "Ya Allah sabarkan lah hambaMu ini yang penuh dengan hawa nafsu ini, dan bersihkanlah hati ini dari kecintaan dunia... Waktu kebersamaan kami, ku ikhlaskan kepadaMu, dengan hanya mengharapkan RidhoMu... Amin Ya Rabbal Alamin", kututup mataku sambil berdoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bu.., Ayah mana?..", tanya Fathimah putri sulungku sembari masuk ke kamar tidurku..&lt;br /&gt;"Ooo.. Ayah ada urusan penting hari ini sehingga harus pergi sampai hari minggu. Tadi pagi sebelum Fathimah bangun, Ayah sudah harus pergi. Ini ada titipan kecupan dari Ayah!, cuuppp!!??"&lt;br /&gt;"Yaaa.... kok Fathimah tidak dibangunkan Bu???, kan Fathimah pingin ketemu Ayah.. Hari ini berarti kita tidak jadi pergi dongg Bu?", Fathimah terus merengek.&lt;br /&gt;"Iya.. maaf yah Fathimah... Anak sholeh harus sabar.. Insya Allah nanti akan diganti di lain waktu ya....", jawabku untuk menenangkannya.&lt;br /&gt;"Ayo Fathimah mandi dulu yah..., biar badan Fathimah jadi bersih dan wangi. Kebersihan adalah sebagian dari apa Fathimah?", tanyaku untuk mengingatkannya.&lt;br /&gt;"Iman.....", jawab Fathimah hampir berteriak.&lt;br /&gt;"Alhamdulillah.. benar sekali jawabanmu..... Fathimah memang anak pintar!!!", ku puji jawabannya. Lalu ku siapkan keperluan mandinya dan mengantarnya ke kamar mandi. Dan dalam waktu singkat, anakku sudah keluar dari kamar mandi.&lt;br /&gt;"Sudah selesai mandinya Fathimah?" Ayukkk sini pakai bajunya, malu kan terlihat auratnya", segera kuhantar ke kamar tidurnya dan membantu mengeringkan badannya.&lt;br /&gt;"Alhamdulillah cantiknya anak Ayah dan Ibu... wangi lagi", kucium keningnya dan Fathimah pun tak sabar keluar main di halaman rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuuut... Tuuut... Tuuut... terdengar bunyi telepon di ruang tengah.&lt;br /&gt;"Assalamu alaikum, di sini rumah keluarga Arman Suhandi".&lt;br /&gt;"Wa alaikum salam, apakah Bapak Arman berada dirumah?", terdengar suara wanita dari kejauhan.&lt;br /&gt;"Bapak sedang tidak ada di rumah, ini dari siapa yah?", tanya ku.&lt;br /&gt;"Ini dari anak didiknya di kampus, ini dengan Ibu Arman?", tanyanya.&lt;br /&gt;"Iya benar, ada pesan ?"&lt;br /&gt;"Oh tidak ada Bu, biar nanti saya hubungi kembali, terima kasih Bu, wa salamu alaikum", teleponnya pun di tutup tanpa sempat ku menjawab salamnya.&lt;br /&gt;Apa keperluan siswinya mas Arman?.. Hari libur begini ada urusan apa?.. Mengapa tergesa-gesa pula?..Apakah ada hubungannya dengan urusan penting mas Arman hari ini?... Hhmm..... aku menarik nafas sambil berusaha mengusir pikiran ku yang tidak-tidak. Aku baru teringat bahwa aku lupa menanyakan namanya. Seandainya ku tahu namanya, mungkin nanti aku bisa tanyakan ke mas Arman untuk lebih jelasnya. Yah... nanti akan aku tanyakan kepada mas Arman, jarang-jarang ada wanita yang menelepon ke rumah menanyakan suamiku, kecuali Ibu mertua ku atau kakak ipar perempuanku. Ahh... Mirna kamu jangan pikir yang bukan-bukan., kuberusaha mengalihkan pikiranku dengan bersiap-siap untuk memasak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Duhhh panasnya hari ini", gumamku sambil mengusap keringatku. Padahal kipas angin sudah kunyalakan sedari tadi. Ternyata kurang cukup mengurangi keterikan matahari siang hari ini. Kusiapkan mesin jahit yang tersimpan di lemari. Hari ini aku akan menjahit baju Yusuf, baru saja selesai kubuat pola bajunya. Menjahit sangat membantuku mengisi waktu luang bila semua pekerjaan telah beres dan anak-anak sudah tertidur. Biasanya sambil menjahit kusambi dengan merenungi harapan ku terhadap pernikahanku yang telah berjalan lima tahun. Bisa dikatakan sudah tidak seharum lima tahu yang lalu. Dan waktu-waktu mas Arman tidak selonggar seperti di tahun-tahun pertama pernikahan kami. Apa yang paling kutakutkan adalah bila pernikahanku menjadi hambar. Dalam menghadapi rutinitas yang hampir-hampir saja mematikan komunikasi diantara kami, tentu dapat menimbulkan kebosanan. Dan ini yang paling menakutkan ku. Aku terus berusaha memperbaiki pelayanan terhadap suamiku. Ku cari variasi-variasi yang menyegarkan. Entah itu menu masakan ku, tata letak rumahku, penampilanku, penampilan anak-anak. Tapi satu hal yang paling sulit kami lakukan adalah jalan bersama keluarga. Waktu luang mas Arman tidak mengijinkan. Kalaupun ada sedikit waktu luang, digunakan mas Arman untuk istirahat di rumah. Rutinitas yang terus monoton, suatu saat dapat menimbulkan kebosananku, rasanya ingin sekali kami dapat berkumpul bersama dalam suasana yang lain dan menyegarkan. Akibatnya terkadang terselip pikiran yang bukan-bukan. Telepon kemaren hari mengingatkan ku, ku berusaha menepis supaya jangan sampai meracuniku kembali. Mana mungkin mas Arman berbuat yang tidak-tidak di belakang ku. Tapi memang tidak dapat kupungkiri, ada sedikit keresahanku terhadap kejadian kemaren hari. Lumrah bila aku merasa gelisah. Fithrah ku sebagai wanita, tentu tidak begitu saja mudah melupakan suara wanita yang menanyakan keberadaan suamiku.Adzan di masjid berkumandang menyadarkan ku. Astaghfirullah... pikiran ku melantur kemana-mana, tidak terasa sudah masuk waktu sholat ashar dan sebentar lagi anak-anak segera bangun dari tidur siangnya, berarti aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dik, ayoo siapkan anak-anak, kita pergi ke puncak!", ucap suamiku setelah menyelesaikan bacaan Qur'annya&lt;br /&gt;"Benar Mas?", tanyaku tidak percaya.&lt;br /&gt;"Iya benar, Dik, mumpung masih jam enam, biar ngga kena macet, kita berangkat pagi-pagi!".&lt;br /&gt;"Memang Mas tidak ada acara hari ini?", tanyaku heran.&lt;br /&gt;"Ngga ada, Alhamdulillah.. agak longgar waktu Mas untuk pekan ini".&lt;br /&gt;Rasanya aku bersyukur atas nikmat yang sudah kudambakan akhir-akhir ini. Kami dapat rihlah bersama keluarga untuk menyegarkan rutinitas yang mulai membosankan. Dan tanpa bertanya lagi, segera aku pergi ke dapur untuk menyiapkan bekal untuk perjalanan nanti. Alhamdulillah..... terima kasih ya Allah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahhh enak sekali nasi timbel ini ya Bu", ucap suamiku di sela-sela kesibukannya melahap hidangan di restoran sekitar daerah cipanas. Memang dingin-dingin begini menambah kenikmatan nasi timbel yang kami makan hangat-hangat dengan sambal terasi, lalapan, ikan gurame goreng, ikan asin, sayur asam dan empal daging. Alhamdulillah nikmat sekali rasanya. Fathimah pun tak kalah lahapnya dan Yusuf dengan sigapnya membuka mulut setiap suapan yang aku berikan. Mungkin mereka kelaparan setelah seharian berlari-lari di taman cibodas bermain bola bersama mas Arman. Kami pun larut dalam acara makan bersama dengan tawa dan canda. Alhamdulillah ya Allah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas.... kok belok ke sini?", tanyaku keheranan.&lt;br /&gt;"Mas ada keperluan, sebentar aja kok", suamiku membelokkan mobil kami ke jalan sempit. Di kanan kiri masih ditumbuhi rerumputan dan pohon-pohon pisang liar. Sekitar lima belas menit kemudian, terlihat sebuah perumahan sederhana dengan penduduk yang sederhana pula. Dan mas Arman menurunkan kaca mobilnya.&lt;br /&gt;"Assalamu alaikum", ucapnya terhadap sekumpulan anak muda yang sedang berkumpul di depan sebuah bangunan yang terlihat belum selesai pembangunannya.&lt;br /&gt;"Wa alaikum salam Pak Arman", jawab mereka serempak.&lt;br /&gt;"Wahhh ini keluarga Bapak?...", tanya salah seorang pemuda.&lt;br /&gt;"Iya.. saya sengaja membawanya ke sini, ini istri saya dan dua anak saya".&lt;br /&gt;"Assalamu alaikum", teriak Fathimah puteri kami.&lt;br /&gt;"Wa alaikum salam, duhh pintar sekali puteri Bapak?, seperti ayahnya".&lt;br /&gt;"Bagaimana dengan persiapan untuk acara syukuran dan peresmian besok?, sudah beres?.."&lt;br /&gt;"Alhamdulillah.... sudah selesai Pak Arman".&lt;br /&gt;"Semoga besok dapat segera diresmikan, supaya kalian dapat belajar dengan tenang".&lt;br /&gt;"Iya Pak.... semoga acaranya berjalan dengan lancar..".&lt;br /&gt;Aku menjadi bingung melihat hal ini. "Mas, tolong jelaskan, Ibu benar-benar bingung!??"&lt;br /&gt;Mas Arman tersenyum, "Ini loh Bu, proyek Ayah selama tiga tahun ini".&lt;br /&gt;"Pimpinan di universitas Ayah, mengamanahi untuk mendirikan sekolah di sekitar sini. Ayah yang bertanggung jawab atas pendirian sekolah untuk anak yang kurang mampu dan ternyata hampir semua anak yang putus sekolah tinggal di sekitar sini. Sayang jika mereka harus putus sekolah, karena dapat dikatakan pola pikir mereka masih bersih, maka alangkah baiknya jika ditambah dengan pola pikir yang islami. Nahhh, sekolah ini selain mengajarkan ilmu pengetahuan umum, juga menambahkan wawasan berpikir yang islami"&lt;br /&gt;"Assalamu alaikum Pak dan Ibu Arman", tiba-tiba pembicaraan kami terputus oleh suara wanita yang rasanya kukenal.&lt;br /&gt;"Wa alaikum salam", jawab kami berdua.&lt;br /&gt;"Bu, ini Ummu Hafidz, dia mantan siswi di universitas Ayah dan sekarang bersama keluarganya pindah kesini untuk membantu operasional sekolah ini".&lt;br /&gt;"Panggil saja Rima Bu, maaf karena saya pernah menelepon ke rumah Ibu dengan tergesa-gesa, kebetulan ada keperluan mendadak dengan Bapak, tapi Alhamdulillah ngga lama setelah saya telepon , Bapak telah sampai ke sini", ujarnya dengan rasa sungkan.&lt;br /&gt;"OO itu dik Rima, ngga apa-apa kok dik, hanya saja saya sedikit khawatir, takut terjadi apa-apa", jawabku lega.&lt;br /&gt;"Iya sudah, besok kita kemari lagi untuk menghadiri acara syukuran peresmian sekolah ini", suamiku mengajak ku pulang.&lt;br /&gt;"Yukk dik Rima, kapan-kapan main ke rumah yah", ucapku mengundangnya.&lt;br /&gt;"Insya Allah Bu, jika ada waktu, kami juga ingin silaturahmi sekeluarga ke rumah Ibu dan Bapak,"jawabnya.&lt;br /&gt;"Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuuh....", kami pun berpamitan dan kembali ke mobil untuk segera pulang.&lt;br /&gt;Tanpa terasa hari sudah kian sore, dan selama dalam perjalanan pulang, aku tak henti-hentinya bersyukur. Ternyata kesibukan mas Arman adalah untuk menolong sesamanya. Rasanya segala kejenuhanku sungguh tidak beralasan, waktu yang sempit sekali pun harus kusyukuri, karena Allah telah mengamanahi mas Arman untuk membantu sesamanya, walaupun akibatnya waktu untuk kami menjadi sedemikian sempit.&lt;br /&gt;Alhamdulillah sungguh rihlah kali ini sangat menyejukkan hati, semua pertanyaan yang menjadi pikiran ku terjawab sudah.&lt;br /&gt;Ya Allah, ampuni hambaMu ini..... Maafkan Mirna ya Mas... selama ini aku hanya mengeluh, tanpa mensyukuri apa yang ada, bahkan sempat berpikiran yang tidak-tidak.... Astaghfirullah....&lt;br /&gt;Dan senja pun kian memerah ketika kami memasuki tol jakarta. Rasanya aku siap masuki babak kehidupan yang baru dengan suasana hati yang baru dan segar. Semoga Allah memudahkan perjalanan hidup kami di dunia sehingga kami tetap dapat di kumpulkan bersama di kehidupan akhirat nanti... Amin...&lt;br /&gt;(UA)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32231529-115479354212954809?l=cerpenislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenislami.blogspot.com/feeds/115479354212954809/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32231529&amp;postID=115479354212954809' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115479354212954809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115479354212954809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenislami.blogspot.com/2006/08/cerpen-islami-syukur.html' title='[cerpen islami] Syukur ...'/><author><name>gdz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32231529.post-115479003398566920</id><published>2006-08-05T07:50:00.000-07:00</published><updated>2006-08-11T21:40:24.150-07:00</updated><title type='text'>[cerpen islami] Tiba Saatnya</title><content type='html'>&lt;p&gt;Bukan Tami namanya kalau tidak bisa menyelesaikan liputannya dalam waktu singkat. Sesaat setelah menyimpan tulisannya di hard disk notebooknya, ia mematikan komputer seraya menghirup teh manis hangatnya. Sekarang tinggal menyerahkannya ke Mas Iqbal, redaktur liputan politik, bereslah tugasnya. Di luruskannya punggungnya yang kaku. Kemudian mengambil jaketnya yang tersampir di kursi. Diliriknya jam yang melingkari pergelangan tangannya, ah baru jam 10 malam, kemarin dia pulang hampir tengah malam. Kemarinnya lagi juga begitu.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Tami menyapa beberapa temannya yang masih asyik di depan komputer. Pasti mereka dikejar deadline tulisan juga pikirnya. Beberapa orang terlihat lelap dikursi, sementara layar monitornya masih menyala. Kalau sudah malam begini memang hanya tinggal beberapa orang saja yang masih ada di kantor. Biasanya para reporter yang dikejar deadline atau mereka yang memang tugasnya menyelesaikan proses naik cetak surat kabar agar sampai di tangan pembaca besok pagi. Bekerja sebagai wartawan memang tidak mudah, jam kerja yang tidak menentu, narasumber yang sulit dihubungi, semua membuat mereka kadang harus rela begadang. Tami juga sering begitu. Setelah pamit untuk pulang, ditekannya magnetic-card seraya menguap. Ah, penat juga rasanya. Didalam lift menuju lantai dasar sesaat Tami memejamkan matanya, lelah.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pak Madi, satpam kantor menyapanya ramah di pintu keluar. Pulang Mbak? Hati-hati di jalan...". Tami tersenyum sambil melambai. Pak Madi memang satpam tertua di kantornya dan sudah lama juga ia mengabdi di kantor tempat Tami bekerja. Bahkan sejak Tami belum bekerja di situ. Menurut teman-teman sejak perusahaan surat kabar ini didirikan hingga sekarang sudah menjadi perusahaan besar dengan oplag ratusan ribu eksemplar perhari dan tersebar diseluruh pelosok negeri. Itu sebabnya Pak Madi mengenal baik seluruh karyawan dikantor Tami.&lt;br /&gt;Sesaat kemudian Tami sudah berada dalam Katana merahnya. Disusurinya jalan-jalan ibukota yang mulai lengang, sementara gerimis masih rinai sejak sore tadi. Ibu seperti biasa pasti belum tidur karena cemas menungguku pulang, pikir Tami. Ibu juga sering mengeluh, katanya pekerjaan wartawan sama saja dengan seniman, tidak punya ritme kerja yang jelas. Sering tidur malam dan bangun siang. Angin malam bertiup perlahan, sepotong bulan mengintip di langit gelap. Tami ingin segera sampai di kamar tidurnya. *****&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Rapat redaksi hari ini sungguh membosankan sekali. Tidak seperti biasanya Tami terduduk lesu di kursinya. Dia tidak berselera mengikuti debat redaksi kali ini. Mungkin Tami lelah, akhir-akhir ini kondisi politik tidak menentu, berbagai macam issue bermunculan, begitu banyak berita dan nara sumber yang harus dikejar tapi semua sering membingungkan, tidak jelas mana yang benar. Hari-hari ini Tami sering merasa terkecoh. Sebagai reporter bidang liputan politik jelas kondisi sekarang melelahkan sekali. Apalagi Tami tergolong reporter andalan di kantornya. Ia sudah mulai bekerja sejak masih kuliah. Itu sebabnya dia cukup terlatih dan berpengalaman. Belum lagi memang Tami punya banyak kelebihan, cerdas dan cekatan. Hasil liputannya selalu mengagumkan. Tulisan- tulisannya pun tak pernah membosankan dengan analisa yang dalam. Karena itu Tami cukup diperhitungkan oleh perusahaan. Masa depan cerah, begitu goda teman-temannya. Tapi Tami tidak peduli, yang penting ia menyukai bidang pekerjaannya. Apalagi perusahaan memberinya imbalan lebih dari cukup atau setidaknya sebandinglah dengan kerja kerasnya.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Selesai rapat Tami kembali ke mejanya. Dia bersyukur karena Mas Iqbal tidak memberinya tugas liputan hari ini, itu berarti ada waktu luang sejenak karena beberapa tugas sudah diselesaikannya semalam. Sesaat dibukanya komputer di meja kerjanya. Ada beberapa email yang masuk, termasuk dari Nisa sahabatnya sejak di bangku kuliah. Tami membaca pesan singkat, "Tami yang sholihat..., pekerjaan seorang wanita harus dapat menunjang bertambahnya keimanan dan ketakwaan kepada Allah dan hendaknya kita tetap memiliki ahlak yang baik dan mampu menjaga diri". Tami tertegun, lagi-lagi Nisa mengingatkannya.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sambil menikmati es jeruknya, Tami melepas kebosanan di kantin kantor. Di saat bukan jam makan seperti ini, kafe memang tidak begitu ramai. Ia bisa lebih tenang sambil memandang taman gedung yang asri. Sesaat email Nisa mengganggu pikirannya. Unik memang persahabatan mereka, sejak masih di universitas mereka sering jalan dan diskusi bersama, tapi Nisa berbeda, kerudung dan sikapnya membedakan ia dengan yang lainnya. Sampai sekarang pun mereka masih bersahabat meski tidak sering lagi bertemu. Nisa sekarang menjadi dosen di universitas mereka dulu. Dibandingkan Tami, dari segi penghasilan jelas Nisa tertinggal jauh. Tami sering heran kenapa Nisa tidak mencoba menawarkan ijazahnya ke perusahaan-perusahaan besar. Mereka sama-sama punya IPK yang tinggi, kemampuan bahasa asing yang baik, dan pengalaman organisasi yang segudang. Tentu tidak akan sulit juga buat Nisa mencapai lebih dari yang ia dapat sekarang. Nisa juga memang mahasiswi berprestasi dengan segala macam kelebihannya. Tapi setiap kali Tami menanyakan masalah ini pada Nisa, ia cuma tersenyum. "Aku ingin punya waktu lebih banyak buat Bang Hanif dan anak-anak..." begitu jawabnya. Nisa memang sudah menikah, bahkan sejak beberapa saat sebelum ia lulus kuliah. Sekarang sudah ada Ikhsan dan Urfi, buah hati mereka.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Tami mengakui persahabatannya dengan Nisa banyak memberinya hikmah. Sering disaat Tami lalai Nisa mengingatkannya. Tidak jarang saat Tami berada ditengah kesibukannya mengejar berita ada sepotong pesan Nisa lewat radio panggilnya "Waktunya Shalat Dzhur, Tam...", atau lewat email dan pesan-pesan singkat lain yang masuk di perekam telepon genggamnya. Nisa memang tidak pernah bosan mengingatkan meski Tami sangat sibuk dan sulit sekali dihubungi. Nisa bilang sesama saudara memang harus saling mengingatkan dalam kebaikan, itulah esensi persaudaraan dalam Islam. Pantas saja Nisa selalu gencar mengingatkannya. Sejak dulu Nisa memang sangat menginginkan kebaikan buat orang lain, meski dia sendiri sering repot dibuatnya. Ah, Nisa terbuat dari apa sih hatimu..bisik Tami. *****&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Selasa siang di kantin kampus. Tami dan Nisa menikmati gado-gado favorit mereka berdua. Pedas- manis dengan harum perasan jeruk limau yang banyak. Dan tentu saja buatan Mbak Sum yang masih setia berjualan di kampus. Tidak putus obrolan mereka diselingi canda dan cerita nostalgia di bangku kuliah. Hari ini Tami memang mendapat tugas mewawancarai seorang tokoh pengamat politik yang juga pengajar di universitas mereka. Tentu saja kesempatan ini disambutnya dengan baik. Sekalian nostalgia di kampus dan bertemu teman-teman lama, Nisa terutama, pikir Tami. Kebetulan hari ini Nisa juga ada jadwal mengajar. Jadilah mereka janjian bertemu. Satu kesempatan langka ditengah kesibukan mereka masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;"Kelihatannya kamu tambah sibuk sekarang Tam. Hati-hati lho jangan terlalu asyik berkarier. Kapan menyusul aku dan Bang Hanif?" Nisa tersenyum memandangnya. "Ah, aku kan baru 29, masih banyak yang ingin aku kejar", Tami berkelit sambil pura-pura asyik mengaduk es kelapa mudanya. Pertanyaan yang sering ditanyakan ibu juga, pikirnya. "Tami, manusia perlu berikhtiar dan berencana, meski pada akhirnya Allah juga yang menentukan semuanya. Kalau kita sudah berikhtiar tapi belum juga mendapatkan, itu lain lagi ceritanya. Aku tidak ingin kamu menyesal Tam..". Nisa masih bijak seperti dulu, bahkan rasanya tambah dewasa sekarang. "Iya deh, aku memang terlalu asyik dengan pekerjaan. Jangan bosen ingetin aku ya...". Tami menyerah. Nisa memang benar. Ibu juga sering khawatir. Apalagi sekarang Tami sering mendapat tugas liputan beberapa hari keluar kota atau bahkan ke luar negeri. Seperti minggu lalu. Kesibukan Tami semakin padat.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Obrolan mereka siang itu semarak dengan berbagai topik. Termasuk tentang karier seperti yang sebenarnya sudah sering Nisa ceritakan. Tentang syarat-syarat wanita bekerja. Tentang keseimbangan antara pemenuhan hak keluarga dan pekerjaan. Tentang harus menghindari campur baur yang berlebihan. Tentang pakaian. Dan tentang pekerjaan yang harus sesuai dengan fitrah kewanitaan.&lt;br /&gt;"Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa pekerjaan seorang jurnalis tidak baik dalam Islam. Tapi, please Tam..., semua ada aturan mainnya. Dien kita begitu sempurna mengatur semuanya. Jangan abaikan sinyal-sinyal itu. Untuk kebaikan kita juga", Nisa berbicara perlahan dan hati-hati sekali.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Entah mengapa siang itu semua terasa lain di telinga Tami. Sepertinya suara Nisa lain dari biasanya. Atau apa karena sebelumnya Tami tidak pernah terlalu menggubrisnya. Wah, apa jadinya kalau aku tidak bersahabat dengan Nisa. Mungkin aku sudah semakin terseret dengan segala macam kesibukan kerja, pikir Tami. Makan siang bersama di kafe itu jadi semakin nikmat rasanya.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sementara suasana kampus masih seperti dulu. Selalu ramai, hidup dan meriah. Selalu ada wajah- wajah baru menggantikan yang lama. Datang dan pergi silih berganti. Ah, seperti juga kehidupan ini. Tidak ada yang abadi. Hanya Allah dan kehidupan kelak yang tidak akan pernah berubah. Kekal selamanya. Angin semilir menyentuh mereka. Matahari cerah di atas sana. Langit yang biru jernih berhias gumpalan-gumpalan awan putih yang menakjubkan. Indah. Seindah persahabatan mereka. "Allah lindungi kami dari cinta dunia, yang semakin menjauhkan kami dariMu, yang mengeraskan hati dan melupakan kami akan hari pertemuan dengan-Mu...".Doa Nisa di ujung shalat jamaah Dzhuhurnya bersama Tami. *****&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Adzan Isya sudah agak lama berlalu. Langit gelap. Hujan gerimis perlahan menjadi lebat. Tami bergegas meninggalkan sebuah gedung. Sejak siang tadi dia menunggu seorang tokoh masyarakat di sana, ada berita yang harus dia buat sehubungan dengan peran tokoh tersebut di masyarakat. Dengan kelihaiannya, akhirnya Tami bisa juga bertemu tokoh tersebut, meski harus berbelit-belit dan menunggu cukup lama. Itulah konsekuensi pekerjaan, tapi aku puas bisik Tami, ada beberapa pernyataan yang bisa menjadi berita besar. Sekarang harus segera kembali ke kantor. Berita ini harus segera dirampungkan.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Tami berlari tergesa-gesa menuju tempat parkir. Halaman gedung sudah sepi dan agak gelap. Mungkin karena hujan dan suasana kota yang sedang tidak menentu. Orang-orang cenderung cepat pulang dan tidak keluar rumah jika tidak perlu benar. Ada cemas yang tiba-tiba menyelinap. Ah, kenapa tadi aku tidak pulang saja bareng teman-teman wartawan yang lain, sesal Tami. Mereka pulang lebih awal, tapi Tami bertahan, dia berharap masih bisa mendapatkan informasi tambahan. Tami bergidik, sesaat dia ingat berita-berita tentang kriminalitas ibukota yang meningkat, tentang preman-preman yang semakin nekat. Tapi aku harus pulang, keluhnya. Dia berlari menembus hujan. Tadi siang pelataran parkir gedung ini penuh mobil, karena tidak mau repot akhirnya Tami memutuskan parkir di sebelah gedung tersebut, sebuah bangunan besar yang sedang dikerjakan tapi agaknya terbengkalai tidak diteruskan, ditinggalkan separuh jalan. Puing-puing berserakan dimana- mana. Lagi-lagi Tami menyesal.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Di bawah pohon besar, di sisi sebuah bedeng tempat berteduh pekerja bangunan yang sepertinya sudah lama ditinggalkan begitu saja, Tami memarkir mobilnya. Tadi siang masih ada beberapa mobil lain yang parkir di situ juga, tapi malam ini tinggal satu saja, Katana merah Tami. Sesampainya di sisi mobil di bawah pohon, Tami sedikit bernafas lega. Dikibas-kibaskannya air hujan yang membasahi rambutnya. Jeans nya pun agak basah juga. Sesaat dia mendengar suara tawa-tawa dari dalam bedeng, Tami bergidik lagi segera ia memasukan anak kunci ke pintu mobilnya. Tiba- tiba ada beberapa lelaki keluar dari bedeng itu. Penampilannya seperti preman saja. Tami kaget, anak kunci jatuh dari tangannya, Tami meraba-raba di tanah. Gugup dan gelap semakin menyulitkan ia menemukannya.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;"Cari apa Mbak ?",laki-laki itu mendekat. "Nggak...ggak...", Tami semakin gugup dan cemas. Perasaannya semakin tidak enak. "Jangan takut, kami mau bantuin koq", kata salah seorang diantara mereka diikuti tawa yang lain. Sekilas ada empat orang yang Tami lihat. Dua diantaranya berjalan limbung, mungkin karena pengaruh minuman keras. "Boleh juga..." Tami mendengar bisikan itu dari salah seorang diantara mereka. Ah, apa yang mereka inginkan, kamera Nikon besar yang aku pegang ini, atau ... Tami tersentak ketika salah seorang berusaha menyentuhnya. Seluruh tubuhnya lemas dan gemetaran, anak kunci belum juga ditemukan. "Apa-apain ini !",Tami berusaha menghardik dengan tegas. Tapi mereka semakin berani saja bahkan ada yang menarik tangannya, keras sekali. Tami berontak. Dengan segala kekuatan yang tersisa Tami menjerit minta tolong sekerasnya. Tapi Tami terlalu lemah, suaranya seperti ditelan puing-puing yang berserakan dan gemuruh hujan yang semakin deras. Tami terus meronta dan menjerit sekuatnya. Allah tolong saya..., jerita hatinya tak henti. &lt;p&gt;Sesaat tarik menarik terjadi diantara mereka. Di saat tenaga Tami sudah semakin habis dan lemah, tiba-tiba ada suara yang menyentak "Hei..ada apa ini? Siapa kalian!", ada dua orang berlari menghampiri mereka. Antara sadar dan tidak Tami mengenali dari seragamnya, satpam gedung sebelah. Di belakang mereka terlihat berlari beberapa orang lagi. Keempat lelaki setengah mabuk itu langsung berhenti menarik Tami. Tami terjatuh lemas. Tidak ada sedikitpun sisa tenaga lagi yang ia miliki. Bajunya koyak dan basah kuyup, tapi ia masih sempat bersyukur "Allah...terima kasih, alhamdulillah". Setelah itu, Tami tidak ingat apa-apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Ketika sadar Tami sudah berada di suatu ruangan yang terang benderang. Ada beberapa orang di situ, termasuk seorang ibu yang sedang membersihkan lecet-lecet di lengannya. Tami tersentak ketika sadar dan ingat kejadian yang baru menimpanya. "Tenang Dik, sudah aman di sini..". Ibu itu mengusap rambutnya perlahan. Tami ingat ibunya di rumah, tangisnya tak terbendung lagi. Ibu itu memeluknya sambil menenangkan. Rupanya ia karyawati gedung yang kebetulan belum pulang kantor dan membantu merawatnya. "Sudahlah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, bersyukurlah kepada Allah karena Ia masih melindungi adik".Tami semakin terisak, pantaskah saya menerima pertolongan-Mu ya Allah..., shalat pun masih banyak yang saya tinggalkan. "Kalau ada yang sakit, mari saya antar ke dokter", ibu itu berkata lembut sambil menyodorkan segelas air putih. Tami menggeleng, meski kaki dan tangannya terasa memar-memar. Air putih itu memulihkan sedikit tenaganya. "Terima kasih, saya ingin pulang, Bu..."&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Setelah lukanya diolesi betadine dan istirahat secukupnya, Tami pulang sendirian. Sebenarnya ibu yang baik hati dan suaminya, yang ternyata sekantor itu, memaksa ingin mengantarnya pulang. Tapi hari sudah terlalu malam, pasti anak-anak mereka sudah menunggu di rumah, pikir Tami. Apalagi arah rumah mereka berlawanan. Tami juga sudah merasa kuat dan lebih enak. Sakit karena lecet dan memar di sekujur tubuhnya terhapus oleh rasa syukurnya yang dalam. Tidak henti Tami mengucapkan terima kasih pada semuanya. Tami merasa berhutang budi sekali.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Malam semakin larut. Hujan sudah berganti terang. Namun sisa-sisa hujan masih menyisakan dinginnya. Bulan purnama yang tadi tertutup awan tebal, sekarang mulai berpendar-pendar. Jalan- jalan kota sudah semakin lengang meski dihiasi lampu-lampu jalan. Diperjalanan pulang, air mata menetes lagi di pangkuan Tami yang letih. Hatinya tak henti mengucap syukur kepada Allah. Mungkin benar kata Nisa, semua harus ada akhirnya... (er)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32231529-115479003398566920?l=cerpenislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenislami.blogspot.com/feeds/115479003398566920/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32231529&amp;postID=115479003398566920' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115479003398566920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32231529/posts/default/115479003398566920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenislami.blogspot.com/2006/08/cerpen-islami-tiba-saatnya.html' title='[cerpen islami] Tiba Saatnya'/><author><name>gdz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
